PDIN Jogja didorong menjadi pusat inovasi IKM kerajinan DIY untuk memperluas pasar ekspor yang tumbuh hingga 15 persen. - Istimewa.
Harianjogja.com, JOGJA—Pemerintah terus mendorong pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) sektor kerajinan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk memperluas pasar, baik di dalam negeri maupun mancanegara. Kehadiran Pusat Desain Industri Nasional (PDIN) di Kota Jogja diharapkan mampu menjadi katalisator inovasi bagi pelaku industri kreatif.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, mengatakan PDIN dirancang sebagai ruang yang fleksibel bagi pekerja kreatif untuk berkreasi tanpa terikat pola kerja formal.
"Pekerja kreatif itu tidak terbatas jam kerja. Begitu ada ide, mereka ingin langsung menuangkannya. PDIN hadir dengan fasilitas mesin dan peralatan terkini untuk mendukung ekosistem tersebut," ujar Reni dalam acara Temu Bisnis IKM Kerajinan di Jogja, Selasa (10/3/2026).
Menurutnya, DIY memiliki ekosistem industri kreatif yang lengkap sehingga berpotensi besar menjadi pusat pengembangan kerajinan nasional. Selain PDIN, wilayah ini juga didukung berbagai lembaga pengembangan industri seperti Balai Kerajinan dan Batik, Balai Kulit, Karet, dan Plastik, serta Balai Diklat Industri (BDI).
Dukungan akademis dari perguruan tinggi seperti Universitas Gadjah Mada dan Politeknik ATK Yogyakarta juga dinilai penting dalam mencetak tenaga kerja industri yang kompeten.
Selain itu, ketersediaan bahan baku lokal turut menjadi kekuatan bagi industri kerajinan DIY, mulai dari keramik di Bantul hingga kerajinan berbahan bambu dan kulit.
Meski memiliki potensi besar, Reni mengakui pelaku IKM masih menghadapi tantangan klasik, yakni pemasaran produk. Di era digital, pengrajin tidak hanya dituntut mahir memproduksi barang, tetapi juga mampu membaca kebutuhan pasar.
Salah satu strategi yang didorong adalah kemampuan menerima pesanan khusus atau custom sesuai permintaan konsumen.
Reni mencontohkan, jika terdapat pesanan dekorasi untuk kebutuhan perkantoran atau hotel di luar Jawa maupun di kawasan Ibu Kota Nusantara, pengrajin harus mampu menyesuaikan desain agar tidak selalu menonjolkan nuansa Jawa.
"Perajin harus punya strategi agar bisa menerima custom. Kita tidak bisa memaksa pembeli menerima produk apa adanya jika mereka butuh nuansa yang berbeda untuk home decor kantor atau hotel mereka," imbuhnya.
Ekspor Tumbuh 15 Persen
Kinerja ekspor IKM kerajinan juga menunjukkan tren positif. Reni menyebutkan pertumbuhan ekspor sektor ini mencapai sekitar 15 persen dengan pasar yang tersebar di berbagai negara.
Produk kerajinan dari DIY diminati di sejumlah pasar internasional seperti Jepang, Korea Selatan, kawasan Eropa, hingga Amerika Serikat dan Taiwan.
"Pasar Jepang dan Korea sangat meminati barang-barang kecil yang food grade, seperti sendok kayu mungil. Sementara untuk pasar Eropa, produk seperti keranjang dari pelepah pisang dan storage sangat laku sebagai elemen home decor," jelas Reni.
Kementerian Perindustrian juga memfasilitasi promosi produk IKM melalui pameran internasional seperti Ambiente Frankfurt.
Menurut Reni, konsistensi pelaku IKM mengikuti pameran internasional sangat penting untuk membangun kepercayaan pembeli global.
"Konsistensi itu menunjukkan kepada buyer bahwa mereka benar-benar produsen yang eksis, bukan sekadar perantara. Dengan begitu, buyer akan yakin untuk berkunjung langsung ke workshop di Jogja," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

5 hours ago
1

















































