Aktivitas di Kelompok Tani Sekar Arum, di Kelurahan Bausasran, Kemantren Danurejan, Kota Jogja. - Istimewa - Dok. Sekar Arum
Harianjogja.com, JOGJA—Pengelolaan sampah rumah tangga di Bausasran, di Danurejan, Kota Jogja, kini berubah menjadi sumber pangan dan ekonomi warga. Kelompok Tani Sekar Arum mengolah sampah dapur menjadi pakan maggot, pupuk, hingga mendukung produksi sayuran yang kembali dimanfaatkan masyarakat.
Inisiatif yang digerakkan para perempuan ini bermula dari keresahan terhadap persoalan sampah di perkotaan. Dari sana, warga mulai membangun sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis rumah tangga yang kini berjalan konsisten.
Ketua Kelompok Tani Sekar Arum, Emmeik Sihmanto, mengatakan sampah dapur yang selama ini dianggap tidak bernilai justru menjadi potensi besar jika dikelola dengan tepat.
“Sampah dapur yang tiap hari kita anggap remeh, ternyata bisa lebih bermanfaat. Di sini sampah tidak lagi dipandang sebagai masalah, tapi sebagai potensi,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Sampah anorganik dikelola melalui bank sampah, sedangkan sampah organik diolah menjadi kompos dan pakan maggot yang memiliki nilai ekonomi.
“Semua dimulai dari rumah. Warga sudah terbiasa memilah sejak awal. Sampah organik jadi pakan maggot, maggot untuk pakan ternak dan ikan, residunya jadi pupuk, lalu dipakai untuk menanam sayuran yang kembali ke warga,” jelasnya.
Terintegrasi dari Sampah hingga Pangan
Pengelolaan ini tidak berhenti pada sampah, tetapi berlanjut ke budi daya pangan. Kelompok tersebut mengembangkan pertanian perkotaan di lahan sekitar 450 meter persegi.
Berbagai komoditas seperti sawi, kangkung, bayam, dan cabai ditanam dengan memanfaatkan pupuk dari hasil olahan sampah. Selain itu, mereka juga membudi dayakan lele dan bebek yang pakannya terhubung dengan produksi maggot.
Sistem ini menciptakan siklus tertutup, dari sampah menjadi pakan, lalu menjadi pupuk, hingga kembali menjadi pangan bagi warga.
Wakili Jogja di Lomba Tingkat DIY
Upaya tersebut mengantarkan Sekar Arum menjadi wakil Kota Jogja dalam Lomba Ekosistem Kelompok atau Komunitas Petani Perempuan tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2026.
Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam DIY, Eling Priswanto, menyebut program ini bertujuan memperkuat peran petani perempuan sekaligus mendukung ketahanan pangan.
Ia juga menilai pengembangan kelompok seperti ini penting untuk memperluas akses ekonomi dan mendorong keberlanjutan lingkungan di kawasan perkotaan.
Ke depan, diharapkan semakin banyak kelompok serupa yang tumbuh sehingga perempuan dapat berperan tidak hanya dalam ekonomi keluarga, tetapi juga sebagai penggerak utama pengelolaan lingkungan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
2

















































