KLIKPOSITIF — Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional dan meningkatkan kemandirian sektor peternakan, keberadaan sapi Pesisir kian menunjukkan peran strategisnya sebagai salah satu plasma nutfah unggulan asli Indonesia. Tidak hanya menjadi warisan hayati bangsa, sapi lokal ini juga tampil sebagai solusi konkret dalam pengembangan peternakan berkelanjutan yang adaptif terhadap kondisi tropis.
Pengembangan sapi Pesisir saat ini dipusatkan di Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Padang Mengatas, Sumatera Barat. Di kawasan ini, sistem pembibitan dilakukan secara terstruktur dengan pendekatan pemeliharaan ekstensif berbasis padang penggembalaan (pastura), yang memungkinkan ternak tumbuh secara alami namun tetap dalam pengawasan ketat.
Kepala BPTU-HPT Padang Mengatas, Farouk Mochtar, S.Pt, M.P, menegaskan bahwa sapi Pesisir merupakan aset genetik yang memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan rumpun sapi lainnya.
“Sapi Pesisir bukan hanya bagian dari kekayaan hayati Indonesia, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara luas. Dengan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan tropis, sapi ini sangat relevan untuk mendukung pembangunan peternakan nasional yang berkelanjutan,” ujar Farouk.
Pengembangan sapi Pesisir di Padang Mengatas dimulai sejak 2013 melalui program penjaringan ternak dari masyarakat. Pada tahap awal, sebanyak 50 ekor berhasil dihimpun, kemudian bertambah menjadi 55 ekor pada 2014. Lonjakan signifikan terjadi pada 2015 dengan pengadaan mencapai 150 ekor.
Sejak saat itu, populasi sapi Pesisir terus mengalami peningkatan yang konsisten. Hingga awal 2026, jumlahnya telah mencapai 648 ekor. Capaian ini merupakan hasil dari manajemen pembibitan yang terencana, seleksi bibit yang ketat, serta pengelolaan reproduksi yang dilakukan secara profesional dan berkelanjutan.
Dalam lima tahun terakhir, performa reproduksi sapi Pesisir bahkan mencatatkan hasil yang mengesankan. Persentase kelahiran mencapai 46,44 persen tertinggi dibandingkan rumpun sapi lainnya di BPTU-HPT Padang Mengatas. Angka ini mencerminkan tingkat fertilitas yang baik serta efisiensi jarak beranak yang optimal.
“Stabilitas reproduksi sapi Pesisir sepanjang tahun menjadi salah satu keunggulan utama. Ini menjadikannya sebagai sumber bibit berkelanjutan yang sangat potensial bagi peternak,” jelas Farouk.
Selain unggul dari sisi reproduksi, sapi Pesisir juga dikenal memiliki daya adaptasi lingkungan yang luar biasa. Sebagai ternak lokal yang telah lama berkembang di wilayah tropis, sapi ini mampu bertahan dalam kondisi suhu tinggi, memanfaatkan hijauan lokal secara efisien, serta memiliki ketahanan terhadap penyakit.
Dengan tubuh yang relatif kompak dan kebutuhan nutrisi yang lebih rendah dibandingkan sapi impor, sapi Pesisir dinilai sangat cocok dikembangkan baik dalam sistem pemeliharaan ekstensif maupun intensif.
Tingginya minat masyarakat terhadap sapi Pesisir juga tercermin dari angka distribusinya yang terus meningkat. Dalam kurun waktu 2018 hingga 2025, persentase distribusi sapi Pesisir mencapai 43,26 persen—lebih tinggi dibandingkan rumpun sapi lainnya.
Secara total, sebanyak 1.108 ekor sapi Pesisir telah didistribusikan dari total 2.561 ekor ternak yang disalurkan. Distribusi ini menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, tidak hanya terbatas di Sumatera Barat.
Penyebaran tersebut menjadi bukti bahwa sapi Pesisir memiliki daya adaptasi yang luas dan mampu berkembang di berbagai kondisi geografis di Tanah Air. Di sejumlah daerah, sapi ini bahkan telah terbukti sebagai ternak yang mudah dipelihara, berbiaya rendah, namun tetap produktif.
“Kepercayaan peternak terhadap sapi Pesisir terus meningkat. Ini menunjukkan bahwa sapi ini tidak hanya unggul secara biologis, tetapi juga memiliki nilai ekonomis yang tinggi,” tambah Farouk.
Dengan dukungan sistem pembibitan yang terstruktur serta pengawasan profesional dari BPTU-HPT Padang Mengatas, kualitas genetik sapi Pesisir terus ditingkatkan tanpa menghilangkan karakter adaptif alaminya.
Ke depan, sapi Pesisir diharapkan dapat menjadi salah satu tulang punggung dalam peningkatan populasi ternak nasional. Lebih dari itu, keberadaannya juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan peternak serta memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
Sapi Pesisir kini tidak lagi sekadar ternak lokal. Ia telah menjelma menjadi simbol kebanggaan sekaligus investasi masa depan peternakan nasional tangguh, produktif, dan berdaya saing.

17 hours ago
25

















































