
Foto ilustrasi sekolah rusak, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.
Harianjogja.com, SLEMAN—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman mulai merealisasikan program rehabilitasi gedung delapan sekolah menengah pertama (SMP) pada 2026. Hingga akhir Juni, sebagian besar proyek telah memasuki tahap kontrak dan pengerjaan fisik.
Ketua Tim Kerja Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan (Disdik) Sleman, Ruling Yulianto, menjelaskan enam sekolah sudah menandatangani kontrak sejak awal Juni 2026. Sementara satu sekolah masih dalam proses administrasi kontrak dan satu lainnya dijadwalkan mulai dikerjakan pada Juli mendatang.
Adapun delapan sekolah yang menjadi sasaran program ini meliputi SMPN 5 Depok, SMPN 3 Berbah, SMPN 1 Gamping, SMPN 1 Cangkringan, SMPN 3 Sleman, SMPN 2 Mlati, SMPIT Salman Alfarisi, dan SMPN 2 Prambanan.
Ruling menyebutkan, awalnya SMPN 1 Depok masuk daftar penerima, namun kemudian digantikan oleh SMPN 2 Prambanan.
“Kalau tidak ada revisi, SMPN 2 Prambanan akan mulai diperbaiki pada Juli. Namun jika ada perubahan, pengerjaannya akan dialihkan melalui Anggaran Belanja Tambahan,” ujarnya, Rabu (1/7/2026).
Meski ada kemungkinan penyesuaian, Pemkab memastikan jumlah sekolah yang direhabilitasi tetap delapan unit. Jika terjadi perubahan skema pendanaan, daftar penerima akan disesuaikan tanpa mengurangi jumlah total.
Selain sekolah negeri, Pemkab Sleman juga menyalurkan bantuan untuk SMP swasta melalui anggaran pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD. SMPIT Salman Alfarisi mendapat bantuan rehabilitasi gedung melalui skema ini.
Namun demikian, pemerintah menegaskan bantuan pokir tidak diberikan setiap tahun kepada sekolah swasta.
Di sisi lain, SMPIT Baitussalam Prambanan memperoleh hibah uang untuk perbaikan fasilitas, sedangkan SMPIT Bakti Insani menerima hibah dalam bentuk barang. Seluruh bantuan tersebut bersumber dari APBD Sleman.
Kepala Disdik Sleman, Mustadi, mengungkapkan salah satu faktor kerusakan gedung sekolah adalah cuaca ekstrem yang terjadi pada awal 2026. Hujan deras disertai angin kencang menyebabkan kerusakan pada sejumlah bangunan, termasuk SMPN 5 Depok.
“Kerusakan terjadi pada bagian struktur atap, khususnya balok kayu utama. Karena bersifat struktural, perbaikannya harus segera dilakukan,” katanya.
Untuk itu, Disdik Sleman melakukan penyesuaian prioritas perbaikan agar kerusakan tidak semakin parah dan mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Pada 2026, total anggaran rehabilitasi gedung SMP di Sleman mencapai Rp1,54 miliar. Nilai ini lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga pemerintah daerah juga mengandalkan dukungan dari pemerintah pusat guna memenuhi kebutuhan perbaikan fasilitas pendidikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
2

















































