EroSlide, alat pemantau curah hujan, limpasan permukaan (runoff), infiltrasi, serta jumlah sedimen secara terintegrasi dan real time berbasis internet of things (IoT) yang dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). ANTARA - HO/BRIN
Harianjogja.com, JAKARTA — Upaya mitigasi bencana berbasis teknologi terus dikembangkan di Indonesia. Terbaru, Badan Riset dan Inovasi Nasional menghadirkan inovasi alat pemantau erosi dan longsor bernama EroSlide yang mampu bekerja secara terintegrasi dan real time berbasis Internet of Things (IoT).
Alat ini dirancang untuk memantau berbagai parameter penting yang berkaitan dengan potensi erosi dan longsor, mulai dari curah hujan, limpasan permukaan (runoff), infiltrasi air, hingga jumlah sedimen yang terbawa. Data yang dihasilkan kemudian dikirim secara otomatis ke sistem pusat untuk dianalisis lebih lanjut.
Perekayasa Ahli Utama Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Nendaryono Madiutomo, menjelaskan bahwa EroSlide dilengkapi sejumlah sensor canggih. Di antaranya sensor curah hujan tipe tipping bucket, sensor beban (load cell) untuk mengukur sedimen, serta sensor aliran guna menghitung debit limpasan air.
“Seluruh data dikumpulkan dan diolah secara terpusat sehingga bisa dimanfaatkan untuk analisis lanjutan, termasuk pemetaan potensi erosi dan longsor di suatu wilayah,” ujarnya, Minggu (27/4/2026).
Uji Lapangan di Lereng Terjal
EroSlide telah diuji di area dengan kemiringan lereng cukup ekstrem. Hasilnya, alat ini mampu merekam data secara kontinu dan stabil, memberikan gambaran dinamis mengenai kondisi tanah dan pergerakan material di lapangan.
Ke depan, BRIN berencana mengembangkan sistem ini dengan menambahkan sensor tambahan seperti kelembapan tanah, pH, dan suhu. Penambahan parameter tersebut diharapkan mampu meningkatkan akurasi analisis serta memperkaya basis data lingkungan.
Potensi Jadi Sistem Peringatan Dini
Teknologi EroSlide juga dinilai berpotensi besar untuk dikembangkan menjadi sistem peringatan dini longsor. Hal ini didasarkan pada hubungan erat antara intensitas erosi dan risiko terjadinya longsor, khususnya di wilayah dengan kontur lahan miring.
Dengan pemantauan yang berkelanjutan dan berbasis data, potensi bencana dapat dideteksi lebih dini sehingga langkah mitigasi bisa dilakukan lebih cepat.
Erosi Ancam Kesuburan Tanah
Lebih lanjut, Nendaryono menjelaskan bahwa erosi, terutama yang disebabkan oleh air, menjadi faktor utama dalam degradasi lahan. Proses ini tidak hanya mengikis permukaan tanah, tetapi juga mengangkut material penting dari hulu ke hilir.
Unsur hara tanah seperti nitrogen, fosfor, kalium, kalsium, dan magnesium sangat rentan hilang akibat erosi. Begitu pula unsur mikro seperti besi, mangan, seng, hingga tembaga yang berperan penting dalam menjaga kesuburan tanah.
Akibatnya, lahan di bagian hulu mengalami penurunan kualitas, sementara di wilayah hilir justru terjadi pengendapan material yang memicu perubahan komposisi tanah.
Dukung Pengelolaan Lingkungan Berkelanjutan
Dengan hadirnya EroSlide, BRIN berharap pengelolaan sumber daya alam dapat dilakukan secara lebih presisi dan berbasis data. Informasi yang akurat dinilai menjadi kunci dalam memprediksi potensi bencana sekaligus menentukan nilai ekonomi suatu wilayah.
“Data yang akurat sangat penting untuk memastikan pembangunan tetap berjalan selaras dengan kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Inovasi ini menjadi salah satu langkah konkret dalam memanfaatkan teknologi untuk menjawab tantangan perubahan lingkungan, sekaligus memperkuat sistem mitigasi bencana di Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

3 hours ago
4

















































