Suasana Geopark Goes To School yang diselenggarakan Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (PIWPP) Setda DIY pada Selasa (28/4/2026). - Harian Jogja // Catur Dwi Janati
JOGJA—Biro Pengembangan Infrastruktur Wilayah dan Pembiayaan Pembangunan (Biro PIWP2) Setda DIY menggencarkan edukasi konservasi warisan geologi kepada pelajar melalui program Geopark Goes to School di SMAN 1 Kalasan, Sleman, Selasa (28/4).
Kepala Biro PIWP2 Setda DIY, Agnes Dhiany Indria Sari, mengatakan program ini bertujuan meningkatkan pemahaman generasi muda tentang geopark sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga warisan geologi.
SMAN 1 Kalasan dipilih karena berstatus Sekolah Berbudaya dan berdekatan dengan 3 geosite, yakni Tebing Breksi Piroklasti, Rayapan Tanah Nglepen, dan Lava Bantal, salah satu geosite di DIY. Kedekatan geografis ini dinilai relevan untuk memperkuat pemahaman siswa melalui konteks nyata di lingkungan sekitar.
Agnes menjelaskan, Tebing Breksi merupakan bagian dari Geopark Nasional yang ditetapkan melalui keputusan Kementerian ESDM pada Mei 2025. Ia mencontohkan transformasi kawasan tersebut dari lokasi penambangan menjadi destinasi eduwisata sebagai bukti bahwa konservasi dapat memberi nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
“Ketika warisan geologi dijaga dengan baik, manfaatnya tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya sosialisasi geopark sejak dini agar generasi muda tidak hanya memahami konsepnya, tetapi juga terlibat aktif dalam pelestarian. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat ditularkan kepada lingkungan sekitar.
Kepala SMAN 1 Kalasan, Sri Nurintyas, menilai kegiatan ini memberi nilai tambah bagi siswa dalam memahami ilmu kebumian, konservasi, dan warisan geologi. Menurutnya, kedekatan sekolah dengan Tebing Breksi menjadi peluang pembelajaran kontekstual.
Ia berharap siswa tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan dan menyebarluaskan pentingnya pelestarian lingkungan.
Narasumber kegiatan, Achmad Subandrio, menjelaskan geopark merupakan wilayah geografis dengan situs geologi dan bentang alam bernilai internasional yang dikelola secara terpadu untuk konservasi, pendidikan, dan pembangunan berkelanjutan.
Ia menegaskan, pengelolaan geopark bertumpu pada tiga pilar utama, yakni geodiversity (keragaman geologi), biodiversity (keragaman hayati), dan cultural diversity (keragaman budaya). Ketiganya harus dikelola secara holistik agar memberi manfaat jangka panjang.
“Esensi geopark adalah pengelolaan kawasan secara berkelanjutan. Karena itu, semua pihak, termasuk generasi muda, perlu terlibat dalam upaya pelestarian,” ujarnya. (ADV)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

7 hours ago
6

















































