Foto ilustrasi BBM. / Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN) mengeluarkan seruan tegas agar masyarakat tidak terjebak dalam aksi aksi borong atau panic buying bahan bakar minyak (BBM).
Langkah antisipasi ini diambil menyusul merebaknya isu potensi gangguan pasokan energi global sebagai dampak dari eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang memicu kekhawatiran publik.
Ketua BPKN RI, Mufti Mubarok, meminta para konsumen untuk tetap mengedepankan rasionalitas dan tidak terpancing informasi yang belum terverifikasi kebenarannya.
Meskipun situasi geopolitik dunia sedang menghangat, pembelian BBM dalam jumlah yang melebihi kebutuhan normal justru dinilai akan memperburuk keadaan dan menciptakan gangguan distribusi di tingkat pengecer.
“BPKN mengimbau masyarakat agar tidak panik. Konsumen BBM sebaiknya tetap tenang, waspada terhadap situasi global, tetapi tidak melakukan pembelian secara berlebihan,” kata Ketua BPKN RI Mufti Mubarok dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
Fenomena aksi borong BBM ini dilaporkan sempat terjadi di beberapa titik wilayah seperti Jember, Medan, hingga Aceh, di mana warga berbondong-bondong memadati SPBU.
Mufti mengingatkan bahwa perilaku impulsif tersebut justru berisiko menimbulkan fenomena kelangkaan semu di lapangan karena stok yang tersedia terserap secara tidak proporsional oleh segelintir pihak.
Lebih lanjut, Mufti menegaskan bahwa ketahanan energi Indonesia masih sangat tangguh karena didukung oleh keragaman sumber daya domestik yang melimpah. Pemerintah juga terus diupayakan untuk hadir dalam menjaga stabilitas pasokan energi sebagai pilar utama penggerak roda ekonomi dan mobilitas masyarakat di seluruh pelosok negeri.
“Kita memiliki banyak sumber energi. Yang perlu dilakukan saat ini adalah meningkatkan efisiensi penggunaan energi, termasuk efisiensi dalam penggunaan transportasi,” ujarnya seraya menekankan pentingnya gaya hidup hemat energi di masa krisis.
BPKN juga memproyeksikan adanya pergeseran pola transportasi masyarakat dari kendaraan pribadi menuju angkutan umum sebagai bentuk efisiensi.
Oleh karena itu, para operator transportasi publik diminta segera melakukan persiapan teknis guna mengantisipasi lonjakan penumpang yang beralih moda demi menekan pengeluaran energi.
“Operator transportasi publik harus bersiap jika terjadi lonjakan pengguna. Ada kemungkinan terjadi shifting dari transportasi pribadi ke transportasi publik sebagai bentuk efisiensi penggunaan energi,” kata Mufti mengingatkan kesiapan sarana prasarana angkutan massal.
Memasuki periode krusial menjelang mudik Lebaran 2026, PT Pertamina (Persero) turut didesak untuk memperketat pengawasan jalur distribusi minyak nasional.
Kepastian stok di jalur-jalur utama mudik menjadi prioritas agar masyarakat dapat menjalani tradisi pulang kampung dengan tenang tanpa dihantui ketakutan akan kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan.
“Pertamina harus segera memastikan stok BBM di jalur-jalur mudik mencukupi sehingga masyarakat tidak khawatir dan tidak terjadi antrean panjang di SPBU,” ujarnya.
Senada dengan BPKN, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan jaminan bahwa cadangan energi nasional masih dalam kategori sangat aman.
Data tersebut diperkuat oleh pandangan pengamat energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, yang menilai ketersediaan pasokan sebenarnya mencukupi jika pola konsumsi masyarakat tetap berjalan normal tanpa adanya spekulasi berlebihan.
“Jika masyarakat membeli secara berlebihan, maka distribusi yang sebenarnya cukup bisa menjadi terganggu,” ujarnya menutup penjelasan mengenai bahaya psikologi massa dalam konsumsi energi nasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara

10 hours ago
8

















































