PADANG, KLIKPOSITIF — Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menantang penyuluh pertanian se-Sumatera Barat, mewujudkan produktifitas tanaman padi di tahun 2026.
Petani inovatif Sumatera Barat, ungkap Alex, telah memiliki metode teruji dalam mewujudkan produktifitas itu, yakni bertaman padi dengan metode Sawah Pokok Murah.
“Mendukung metode Sawah Pokok Murah ini, APBN Tahun 2026 telah mengalokasikan bantuan untuk 2.000 hektare sawah bagi petani Sumatera Barat. Jika jatah ini direalisasikan, Insya Allah, produktifitas itu mampu diwujudkan sehingga petani Sumbar tercatat sebagai penghasil beras dengan biaya produksi rendah di Indonesia,” terang Alex dengan nada optimistis.
Fenomena biaya produksi beras yang menentukan harga jual itu diungkapkan Alex, saat bersilaturahmi sekaligus buka puasa bersama Penyuluh Pertanian se-Sumatera Barat, di UNP Hotel & Convention, Sabtu sore.
Hadir perwakilan penyuluh dari Kota Padang, Kabupaten Dharmasraya, Pesisir Selatan dan Agam. Juga hadir Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) di Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti serta jajaran.
Pentingnya harga yang bersaing dengan produktifitas tinggi itu disampaikan Alex, menyoroti stok beras dalam negeri yang tersimpan di gudang Bulog per tanggal 22 Desember 2025, telah menembus 3,5 juta ton. Ini merupakan angka terbesar sepanjang sejarah.
“Pertanyaannya, jika produktifitas panen terus ditingkatkan, sementara konsumsi tetap, maka pertanyaannya adalah stok cadangan beras kita ini mau diapakan,” tanya Alex.
“Untuk di ekspor, masih kalah bersaing dengan beras Vietnam yang harga jualnya jauh lebih murah,” tambah Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat itu.
Alex mencontohkan harga jual beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar Rp12.500 per Kg. Beras SPHP ini memiliki patahan (broken) atau menir (pecahan kecil) berada di angka 25-40 persen.
“Beras asal Vietnam, dijual senilai Rp10.000 per Kg dengan kadar broken 5 persen. Jelas, kondisi ini tak akan mampu membuat beras kita bersaing menembus pasar global,” tegas Alex yang juga Ketua Panja Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPR RI.
Membuat harga jual beras kompetitif, satu-satunya cara adalah dengan menekan biaya produksi hingga ke tingkat petani. Dengan metode Sawah Pokok Murah, terang Alex, biaya produksi bisa ditekan hingga batas sangat rendah. Karena, bertanam padi dengan metode ini, nyaris tidak memerlukan biaya untuk pengolahan tanah. Kemudian, tidak perlu biaya untuk pemupukan, melakukan penyiangan gulma hingga penyemprotan hama.
“Dari demplot uji coba yang telah dilakukan penemunya, Ir Djoni dengan petani di hampir seluruh kabupaten/kota di Sumatera Barat, hasilnya lebih unggul jika dibandingkan dengan metode yang telah dipraktekan petani kita selama ini,” ungkap Alex.
Motor untuk Penyuluh
Dikesempatan itu, Alex mengungkapkan, penyuluh pertanian di Indonesia jumlahnya mencapai angka 38 ribu lebih.
Di tahun 2026 ini, penyuluh pertanian ini akan mendapatkan bantuan kendaraan operasional berupa sepeda motor. Jumlahnya baru tersedia sebanyak 10.000 unit.
“Para penyuluh kita ini adalah pahlawan swasembada beras yang berhasil diwujudkan Kementrian Pertanian di tahun 2025 lalu. Penyuluh ini layak diapresiasi dengan bantuan kendaraan operasional, tapi jumlahnya masih tak sesuai kebutuhan,” terang Alex.
Alex kemudian merefleksikan konsep menyejahterakan petani yang digagas pemerintah dengan konsep satu harga yakni Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk Gabah Kering Panen (GKP) untuk semua kualitas senilai Rp6.500 per Kg.
“Menyejahterakan petani, tak mungkin teralisasi jika penyuluhnya tidak ikut sejahtera,” tegas Alex.
Pentingnya apresiasi bagi penyuluh ini, terang Alex, salah satunyua terkait keberhasilan menjadikan Sumatera Barat sebagai salah satu provinsi yang telah swasembada beras. Padahal, topografi daerahnya berupa perbukitan sehingga hamparan sawahnya jadi terbatas.
“Jika hingga akhir tahun 2026 nanti, petani Sumatera Barat bersama penyuluh mampu menghasilkan beras kualitas premium dengan harga produksi rendah, maka tantangan untuk merebut pasar global bisa diwujudkan,” tutup Alex.
Dengan prestasi itu, Alex merasa, pemerintah mesti menghargai terobosan yang ditorehkan petani Sumatera Barat bersama para penyuluh. Salah satu bentuknya, mengalokasikan sepeda motor untuk setiap penyuluhnya sebagai kendaraan operasional.
Dikesempatan itu, Alex juga mengungkapkan, akan memperjuangkan Penyuluh Hama untuk juga ditarik sebagai pegawai pemerintah pusat, sebagaimana penyuluh pertanian yang telah terwujud sejak tahun lalu.
“Peran penyuluh hama itu juga sangat vital. Layak diperjuangkan sebagai pegawai pusat, terlebih jumlahnya juga tidak sebanyak penyuluh pertanian,” terang Alex. (*)

1 day ago
6


















































