Hindari Konflik, Eksportir DIY Alihkan Jalur Ekspor ke Luar Suez

5 hours ago 2

Hindari Konflik, Eksportir DIY Alihkan Jalur Ekspor ke Luar Suez Foto ilustrasi kerajinan. / Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY mengungkapkan bahwa para eksportir kerajinan lokal kini mulai melakukan rekayasa jalur pengiriman barang. Langkah ini diambil sebagai respons cepat terhadap dinamika geopolitik akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang mengganggu stabilitas perdagangan internasional.

Kepala Disperindag DIY, Yuna Pancawati, menjelaskan bahwa para pelaku usaha terus mempertimbangkan rute distribusi alternatif agar arus ekspor tetap lancar di tengah ketidakpastian global.

Pengalihan rute ini menjadi krusial guna menghindari wilayah-wilayah yang terdampak langsung oleh ketegangan di kawasan Timur Tengah.

“Mungkin juga jalur-jalur alternatif untuk ekspornya itu direkayasa oleh teman-teman. Tidak melewati Terusan Suez, tapi melewati yang lainnya,” ungkap Yuna di Jogja, Senin (9/3/2026). Ia menekankan bahwa keselamatan logistik menjadi prioritas utama para eksportir saat ini.

Meski negara tujuan ekspor kerajinan asal DIY sejauh ini belum mengalami perubahan signifikan, pemerintah daerah mendorong pelaku usaha untuk mulai melirik pasar nontradisional.

Diversifikasi pasar dianggap sebagai strategi jitu untuk memperluas jangkauan perdagangan sekaligus mengurangi risiko ketergantungan pada jalur transit tertentu.

Selama ini, pengiriman ekspor menuju sejumlah negara tujuan, khususnya di kawasan Eropa, kerap melalui jalur transit di Timur Tengah.

“Sehingga mungkin yang biasanya ke Eropa, Eropa itu kan pasti mampir di Timur Tengah untuk transit. Nah, ini mungkin pasarnya. Kalaupun memang harus ke Eropa, ya transitnya tidak ke Timur Tengah,” jelasnya.

Yuna juga mengakui bahwa situasi panas di Timur Tengah mulai mempengaruhi kehadiran pembeli mancanegara dalam berbagai ajang pameran kerajinan nasional.

Sejumlah buyers internasional dilaporkan batal hadir dalam pameran furnitur besar seperti Indonesia International Furniture Expo (IPEX) maupun Jogja International Furniture and Craft Fair Indonesia (Jiffina).

Padahal, pameran Jiffina 2026 sendiri saat ini tengah berlangsung di Jogja Expo Center (JEC) hingga 10 Maret mendatang. “Yang biasanya buyers Timur Tengah itu memang hadir banyak di situ, nah ini tidak pada datang,” kata Yuna menambahkan mengenai kondisi pasar fisik saat ini.

Guna menyiasati ketidakhadiran fisik para pembeli, para pelaku usaha kerajinan di DIY kini mengoptimalkan komunikasi melalui platform digital. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DIY, nilai ekspor pada Januari 2026 mencapai 46,94 juta dolar AS dengan negara tujuan utama seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang, yang diharapkan tetap stabil melalui pemanfaatan teknologi dan jalur distribusi baru.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news