Enam Suplemen yang Dinilai Kurang Aman bagi Kesehatan Jantung

10 hours ago 6

Harianjogja.com, JAKARTA—Suplemen kerap dianggap sebagai cara praktis untuk menjaga kesehatan jantung. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa beberapa jenis suplemen justru berpotensi membahayakan kesehatan jantung jika dikonsumsi tanpa pengawasan tenaga medis.

Mengutip laporan Eating Well pada Sabtu (21/2) waktu setempat, para ahli kesehatan menyarankan agar konsumsi suplemen dilakukan dengan bimbingan profesional kesehatan. Hal ini terutama penting bagi seseorang yang memiliki riwayat gangguan jantung atau berisiko tinggi mengalami penyakit kardiovaskular.

Sejumlah ahli gizi bahkan mengingatkan ada enam jenis suplemen yang tidak disarankan untuk menjaga kesehatan jantung karena berpotensi menimbulkan efek samping tertentu jika dikonsumsi dalam dosis tinggi atau tanpa pengawasan.

  1. Vitamin E

Vitamin E dikenal sebagai antioksidan yang sering dikaitkan dengan manfaat bagi kesehatan jantung. Namun, konsumsi vitamin E dalam dosis tinggi melalui suplemen justru dapat menimbulkan risiko kesehatan.

Ahli Gizi Bess Berger, RDN menjelaskan bahwa pada masa lalu vitamin E memang dipercaya dapat membantu menjaga kesehatan jantung. Akan tetapi, sejumlah penelitian terbaru menunjukkan dosis tinggi vitamin E dalam bentuk suplemen dapat meningkatkan risiko gagal jantung serta stroke hemoragik.

Pendapat tersebut juga disampaikan Ahli Gizi Violeta Morris, M.S., RDN. Ia menyebutkan rekomendasi untuk tidak mengonsumsi suplemen vitamin E didasarkan pada dua uji klinis yang menemukan peningkatan risiko stroke hemoragik pada konsumsi 111 hingga 200 IU per hari.

Akibat temuan tersebut, Gugus Tugas Layanan Pencegahan Amerika Serikat (USPSTF) merekomendasikan agar suplemen vitamin E tidak digunakan sebagai upaya pencegahan penyakit kardiovaskular. Sebagai alternatif, masyarakat dianjurkan memperoleh vitamin E dari makanan alami seperti minyak sayur, kacang-kacangan, biji-bijian, serta sayuran hijau.

  1. Kalsium

Suplemen kalsium juga termasuk yang perlu diperhatikan. Meski dikenal bermanfaat untuk menjaga kesehatan tulang, konsumsi suplemen kalsium tertentu dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, terutama pada wanita pascamenopause yang sehat.

Morris mengutip sebuah studi yang menganalisis 13 uji coba terkontrol secara acak. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa suplemen kalsium dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 15 persen pada wanita pascamenopause yang sehat.

“Kalsium dapat berkontribusi pada kalsifikasi arteri [penumpukan kristal kalsium keras pada dinding arteri], meningkatkan risiko penyakit jantung," tambah Berger.

Meski demikian, bukan berarti suplemen kalsium tidak boleh dikonsumsi sama sekali. Dalam beberapa kondisi, suplemen ini tetap diperlukan untuk mencegah masalah kesehatan seperti osteoporosis, terutama bagi orang yang kesulitan memperoleh kalsium dari makanan seperti produk susu, sayuran hijau gelap, jus yang diperkaya, maupun susu non-susu. Karena itu, konsultasi dengan tenaga kesehatan tetap disarankan sebelum mengonsumsinya.

  1. Suplemen Energi atau Penurun Berat Badan

Berger menyebut banyak suplemen energi maupun suplemen penurun berat badan mengandung stimulan seperti kafein atau senyawa yang mirip efedra.

Pada dasarnya, kafein dalam jumlah moderat dari kopi atau teh masih dianggap relatif aman bagi kesehatan jantung. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan konsumsi kopi dan teh dalam jumlah sedang dapat membantu menurunkan risiko penyakit jantung.

Namun, konsumsi kafein dalam bentuk suplemen dapat memberikan dampak berbeda karena kandungannya lebih terkonsentrasi.

“Hal ini dapat menyebabkan tekanan pada sistem kardiovaskular Anda, peningkatan tekanan darah dan detak jantung, serta berpotensi meningkatkan risiko penyakit jantung,” kata Berger.

  1. Beta Karoten

Beta karoten merupakan antioksidan yang biasanya diperoleh dari makanan seperti sayuran berwarna kuning, oranye, atau hijau, serta tomat. Walau bermanfaat jika berasal dari makanan, konsumsi beta karoten dalam bentuk suplemen dapat menimbulkan risiko tertentu bagi kesehatan jantung.

Gugus Tugas Layanan Pencegahan Amerika Serikat (USPSTF) meninjau berbagai bukti ilmiah dan menyimpulkan bahwa beta karoten dalam bentuk suplemen dapat berbahaya, terutama bagi perokok.

Penelitian menunjukkan konsumsi suplemen beta karoten sebesar 20 hingga 30 miligram setiap hari berkaitan dengan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular pada perokok.

“Potensi bahaya dari suplementasi beta karoten dosis tinggi mungkin disebabkan oleh interaksi dengan senyawa lain dalam asap tembakau,” ucap Morris.

  1. Akar Manis

Suplemen akar manis atau licorice kerap dipromosikan untuk berbagai manfaat kesehatan seperti membantu pencernaan, meredakan batuk, hingga mengatasi gejala menopause. Namun, bukti ilmiah yang mendukung manfaat tersebut masih terbatas.

Dalam konteks kesehatan jantung, beberapa penelitian justru menunjukkan bahwa suplemen licorice dapat memberikan dampak negatif.

“Suplemen licorice, atau suplemen yang mengandung licorice sebagai bahan sekunder, harus dihindari untuk kesehatan jantung karena mengandung glisirizin, enzim yang dapat menyebabkan tubuh menahan natrium dan menyebabkan tekanan darah tinggi,” kata Ahli Gizi Michelle Routhenstein, M.S., RD, CDCES, CDN.

Kondisi tersebut dapat menjadi lebih berbahaya bagi seseorang yang telah memiliki tekanan darah tinggi sebelumnya.

  1. Beras Ragi Merah

Routhenstein juga menyarankan masyarakat berhati-hati terhadap suplemen beras ragi merah yang sering dipasarkan sebagai penurun kolesterol.

"Bahan aktif dalam beras ragi merah yang membantu menurunkan kolesterol disebut monacolin K, yang dikaitkan dengan risiko tinggi kerusakan otot, ginjal, dan hati,” katanya.

Monacolin K diketahui memiliki struktur yang mirip dengan obat penurun kolesterol bernama lovastatin. Karena itu, beberapa produk suplemen beras ragi merah bahkan dilaporkan secara ilegal menambahkan lovastatin tanpa mencantumkannya secara jelas pada label produk.

Selain itu, sebagian produsen tidak mengungkapkan kadar monacolin K yang terkandung dalam produknya sehingga berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika dikonsumsi tanpa pengawasan medis.

Para ahli menilai menjaga kesehatan jantung tidak selalu harus bergantung pada suplemen. Cara yang lebih aman antara lain dengan meningkatkan aktivitas fisik untuk memperkuat otot jantung dan memperlancar aliran darah ke seluruh tubuh, yang juga dapat membantu menurunkan tekanan darah, kolesterol, serta risiko serangan jantung.

Mengelola stres juga menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung karena stres dapat meningkatkan tekanan darah dan memicu peradangan. Aktivitas seperti berolahraga, bersosialisasi, tidur yang cukup, bermeditasi, atau menjalani hobi dapat membantu mengendalikan stres tersebut. Selain itu, kualitas tidur perlu diperhatikan karena kurang tidur dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi serta memperburuk kesehatan jantung.

Para ahli juga menyarankan masyarakat memperbanyak konsumsi makanan yang menyehatkan jantung. Pola makan yang kaya buah dan sayuran diketahui berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung, kanker, dan diabetes. Selain itu, konsumsi biji-bijian utuh, protein tanpa lemak, serta minyak nabati non-tropis juga dapat membantu menjaga kesehatan jantung dalam jangka panjang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news