1.430 Tewas, 68.900 Hilang! Warga Venezuela Protes Lambannya Bantuan

6 hours ago 3

Harianjogja.com, JOGJA— Korban jiwa akibat dua gempa bumi dahsyat yang mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026) terus bertambah. Hingga Minggu (28/6/2026), sedikitnya 1.430 orang dilaporkan meninggal dunia dan 3.238 lainnya mengalami luka-luka.

Sementara itu, puluhan ribu warga masih dinyatakan hilang, menjadikan bencana ini sebagai salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah melanda negara Amerika Selatan tersebut dalam beberapa dekade terakhir.

Wilayah yang mengalami dampak paling parah adalah negara bagian La Guaira. Di daerah pesisir yang berdekatan dengan ibu kota Caracas itu, sekitar 68.900 orang dilaporkan hilang oleh keluarga mereka. Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) memperkirakan lebih dari 6,76 juta penduduk terdampak gempa, termasuk sekitar 2 juta warga di Caracas.

Ribuan Warga Masih Terjebak di Reruntuhan

Empat hari setelah gempa terjadi, tim penyelamat masih berpacu dengan waktu mencari korban yang diduga tertimbun reruntuhan bangunan.

Di La Guaira, ratusan bangunan roboh dan menyisakan tumpukan beton, baja, serta material bangunan lainnya. Warga bersama keluarga korban terpaksa menggunakan alat seadanya, mulai dari sekop, tali hingga tangan kosong untuk mencari kerabat mereka yang belum ditemukan.

Mereka juga dibantu tim penyelamat internasional dari berbagai negara yang mulai berdatangan untuk memperkuat operasi pencarian dan evakuasi.

Namun di tengah upaya tersebut, muncul gelombang kritik dari warga yang menilai respons pemerintah berjalan lambat.

Warga Kritik Respons Pemerintah

Kemarahan warga terlihat di sejumlah lokasi bencana.

Mileidy Romero, warga yang ikut mencari korban di kota pesisir Caraballeda, mengaku kecewa karena masih banyak korban yang belum dievakuasi meski telah ditemukan sejak malam sebelumnya.

“Ada tumpukan mayat di sana dari tadi malam. Bayi-bayi yang baru lahir. Pukul 8 malam ada orang yang masih hidup di sana, dan mereka tidak berusaha menyelamatkan mereka,” ujarnya dikutip dari AP.

Keluhan serupa disampaikan Yeison Marcano yang menilai kehadiran aparat di lokasi bencana masih minim dibandingkan kebutuhan di lapangan.

“Kami sudah berada di sini selama tiga hari. Banyak yang datang hanya untuk berfoto agar terlihat sedang bekerja,” katanya.

Ribuan Personel dan Bantuan Internasional Dikerahkan

Pelaksana Tugas Presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, menyatakan lebih dari 14.000 personel militer dan kepolisian telah diterjunkan untuk membantu penanganan darurat.

Meski demikian, sejumlah warga mengaku belum merasakan kehadiran aparat secara signifikan di wilayah yang paling terdampak.

Pemerintah juga menerapkan pembatasan akses ke beberapa zona bencana dan mewajibkan izin khusus bagi pihak yang ingin memasuki area tertentu.

Di sisi lain, bantuan internasional terus berdatangan. Tim penyelamat dari Amerika Serikat, Meksiko, Brasil, Spanyol, Prancis, dan sejumlah negara lain telah tiba untuk membantu operasi pencarian.

Sebanyak 17 penerbangan yang membawa lebih dari 1.600 personel penyelamat telah mendarat hingga Sabtu. Otoritas setempat juga mengonfirmasi puluhan penerbangan tambahan akan tiba dalam beberapa hari ke depan.

Kerugian Diperkirakan Tembus Rp108 Triliun

Selain korban jiwa, dampak ekonomi akibat gempa diperkirakan sangat besar.

United Nations Development Programme memperkirakan nilai kerusakan fisik berada di kisaran US$4,7 miliar hingga US$8,7 miliar.

Sementara laporan media Spanyol menyebut total kerugian dapat mencapai US$6,7 miliar atau sekitar Rp108,5 triliun, setara hampir 6 persen produk domestik bruto Venezuela.

Kerusakan juga terjadi di Bandara Internasional Simón Bolívar, pintu gerbang utama menuju Caracas. Saat ini hanya satu landasan pacu yang masih dapat digunakan untuk operasi darurat dan distribusi bantuan.

Di perairan dekat pantai, kapal Angkatan Laut Amerika Serikat telah disiagakan untuk menerima pasien yang membutuhkan perawatan medis lanjutan.

Peluang Menemukan Korban Selamat Menipis

Lembaga kemanusiaan menegaskan 48 hingga 72 jam pertama pascabencana merupakan periode paling menentukan untuk menemukan korban selamat.

Kini, setelah memasuki hari keempat, peluang penyelamatan semakin kecil.

Glendys Delgado, warga setempat, mengatakan kondisi lingkungan mulai memburuk akibat banyaknya korban yang belum ditemukan.

“Bau kematian sudah mulai terasa. Itu akan membuat kami dan anak-anak sakit,” katanya.

Situasi tersebut semakin memperberat penderitaan masyarakat Venezuela yang selama lebih dari satu dekade terakhir telah menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan.

Di tengah keterbatasan sumber daya dan meningkatnya tekanan terhadap pemerintah, operasi pencarian masih terus dilakukan. Pejabat senior Departemen Luar Negeri AS, Jeremy Lewin, menggambarkan kondisi saat ini sebagai “perlombaan melawan waktu” untuk menemukan korban yang masih hidup di bawah reruntuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news