Trump Sebut Harga Minyak Bisa Turun Jika Ancaman Nuklir Iran Berakhir

3 hours ago 5

Harianjogja.com, WASHINGTON—Harga minyak dunia yang melonjak akibat konflik Timur Tengah berpotensi turun cepat jika ancaman nuklir Iran berhasil dinetralkan. Hal itu diklaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump ketika menanggapi kekhawatiran publik terhadap kenaikan harga energi global.

Dalam wawancara dengan CNN, Donald Trump mengimbau masyarakat tidak terlalu khawatir terhadap lonjakan harga bensin yang terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurut Trump, tekanan pada harga minyak hanya bersifat sementara dan akan mereda setelah situasi keamanan kembali stabil.

"Harga minyak dalam jangka pendek, yang akan segera turun ketika ancaman nuklir Iran berakhir, adalah sebuah harga yang yang sangat kecil bagi AS, dan dunia, aman dan damai," demikian kata Trump melalui platform media sosial TruthSocial.

Lonjakan harga minyak terjadi pada perdagangan Senin (9/3/2026) pagi ketika pasar global merespons meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Kekhawatiran terhadap gangguan jalur distribusi energi dari kawasan tersebut mendorong harga minyak dunia melonjak tajam.

Data pasar menunjukkan harga minyak mentah Brent berjangka sempat mencapai 118 dolar AS atau sekitar Rp2 juta per barel, level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan ini mencerminkan sensitivitas pasar energi global terhadap konflik militer di wilayah yang menjadi salah satu pusat produksi minyak dunia.

Ketegangan tersebut meningkat setelah pada Sabtu (28/2) Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran. Salah satu lokasi yang terdampak adalah sebuah sekolah perempuan di Iran selatan yang dilaporkan menewaskan sekitar 200 siswi. Pada hari yang sama, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei juga dilaporkan terbunuh.

Perkembangan konflik itu turut meningkatkan jumlah korban secara signifikan. Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Amir Saeed Iravani menyebut total korban tewas akibat serangan tersebut kini telah melampaui 1.300 orang.

Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah serta wilayah Israel, yang semakin memperbesar eskalasi konflik di kawasan tersebut.

Amerika Serikat dan Israel sebelumnya menyatakan operasi militer itu sebagai serangan pendahuluan terhadap dugaan ancaman program nuklir Teheran.

Namun dalam perkembangan terbaru, kedua negara tersebut juga mulai menyuarakan keinginan untuk melihat adanya pergantian kekuasaan di Iran. Dinamika geopolitik tersebut terus menjadi perhatian pasar energi global karena berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan minyak dunia sekaligus menentukan arah pergerakan harga minyak dalam waktu dekat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news