Dokumenter Reuni Oasis Tayang di Indonesia September 2026

2 hours ago 2

Jumali

Jumali Jum'at, 04 September 2026 10:07 WIB

Harianjogja.com, JOGJA—Penggemar Oasis di Indonesia mendapat kesempatan menyaksikan kisah reuni Liam Gallagher dan Noel Gallagher melalui layar lebar. Dokumenter “Oasis: Don’t Look Back In Anger” dijadwalkan tayang secara terbatas di bioskop Indonesia pada 11-13 September 2026.

Film tersebut merekam perjalanan Oasis ketika kembali ke panggung melalui tur Oasis Live ’25, setelah Liam dan Noel berpisah selama bertahun-tahun.

Penayangan di Indonesia dikonfirmasi Disney Indonesia pada Kamis (3/9/2026). Bersamaan dengan pengumuman tersebut, trailer dan poster terbaru dokumenter juga diperkenalkan kepada publik.

Bagi penggemar Oasis, film ini menawarkan pengalaman yang berbeda dari sekadar dokumentasi konser. Kamera mengikuti perjalanan band sejak persiapan tur, latihan, aktivitas di belakang panggung, hingga penampilan mereka di hadapan penonton.

Disney menyebut dokumenter tersebut juga menghadirkan wawancara bersama Liam dan Noel untuk pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun. Momen ini menjadi salah satu bagian paling dinantikan karena hubungan kedua bersaudara itu menjadi salah satu kisah paling terkenal dalam perjalanan Oasis.

Rekam reuni Oasis dari balik panggung

Oasis mengakhiri perjalanan panjang perpecahan mereka ketika Liam dan Noel kembali tampil bersama dalam tur Oasis Live ’25 pada 2025.

Tur tersebut menjadi momentum besar bagi penggemar musik Britpop. Karena itu, “Don’t Look Back In Anger” tidak hanya memperlihatkan Oasis ketika berada di atas panggung, tetapi juga mencoba menangkap suasana dan emosi yang mengiringi kembalinya grup asal Manchester tersebut.

Penonton akan mendapatkan akses terhadap rekaman latihan, suasana backstage, hingga pertunjukan di atas panggung. Materi tersebut menjadi bagian penting karena memberikan gambaran mengenai proses di balik tur reuni yang mendapat perhatian besar dari penggemar di berbagai negara.

Dokumenter ini dibuat oleh Steven Knight, kreator dan penulis yang dikenal melalui serial “Peaky Blinders”. Sementara itu, penyutradaraan dipercayakan kepada Dylan Southern dan Will Lovelace.

Keduanya sebelumnya menggarap sejumlah film dokumenter musik, termasuk “Shut Up and Play the Hits” yang mengikuti perjalanan LCD Soundsystem serta “Meet Me in the Bathroom” yang mengangkat perkembangan skena musik New York.

Produksi film melibatkan Magna Studios dan Sony Music Vision, dengan keterlibatan Sony Music Entertainment UK. Disney menjadi pihak yang membawa film tersebut ke penayangan layar lebar sebelum kemudian hadir di layanan streaming.

Wawancara Liam dan Noel jadi bagian penting

Salah satu alasan dokumenter ini menarik perhatian adalah kesempatan melihat Liam dan Noel dalam satu wawancara bersama.

Keduanya memiliki sejarah hubungan yang penuh konflik. Perselisihan mereka menjadi salah satu faktor yang berujung pada berakhirnya perjalanan Oasis pada 2009.

Karena itu, pertemuan kembali dua bersaudara tersebut bukan sekadar reuni sebuah grup musik. Bagi banyak penggemar, kembalinya Liam dan Noel juga menjadi simbol bahwa salah satu perseteruan paling terkenal dalam sejarah musik Inggris akhirnya menemukan jalan untuk berakhir.

Disney menggambarkan film tersebut sebagai dokumentasi mengenai pengalaman band sekaligus penggemarnya. Ceritanya tidak berhenti pada kesuksesan konser, tetapi ikut mengeksplorasi dampak emosional musik Oasis terhadap berbagai generasi dan penonton di seluruh dunia.

Hal itu membuat dokumenter ini berpotensi menarik bukan hanya bagi penggemar yang mengikuti Oasis sejak era 1990-an. Generasi yang mengenal Oasis melalui lagu-lagu seperti “Wonderwall” dan “Don’t Look Back In Anger” juga dapat melihat bagaimana musik mereka tetap memiliki tempat puluhan tahun setelah masa kejayaan awal band.

Digarap tim peraih Oscar

Dari sisi produksi, film ini juga didukung sejumlah nama yang memiliki pengalaman besar di industri perfilman.

Tim tata suara melibatkan James Mather dan Tarn Willers, yang masing-masing memiliki pengalaman sebagai peraih Academy Awards. Sinematografi ditangani Haris Zambarloukos, sedangkan proses penyuntingan dikerjakan George Cragg dan Martina Zamolo.

Film berdurasi sekitar dua jam tersebut dijadwalkan hadir secara terbatas di bioskop sebelum melanjutkan perjalanan ke platform streaming. Disney menyatakan film ini akan tersedia secara eksklusif di Disney+ untuk sejumlah wilayah setelah periode penayangan di bioskop.

Untuk penggemar Oasis di Indonesia, periode 11-13 September 2026 menjadi kesempatan untuk melihat langsung kisah di balik Oasis Live ’25 di layar lebar.

Dengan materi latihan, backstage, pertunjukan, serta wawancara Liam dan Noel, “Oasis: Don’t Look Back In Anger” menawarkan lebih dari sekadar rekaman konser. Film tersebut menjadi dokumentasi mengenai bagaimana salah satu band Britpop paling berpengaruh kembali menyatukan dua personel utamanya dan bertemu lagi dengan jutaan penggemarnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news