Dispusip Sleman Dukung Kualitas Literasi Tanpa Anggaran

2 hours ago 2

Harianjogja.com, SLEMAN— Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Sleman tetap mendorong peningkatan literasi masyarakat Sleman meskipun menghadapi efisiensi anggaran pada 2026. Upaya peningkatan literasi Sleman ini dilakukan untuk mendukung visi misi Bupati Sleman dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM), ketahanan ekonomi, serta pelestarian budaya lokal melalui gerakan literasi.

Kepala Dispusip Sleman Shavitri Nurmala Dewi menjelaskan kebijakan efisiensi anggaran berdampak langsung terhadap sejumlah program dan kegiatan yang dirancang oleh Dispusip Sleman pada tahun anggaran 2026. Kondisi tersebut membuat beberapa agenda pengembangan literasi harus disesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang lebih terbatas.

“2026 kami anteng, separuh ndlosor. Ada efisiensi,” kata Shavitri dihubungi, Jumat (6/3/2026).

Meski menghadapi efisiensi anggaran, Dispusip Sleman tetap mengupayakan penguatan literasi masyarakat. Menurut Shavitri, Sleman memiliki fondasi yang kuat dalam pengembangan literasi sehingga tidak memulai dari titik awal dalam mewujudkan visi “Sleman 2030: Pionir Literasi Masa Depan”.

Sejumlah capaian sebelumnya menjadi modal penting dalam pengembangan literasi Sleman. Salah satunya melalui penguatan perpustakaan desa yang kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat meminjam buku, tetapi juga bertransformasi menjadi co-working space dan pusat pemberdayaan masyarakat.

Selain itu, Dispusip Sleman juga mengembangkan digitalisasi kearsipan daerah. Modernisasi sistem pengelolaan arsip ini dilakukan agar memori kolektif daerah tetap terjaga sekaligus memudahkan akses informasi bagi generasi mendatang.

Program lain yang terus diperkuat adalah Sleman Membaca (E-Library). Aplikasi perpustakaan digital tersebut dioptimalkan untuk menjangkau masyarakat di wilayah pelosok serta generasi milenial dan generasi Z yang semakin akrab dengan platform digital.

Upaya peningkatan literasi Sleman juga dilakukan melalui penguatan literasi berbasis komunitas. Program ini melibatkan kolaborasi aktif dengan pegiat literasi, sekolah, serta taman bacaan masyarakat (TBM) yang tersebar di seluruh kapanewon di Kabupaten Sleman.

Meskipun telah memiliki reputasi sebagai Kabupaten Literasi yang diakui secara nasional, Pemkab Sleman kini menghadapi tantangan baru berupa disrupsi digital yang mengubah pola konsumsi informasi masyarakat.

Shavitri mengidentifikasi salah satu kendala utama adalah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap gawai yang lebih banyak digunakan untuk konsumsi konten secara pasif. Padahal, transformasi literasi masa depan menuntut masyarakat tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi produsen konten yang kreatif dan informatif.

Menurutnya, tantangan literasi saat ini tidak lagi sekadar kemampuan membaca. Literasi masa depan juga mencakup kecakapan dalam mengelola data serta kemampuan menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bijak.

Selain perubahan perilaku digital, ancaman penyebaran informasi palsu atau hoaks juga menjadi perhatian serius dalam peta jalan literasi Sleman 2030. Kemampuan masyarakat dalam memilah informasi di tengah derasnya arus data menjadi standar baru agar fondasi intelektual masyarakat Sleman tetap terjaga.

Upaya tersebut sekaligus mendukung visi Bupati Sleman dalam meningkatkan kualitas SDM melalui akses informasi yang inklusif dan berkualitas.

Di sisi lain, tantangan infrastruktur juga masih dihadapi dalam pengembangan literasi Sleman. Kesenjangan akses fasilitas literasi yang belum merata hingga tingkat padukuhan masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah.

Dispusip Sleman juga menyoroti pentingnya mengubah stigma masyarakat terhadap kearsipan yang selama ini kerap dianggap hanya sebagai tumpukan dokumen lama. Padahal, arsip memiliki nilai strategis sebagai sumber data yang penting bagi pengambilan kebijakan dan penelitian di masa mendatang.

Untuk menjawab berbagai tantangan tersebut, Dispusip Sleman menyiapkan strategi pengembangan literasi melalui program Sleman Literary Hub. Program ini dirancang sebagai ruang kolaborasi bagi pemikir, penulis, dan inovator dengan menghadirkan festival literasi berskala internasional.

Melalui semangat Nyawiji dan gotong royong, pemerintah daerah berharap investasi jangka panjang dalam pengembangan literasi Sleman mampu mengubah minat baca masyarakat menjadi keterampilan ekonomi yang berdampak pada peningkatan kesejahteraan warga Sleman.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news