Bagaimana Pemerintahan Jatuh ?
Oleh :
Tommy TRD
Magister Ilmu Politik Unand
Secara garis besar permasalahan di hampir semua pemerintahan di dunia, baik yang menganut sistem demokrasi, otokrasi, aristokrasi, monarki ataupun sistem lainnya cukup simple. Yaitu kesenjangan kepentingan antara elit dan rakyat jelata.
Elitisme dahulunya tidak terlalu menjadi permasalahan, mengingat adanya perbedaan kasta yang jelas antara kaum pekerja, dan kaum bangsawan atau elit. Namun kemudian perbedaan ini menjadi menipis, dikarenakan kepentingan elit skyrocketing, sebaliknya kaum pekerja going rock bottom.
Pada tahap awal kesenjangan ini, hanya melahirkan pemikiran-pemikiran kritis dan tajam pada masanya. Seperti mengemukanya kembali pemikiran tentang hak azazi manusia. Pemikiran tentang penghapusan perbudakan, dan berbagai pemikiran yang di luar “protokol” pada masa itu.
Dari pemikiran berubah menjadi gerakan, sehingga perbudakan dihapuskan di Amerika Serikat oleh Abraham Lincoln (akhirnya terbunuh), penentangan segregasi oleh Kennedy (juga terbunuh), negara-negara Afrika memberontak kepada negara-negara Eropa yang menguasainya ratusan tahun, dan memerdekakan diri.
Sebab paling primitif dari semua itu ? Kesenjangan kepentingan elit dan rakyat.
Sudah menjadi kodrat sebuah kekuasaan, bahwa ia akan melahirkan elitis di sekitarnya. Sekali lagi, tidak peduli apa jenis pemerintahannya.
Shah Iran jatuh karena disparitas antara elit kerajaan dan masyarakat mulai menjauh. Tsar Russia jatuh karena elitis seperti memiliki dunianya sendiri. Napoleon diasingkan karena akhirnya rakyat Perancis tidak lagi membutuhkan penaklukan.
Lalu kenapa beberapa kerajaan seperti Inggris, Spanyol, Belanda mampu bertahan ? Sederhananya kaum bangsawannya masih mampu menjaga kepentingan rakyatnya sejalan dengan kepentingan monarki. Baik dari aspek ekonomi, sosial, dll.
Dalam hal pemerintahan demokrasi pertentangan kepentingan elit dan rakyat, kalaupun tidak sampai menjatuhkan pemerintahan, namun akan memberikan turbulensi yang tidak ringan. Najib Razak di Malaysia bisa menjadi salah satu contoh terparah.
Lalu apakah sebuah pemerintahan yang aman adalah sebuah pemerintahan yang nir elit ? Tidak juga. Karena hampir tidak ada pemerintahan yang tidak memiliki unsur elit di sekelilingnya. Bahkan Kesultanan Ottoman yang perkasa dan pernah sangat makmur pun memiliki unsur elitis. Namun pertanyaannya, unsur elit yang seperti apa ?
Profesor Mearsheimer dari University of Chicago mengatakan bahwa sejarah sudah membuktikan selama para elit merawat kepentingan rakyat, maka ia tidak akan kehilangan privilege sebagai elitis.
Hal ini lama terjadi di Amerika Serikat (sebelum Trump Periode kedua), yang masyarakatnya sangat melek politik, dan mengetahui bagaimana para elitis menjalan pemerintahan AS. Contoh lain ada di Singapura, selama Lee Kuan Yew menjaga kepentingan rakyat Singapura, maka tidak ada penentangan signifikan ketika anaknya Lee Hsien Loong menggantikan.
Contoh-contoh ini menunjukan selama kepentingan elit dan rakyat tidak menuju dua kutub yang berbeda, pemerintahan memiliki stabilitas. Para elit boleh bertambah kaya, rakyat bisa menambah tabungan.
Namun apa yang terjadi saat ini, dimana hampir semua pemerintahan menghadapi turbulensi (khususnya Trump di AS), dan beberapa pemerintahan di Asia.
Salah satu permasalahan yang paling fundamental adalah perbedaan kepentingan elit dan rakyatnya. Contoh paling jelas, Trump di Amerika Serikat. Salah satu jajak pendapat yang dilakukan oleh Reuters Ipsos menunjukkan hanya 25% rakyat Amerika Serikat yang menyetujui serangan ke Iran. Penculikan Maduro ? Hanya didukung 33% rakyat Amerika. Lalu kenapa Trump tetap melakukan serangan ke Iran dan menculik Maduro ? Elit. Hasilnya Trump didemo rakyatnya sendiri.
Bagaimana dengan Indonesia ? Tidak ada bedanya. Indonesia punya elitnya sendiri di dalam dan di sekeliling pemerintahan.
Namun semestinya sejarah bisa mengajarkan bagaimana sebuah pemerintahan bisa bertahan dan memerintah dengan efektif, yakni jangan sampai kepentingan elit bertolak belakang dengan kepentingan rakyat. Cukup jaga mereka di arah yang sama, walaupun dengan jalur yang berbeda (fast lane, regular lane). Para elit boleh saja bertambah kaya, selama rakyat tidak bertambah miskin.
Belajar dari Amerika Serikat, kepentingan elit melalui lobbyist seringkali merugikan rakyat Amerika sendiri. Kepentingan elit anggaran digunakan untuk perang, karena ada bisnis senjata dan penguasaan sumber daya alam negara lain yang bisa bernilai billions dollar. Kepentingan rakyat, anggaran digunakan untuk insentif bisnis kecil, transportasi yang modern dan terjangkau.
Pernah terpikir kenapa kartel narkoba di Meksiko bisa menjadi begitu besar dan bertahan sangat lama ? Seseorang pernah menjawab dengan asal,
“mungkin mereka lebih bisa mengurus kepentingan anggotanya, dibandingkan negara (elit) mengurus kepentingan rakyatnya”.
Jawaban yang sangat usil, namun jangan menutup peluang sama sekali terhadap aspek kebenaran dari jawaban usil dan asal itu.
Memilih dan bergaul dengan elit yang tepat dengan cara yang tepat, bisa menyelamatkan sebuah pemerintahan bahkan negara. Sebaliknya, seringkali pemerintahan jatuh dan negara hancur bukan karena presidennya buruk, namun karena elit-elit yang terlalu serakah.

8 hours ago
3

















































