
Kemhan mengevaluasi total Latsarmil SPPI 2026 usai lima peserta meninggal, mencakup seleksi kesehatan, latihan fisik, dan metode pembelajaran. /Antara.
Harianjogja.com, JAKARTA—Sebanyak lima orang peserta calon Manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) meninggal dunia. Kementerian Pertahanan (Kemhan) memastikan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latihan dasar kemiliteran (latsarmil) SPPI 2026 setelah lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) meninggal dunia saat mengikuti Latihan Bela Negara dan Manajerial.
Evaluasi mencakup aspek seleksi kesehatan, pola pelatihan, hingga metode pembelajaran guna meningkatkan keselamatan peserta. Langkah tersebut merupakan tindak lanjut atas arahan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin.
Selain meninjau kembali standar pemeriksaan kesehatan peserta, Kemhan juga meminta seluruh satuan TNI penyelenggara pelatihan menyesuaikan intensitas latihan fisik dengan kondisi masing-masing peserta serta memperkuat penanganan medis selama pendidikan berlangsung.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya lima peserta SPPI 2026 yang mengikuti Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KDKMP/KNMP).
"Kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta Program SPPI Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KDKMP/KNMP) 2026 yang sedang mengikuti Latihan Bela Negara dan Manajerial," ujar Ketut dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta Pusat, Sabtu.
Lima peserta yang meninggal dunia tersebut ialah Yonanda Muhammad Taufiq dari Satdik Puslatpur Kodiklatad Baturaja, Anisa Muyassaroh dari Satdik Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan, Novia Rahmadhani Sihotang dari Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dari Satdik Yon PARAKO 465, serta Nola Dya Sari dari Satdik C Kalimantan.
Ketut menjelaskan, masing-masing peserta memiliki kondisi medis yang berbeda. Sebelum mengikuti pendidikan, seluruh peserta telah menjalani serangkaian pemeriksaan kesehatan sesuai prosedur yang berlaku.
Pemeriksaan tersebut meliputi tes laboratorium darah dan urine, tes kehamilan, rontgen toraks, elektrokardiogram (EKG), USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur tubuh, hingga kesehatan jiwa. Berdasarkan hasil pemeriksaan, seluruh peserta dinyatakan memenuhi syarat kesehatan dan layak mengikuti pendidikan dasar kemiliteran.
Meski demikian, Kemhan menegaskan proses evaluasi tetap dilakukan secara menyeluruh, mulai dari tahapan seleksi hingga pelaksanaan pendidikan, untuk memastikan keselamatan peserta menjadi prioritas utama.
Menhan Minta Evaluasi Aspek Kesehatan dan Materi Pelatihan
Ketut mengatakan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah menginstruksikan evaluasi komprehensif terhadap penyelenggaraan latsarmil SPPI, terutama pada aspek kesehatan peserta.
"Atas arahan Menteri Pertahanan, penyelenggara telah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aspek kesehatan," kata Ketut.
Menurutnya, hasil pemeriksaan kesehatan harus menjadi dasar dalam menentukan intensitas latihan fisik yang diberikan kepada peserta. Dengan demikian, setiap satuan TNI penyelenggara pelatihan diwajibkan menyesuaikan beban latihan sesuai kondisi fisik masing-masing peserta.
Selain penyesuaian latihan, Kemhan juga meminta agar pelayanan medis selama pendidikan diperkuat sehingga peserta yang mengalami gangguan kesehatan dapat memperoleh penanganan secara cepat dan optimal.
Evaluasi juga dilakukan terhadap materi pembelajaran selama latsarmil. Menurut Ketut, Menteri Pertahanan mengarahkan agar proses pendidikan disusun lebih adaptif dan edukatif, sekaligus memperhatikan kondisi psikologis peserta.
"Kegiatan juga diarahkan agar lebih adaptif, edukatif, dan memperhatikan kondisi psikologis peserta melalui metode pembelajaran yang membangun semangat kerja sama, problem solving, dan suasana yang lebih menggembirakan," ujarnya.
Dengan penyesuaian tersebut, Kemhan berharap pelaksanaan latsarmil SPPI tetap mampu membentuk karakter disiplin dan kepemimpinan peserta, sekaligus mengedepankan aspek keselamatan, kesehatan, serta efektivitas proses pembelajaran selama pendidikan berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
1

















































