Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. / Antara
Harianjogja.com, JAKARTA—Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik berpotensi berdampak pada kebijakan energi di Indonesia. Pemerintah membuka kemungkinan menaikkan harga BBM subsidi apabila tekanan terhadap anggaran negara semakin besar.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM dapat menjadi langkah yang tidak terhindarkan jika lonjakan harga minyak global membuat beban subsidi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) membengkak.
Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai kebijakan agar defisit APBN tetap berada dalam batas aman dan tidak melampaui ambang batas 3%.
Ia menuturkan bahwa harga minyak dunia merupakan faktor sensitif terhadap kebutuhan subsidi energi. Dalam asumsi makro APBN tahun ini, harga minyak dipatok di kisaran US$70 per barel.
Namun pemerintah telah melakukan simulasi apabila harga minyak meningkat jauh di atas asumsi tersebut.
Kajian Jika Harga Minyak Tembus US$92
Purbaya mengatakan pemerintah telah melakukan berbagai kajian apabila harga minyak dunia menyentuh level US$92 per barel. Kondisi tersebut dinilai dapat memberi tekanan signifikan terhadap belanja subsidi energi.
Meski demikian, ia menilai kenaikan harga minyak tidak otomatis membuat perekonomian Indonesia terpuruk. Pemerintah memiliki pengalaman menghadapi lonjakan harga minyak yang jauh lebih tinggi di masa lalu.
"Jadi kami punya pengalaman mengatasi itu. Kalau memang anggarannya enggak kuat sekali, enggak ada jalan lain, ya kami share dengan masyarakat sebagian. Artinya ada kenaikan BBM, kalau emang harganya tinggi sekali," terang Purbaya kepada wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Purbaya tidak merinci secara pasti pada level harga minyak berapa pemerintah akan mengambil keputusan menaikkan harga BBM.
Defisit APBN Berpotensi Melewati 3%
Pemerintah saat ini terus menyiapkan berbagai langkah penyesuaian agar defisit APBN tetap terkendali. Salah satu opsi yang disiapkan adalah melakukan penyesuaian belanja pemerintah di berbagai sektor.
Berdasarkan simulasi yang dilakukan pemerintah, defisit APBN berpotensi meningkat hingga sekitar 3,6% hingga 3,7% apabila harga minyak dunia bertahan di kisaran US$92 per barel sepanjang tahun.
"Kami sudah exercise, kalau harganya US$92 selama setahun rata-rata, kan APBN setahun, maka defisit [APBN] jadi 3,6% lebih. Nah kalau itu kami akan melakukan langkah-langkah supaya itu tidak terjadi. Bisa penghematan anggaran yang lain kan," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis

7 hours ago
5

















































