Dewi Sakha Rosa

3 weeks ago 27

TARUNA - hayati

Hujan pertama jatuh seperti bisikan di Kediri sore itu. Jalanan beraspal berubah mengilap, memantulkan warna-warni lampu kendaraan. Di ujung jalan Jaya Katwang, Kafe Astungkara berdiri dengan lampu-lampu hangat menerangi jendela besarnya. Tempat itu selalu ramai di hari Kamis.

Jam di dinding kafe menunjukkan pukul 17.29. Aku duduk gelisah di sudut favoritku dengan mata yang terus melirik pintu masuk. Jari-jariku mengetuk meja ritme Feeling Good Nina Simone yang kudengarkan lewat earphone. Aku selalu memilih musik yang bertolak belakang dengan suasana—kontradiksi kecil yang membuatku merasa hidup.

“Tiga, dua, satu…” bisikku.

Tepat pukul 17.34, pintu kafe terbuka. Dia masuk, perempuan dengan ransel kanvas hijau lumut yang selalu datang pada waktu yang sama setiap Kamis. Gerakannya anggun dan yakin saat melangkah ke tempat favoritnya, meja dekat jendela besar yang menghadap ke arah Gunung Kelud.

Rambut hitamnya hari ini diikat tinggi, tidak tergerai seperti biasanya. Perubahan kecil, tapi cukup untuk membuatku tertegun. Tiga tindikan kecil di telinga kirinya berkilau tertimpa cahaya.

Dalam cerpenku yang belum selesai, aku memanggilnya Rosa. Namun, aku tak pernah berani menyapanya. Bukan karena malu, karena aku tidak yakin dia nyata.

“Kopi spesial hari ini datang tepat waktu.”

Om Bayu berdiri di sampingku, meletakkan secangkir kopi yang aromanya langsung mengisi udara di sekitarku. Kemeja hawainya hari ini berwarna merah terang dengan motif bunga putih, kontras dengan kacamata bulat model lamanya. Sebatang pensil terselip di belakang telinganya.

“Kopi dari mana ini, Om?” tanyaku, menyesap sedikit cairan hitam itu.

“Gayo, khusus untukmu.” Om Bayu tersenyum. “Kopi yang tepat untuk seorang penulis yang sedang mencari inspirasi.”

Anehnya, kopi itu mengingatkanku pada perjalanan ke Takengon, tempat yang tidak pernah kukunjungi.

“Lukisan itu baru, Om?” tanyaku, menunjuk ke sebuah kanvas yang tergantung di dinding belakang konter. Lukisan bulan separuh yang terlihat di langit siang hari, dengan warna-warna yang terlalu hidup untuk jadi nyata.

“Sudah ada sejak minggu lalu,” jawabnya, menatapku dengan aneh. “Kamu menatapnya hampir sepuluh menit kemarin.”

Aku menelan ludah. Satu lagi hal yang tidak kuingat.

“Dia datang lagi,” kata Om Bayu, mengedikkan kepala ke arah perempuan di dekat jendela. “Perempuan yang selalu kau tatap setiap Kamis.”

“Aku tidak menatapnya.”

“Dan aku tidak menjual kopi,” balasnya dengan senyum miring.

Ponselku bergetar. Pesan dari Dokter Widodo, “Jangan lupa kontrol besok. Perlu evaluasi dosis obat. Bagaimana keadaanmu minggu ini?”

Tiga minggu lalu, dokter mendiagnosisku dengan skizofrenia tipe paranoid. “Mekanisme pelarian,” katanya tentang cerpen-cerpenku. “Cara otakmu menyusun realitas alternatif saat tidak bisa menerima kenyataan.”

Aku memasukkan ponsel ke dalam saku tanpa membalas dan menatap layar laptopku. Dokumen kosong dengan judul Perempuan di Hari Kamis masih menunggu untuk kutulis.

Dari sudut mataku, aku melihat perempuan itu mengeluarkan buku dari tasnya. Sebuah novel Murakami dengan sampul usang, The Wind-Up Bird Chronicle. Lalu dia mengeluarkan kacamata baca berbingkai hitam dan melakukan sesuatu yang membuatku tertegun, menyentuh telinga kirinya tiga kali sebelum membuka buku.

Gerakan itu sama persis seperti yang kutulis untuk karakter Rosa dalam cerpenku tiga minggu lalu.

Aku melihat ke luar jendela. Hujan semakin deras, dan langit semakin gelap. Namun, di tengah kelabu itu, bulan separuh terlihat samar-samar. Waktu antara, begitu nenekku menyebutnya, saat dunia nyata dan dunia lain berada dalam jarak terdekatnya.

Tiba-tiba, lampu kafe berkedip tiga kali sebelum padam total. Kegelapan menyelimuti ruangan selama beberapa detik, dan kemudian lampu darurat menyala, memberikan cahaya temaram kekuningan yang mengubah semua orang menjadi versi lebih redup dari diri mereka sendiri.

Kecuali dia. Perempuan itu justru terlihat lebih terang, seolah memiliki cahayanya sendiri.

Entah dorongan dari mana, aku berdiri, memasukkan laptop ke dalam tas, dan berjalan menuju mejanya. Jantungku berdebar keras, cangkir kopi dalam genggamanku terasa panas dan nyata. Setidaknya itu membuatku yakin aku tidak bermimpi.

“Permisi,” kataku saat sudah berdiri di depan mejanya. “Boleh saya duduk di sini? Listrik di sudut saya mati.”

Dia mendongak, matanya cokelat gelap dengan kilau aneh yang mungkin hanya pantulan lilin di meja. Untuk beberapa saat dia hanya menatapku, seolah mengenali sesuatu.

“Tentu,” jawabnya akhirnya. Suaranya lebih dalam dari yang kubayangkan, dengan aksen yang tak bisa kubayangkan.

“Terima kasih,” kataku, duduk di hadapannya. Tanganku sedikit gemetar saat meletakkan cangkir kopi. “Saya Adi.”

“Aku tahu,” jawabnya tanpa ragu.

Kata-katanya membuatku tersentak. “Bagaimana kamu tahu?”

“Om Bayu sering menyebut namamu.” Dia tersenyum tipis. “Saya Dewi.”

Bukan Rosa. Tentu saja bukan Rosa. Rosa hanya ada dalam kepalaku.

“Kamu penulis?” tanyanya, menunjuk tas laptopku.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Caramu memperhatikan detail. Kamu mengamati semua yang terjadi di kafe ini, dari cara Om Bayu selalu menyelipkan pensil di telinganya hingga pengunjung yang selalu datang pada waktu yang sama.” Dewi memiringkan kepalanya sedikit. “Dan stiker Murakami di laptopmu cukup menjelaskan.”

Aku tertawa kecil. “Ya, saya mencoba menjadi penulis. Tapi tiga bulan terakhir, saya mengalami…”

“Writer’s block?”

“Lebih dari itu. Kesulitan membedakan mana yang nyata dan bukan.”

Aku tidak tahu mengapa aku langsung membuka diri padanya. Mungkin karena pandangannya yang tidak menghakimi, atau mungkin karena dia terasa aman, seperti seseorang yang sudah lama kukenal.

“Apa yang kamu tulis?” tanyanya.

“Cerpen tentang seorang pria yang jatuh cinta pada perempuan yang mungkin hanya ada dalam imajinasinya.”

“Autobiografi?”

Pertanyaannya telak menusuk, tapi entah mengapa aku malah tersenyum. “Mungkin. Tiga minggu lalu saya didiagnosis skizofrenia.”

Aku menunggu reaksi kaget, atau pandangan iba yang biasa kudapatkan. Namun, Dewi hanya mengangguk perlahan, seolah itu informasi yang sudah dia duga.

“Ayahku juga mengalaminya,” katanya. “Dia pelukis. Meninggal lima tahun lalu.”

“Turut berduka cita.”

“Jangan,” kata Dewi. “Dia hidup dengan baik. Katanya, yang orang sebut halusinasi adalah jendela ke dimensi lain yang tidak bisa semua orang lihat.” Dewi tersenyum, ada kesedihan dan kebanggaan di matanya. “Lukisannya sekarang melalang buana dari Jakarta sampai Yogya.”

“Di sana?” tanyaku, menunjuk ke lukisan bulan separuh di dinding kafe.

Mata Dewi membelalak sedikit. “Bagaimana kamu tahu?”

“Tebakan beruntung. Gayanya… unik.”

“Ya, itu salah satu karyanya yang terakhir. Judulnya Waktu Antara dalam bahasa Batak Mandailing.”

“Kamu orang Mandailing?”

“Blasteran. Ibu dari Mandailing, ayah Jawa. Aku bekerja sebagai penerjemah bahasa-bahasa yang hampir punah. Saat ini sedang menerjemahkan puisi-puisi kuno ke bahasa Batak Mandailing.”

Pembicaraan kami mengalir dengan mudah. Tentang buku-buku Murakami, perbatasan tipis antara nyata dan tidak nyata, dan bahasa-bahasa yang hampir punah. Dewi bercerita tentang proyeknya menerjemahkan puisi-puisi Sappho, penyair perempuan Yunani Kuno, ke dalam bahasa Batak Mandailing.

“Kenapa memilih bahasa yang hampir punah?” tanyaku.

Dewi menatap hujan di luar jendela sejenak. “Karena ada kekuatan dalam hal-hal yang berada di ambang kehilangan. Ada keindahan khusus di sana, seperti bulan separuh di siang hari.”

Semakin lama berbicara dengannya, semakin nyata keberadaannya terasa. Detail-detail kecil itu makin konsisten. Caranya mengaduk kopi berlawanan arah jarum jam, caranya menyelipkan rambut ke belakang telinga kiri setiap kali akan mengatakan sesuatu penting, dan bagaimana dia selalu tersenyum sedikit sebelum mengutarakan pemikiran yang mendalam.

“Apa yang membuatmu terhenti menulis?” tanyanya.

“Saya tidak tahu bagaimana menyelesaikan cerita itu. Pria dalam ceritaku bertemu dengan perempuan yang mungkin hanya khayalannya, dan saya tidak tahu apakah lebih baik dia menerima bahwa perempuan itu tidak nyata, atau justru menerima bahwa dunia di mana perempuan itu tidak ada adalah dunia yang tidak nyata.”

“Itu bukan pilihan yang mudah,” kata Dewi. “Tapi apa yang akan membuatnya lebih bahagia?”

“Tidak yakin. Mungkin menerima bahwa keduanya bisa nyata dengan caranya masing-masing?”

Dewi tersenyum. “Seperti cerpen Murakami, On Seeing the 100% Perfect Girl One Beautiful April Morning. Kadang kita tak perlu tahu mana yang benar-benar terjadi untuk merasakan dampaknya.”

Di luar, hujan mulai reda. Bulan separuh terlihat lebih jelas di langit yang mulai membiru.

“Aku ingat sewaktu kecil,” kata Dewi. “Ayahku sering menunjuk bulan di siang hari dan berkata, Itu adalah jendela ke dunia lain. Dunia di mana kita menjadi versi lain dari diri kita yang sekarang. Mungkin karaktermu bisa menemukan jalan tengah di sana.”

Tangannya yang memegang cangkir kopi terlihat begitu nyata, garis-garis di buku jarinya, kukunya yang terpotong rapi, dan cincin perak sederhana di jari manisnya.

Kami berbicara selama berjam-jam. Orang-orang datang dan pergi, tapi kami tetap tenggelam dalam percakapan. Dewi bercerita tentang perjalanannya ke desa-desa terpencil mencari penutur asli bahasa-bahasa yang hampir punah, tentang ayahnya yang terus melukis meski dokter mengatakan halusinasinya semakin parah, dan tentang keindahan menemukan makna dalam hal-hal yang tidak dipahami orang lain.

Pukul 22.10. Kafe mulai sepi.

“Saya harus pulang,” kata Dewi, memasukkan bukunya ke dalam tas.

Rasa kecewa menyelimutiku. “Boleh saya mengantar?”

“Tidak perlu. Rumah saya dekat, di belakang stasiun.”

“Bisakah kita bertemu lagi? Mungkin minggu depan? Kamis?” Aku bertanya, tidak ingin ini menjadi pertemuan satu kali.

Dewi menatapku dengan senyum misterius. “Mungkin. Mungkin juga tidak. Saya tidak selalu bisa menentukan keberadaan saya sendiri.”

Kata-katanya menggelitik ingatanku. Persis seperti dialog Rosa dalam cerpenku.

“Apa maksudmu?”

“Maksud saya, kadang kita berada di tempat-tempat bukan karena kita memilih, tapi karena tempat itu membutuhkan kita untuk melengkapinya.” Dia berdiri dan mengulurkan tangan. “Senang berbicara denganmu, Adi.”

Aku menjabat tangannya. Hangat dan nyata. “Sama-sama, De—”

“Nama saya bukan Dewi”

Jantungku seperti berhenti. “Apa?”

“Itu nama yang kamu berikan pada saya hari ini. Nama asli saya Sakha.”

Darahku terasa dingin. “Tapi kamu memperkenalkan diri sebagai Dewi tadi.”

“Benarkah?” Dia terlihat terkejut, atau mungkin hanya berpura-pura. “Mungkin itu nama yang kamu inginkan untuk saya.”

Dia mengambil sesuatu dari tasnya dan meletakkannya di atas meja. Sebuah pembatas buku dari kulit yang sudah usang.

“Untuk cerpenmu,” katanya sebelum berjalan keluar.

“Tunggu!” Aku berdiri dan mengejarnya, tapi tepat saat aku mencapai pintu, sosoknya hilang di balik tikungan jalan.

Aku kembali ke dalam kafe dengan perasaan campur aduk. Om Bayu menghampiriku dengan secangkir kopi terakhir.

“Perempuan yang tadi itu,” kataku, “Kamu melihatnya kan, Om?”

“Tentu saja. Dia pelanggan tetap, sama sepertimu.”

Kelegaan membanjiriku.

“Namanya… apakah Dewi atau Sakha?”

Om Bayu mengerutkan kening. “Namanya Rosa. Rosa Forsfortuna. Dia dosen sastra di Universitas Kediri. Kamu tidak tahu? Kalian mengobrol begitu lama.”

Rosa. Sama seperti dalam cerpenku. Kepalaku mulai berdenyut.

“Tapi dia memperkenalkan diri sebagai Dewi. Lalu mengatakan namanya Sakha.”

Om Bayu menatapku dengan ekspresi aneh. “Mungkin dia bercanda?” katanya, memiringkan kepala. “Atau mungkin…” Dia tidak melanjutkan kalimatnya.

“Atau mungkin apa, Om?”

Om Bayu menghela napas. “Adi, sudah minum obat hari ini?”

Tanganku merogoh saku untuk meraih botol obat, tapi aku berhenti. “Belum,” jawabku jujur.

“Mungkin sebaiknya kamu minum obatmu dulu, lalu istirahat.” Dia menyentuh bahuku dengan lembut. “Tapi sebelum pulang, ada yang ingin kutunjukkan.”

Om Bayu membawaku ke lukisan bulan separuh di dinding.

“Baca tanda tangannya,” katanya.

Di sudut bawah lukisan, tertulis dalam huruf kecil: R. Forsfortuna.

“Rosa Forsfortuna adalah putri pelukis ini,” jelas Om Bayu. “Ayahnya juga mengalami… kondisi sepertimu. Tapi dia melukis sampai akhir hayatnya. Rosa selalu datang ke sini setiap Kamis untuk mengenang ayahnya. Dulu kafe ini adalah studio lukisnya.”

Aku menatap lukisan itu lebih dalam. Bulan separuh di langit siang, dengan sinar yang terlalu terang untuk jadi nyata.

“Terima kasih, Om,” kataku pelan.

Saat kembali ke mejaku, aku melihat pembatas buku yang ditinggalkan Dewi/Sakha/Rosa. Di satu sisinya ada tulisan dalam bahasa yang tidak kukenal. Di sisi lainnya, gambar bulan separuh yang identik dengan lukisan di dinding.

Aku membuka laptop dan memeriksa dokumen cerpenku. Tidak kosong seperti yang kuingat. Ada empat halaman yang sudah tertulis dengan judul Perempuan di Kafe Astungkara. Isinya adalah dialog persis seperti percakapanku dengan Dewi/Sakha/Rosa barusan.

Namun, tanggal modifikasi dokumen menunjukkan dua minggu yang lalu.

Keesokan paginya, aku terbangun dengan perasaan aneh, campuran kebingungan dan kejelasan. Setelah mandi dan sarapan, aku langsung menuju Kafe Astungkara, bukan pada hari Kamis seperti biasanya.

“Selamat datang,” sapa Om Bayu, jelas terkejut melihatku. “Dua hari berturut-turut? Ini rekor baru.”

“Om,” kataku tanpa basa-basi. “Tentang kemarin. Perempuan yang berbicara dengan saya…”

“Yang mana?” Om Bayu mengerutkan dahi. “Kamu duduk sendiri dari jam lima sore sampai kafe tutup kemarin. Menulis terus di laptopmu.”

Dunia di sekitarku seperti berputar. “Tapi kita bicara tentang Rosa. Om menunjukkan lukisan ayahnya…”

Om Bayu menatapku lama dengan tatapan prihatin. “Adi, tidak ada yang duduk denganmu kemarin. Dan kita tidak membicarakan Rosa.”

Tanganku mengeluarkan pembatas buku dari saku. “Lalu ini dari mana? Dia memberikannya padaku.”

Om Bayu mengambil pembatas buku itu, memeriksanya. “Ini punyamu. Kamu selalu menggunakannya untuk menandai buku Murakami yang sering kau bawa.”

“Tapi Om, lukisan itu…” Aku berbalik untuk menunjuk ke dinding, tapi lukisan bulan separuh tidak ada di sana.

Aku merasa mual. Apa semua itu hanya halusinasiku?

“Adi,” ujar Om Bayu lembut. “Bagaimana kalau kamu duduk dulu? Aku akan membuatkan kopi.”

Dengan kaki lemas, aku duduk di meja favoritku. Mungkin Dokter Widodo benar. Mungkin semua ini hanya proyeksi pikiranku yang mencari pelarian.

Om Bayu kembali dengan secangkir kopi dan sesuatu yang mengejutkanku, sebuah buku tua. “Ini milik seorang pelanggan lama. Dia meninggalkannya minggu lalu dan belum kembali mengambilnya. Karena kamu suka Murakami, mungkin kamu mau membacanya dulu.”

Aku menerima buku itu, The Wind-Up Bird Chronicle dengan sampul usang, persis seperti yang dibaca Dewi/Sakha/Rosa kemarin.

“Siapa yang meninggalkannya?”

“Namanya di halaman pertama,” jawab Om Bayu sebelum kembali ke konter untuk melayani pelanggan lain.

Aku membuka halaman pertama. Di sana, tertulis dengan tinta hitam, Untuk Adi, semoga ini membantu menyelesaikan cerpenmu. —R.F.

Dengan tangan gemetar, aku membuka halaman demi halaman. Di halaman 27, aku menemukan secarik kertas dengan tulisan tangan.

Kenyataan dan khayalan seperti bulan dan matahari di Waktu Antara. Keduanya nyata, hanya berada di dimensi berbeda. Kadang, kita beruntung bisa melihat keduanya sekaligus. Carilah aku di belakang stasiun. —Rosa

Aku bergegas keluar, hampir menabrak pelanggan yang baru masuk. Di luar, hujan turun di bawah matahari yang cerah. Perkawinan siluman, kata orang Jawa.

Ponselku bergetar. Pesan dari Dokter Widodo mengingatkan jadwal kontrol hari ini. Namun ada juga pesan lain, dari nomor tidak dikenal, “Aku menunggumu di Galeri Antara, belakang stasiun. Babak ketiga cerpenmu sudah kutunggu. —R”

Bulan separuh terlihat samar di langit siang yang cerah. Bukan halusinasi, karena beberapa orang di jalan berhenti untuk memotretnya.

Di browser ponselku, aku mengetik Rosa Forsfortuna. Hasil pencarian menunjukkan profil seorang dosen sastra sekaligus penerjemah di Universitas Kediri, spesialis bahasa-bahasa yang hampir punah, putri dari pelukis terkenal Galaksi Forsfortuna yang meninggal lima tahun lalu.

Fotonyalah yang membuatku berhenti bernapas, perempuan dengan rambut hitam panjang, kacamata berbingkai hitam, dan tahi lalat kecil di pipi kirinya. Persis seperti perempuan yang kutemui kemarin.

Di stasiun, aku bertanya tentang Galeri Antara. Penjaga loket menunjuk ke sebuah bangunan kecil di belakang stasiun. “Galeri baru, dibuka bulan lalu,” katanya. “Pameran lukisan-lukisan Galaksi Forsfortuna.”

Jantungku berdebar kencang saat aku berjalan menuju galeri. Di depan pintu masuk, sebuah spanduk besar menampilkan lukisan bulan separuh, persis seperti yang kulihat di kafe kemarin.

Dan di sana, sosok yang kukenal berdiri di depan lukisan itu. Rambut hitam tergerai, kacamata berbingkai hitam, dan senyum yang terlalu familier.

“Kau datang,” katanya saat melihatku.

“Rosa?” tanyaku ragu.

Dia tersenyum. “Hari ini, ya. Kemarin Dewi, sebelumnya Sakha. Besok, siapa tahu?”

“Saya tidak mengerti.”

“Inilah yang coba ayahku sampaikan melalui lukisan-lukisannya,” tunjuk Rosa ke lukisan bulan separuh. “Bahwa identitas kita tidak tetap, berubah sesuai dengan siapa kita berinteraksi. Kau melihatku sebagai Rosa dalam tulisanmu, sebagai Dewi kemarin, dan sebagai Sakha di akhir pertemuan kita.”

“Tapi bagaimana kau tahu tentang cerpen saya?”

Rosa tersenyum misterius. “Ayahku selalu bilang, di Waktu Antara, pikiran-pikiran kita bisa melintasi batas. Mungkin aku membacanya, mungkin kau menceritakannya padaku di pertemuan yang tak kau ingat, atau mungkin…” Dia menjeda, “kita menulis cerita yang sama dari dua sisi berbeda.”

Dia mengajakku masuk ke dalam galeri. Dindingnya terpajang lukisan-lukisan Galaksi Forsfortuna, pemandangan yang terlalu hidup untuk jadi nyata, warna-warna yang terlalu cerah untuk dunia ini, dan di lukisan terakhir, seorang pria yang duduk di Kafe Astungkara, menulis di laptopnya.

“Ini… saya?” tanyaku tak percaya.

“Ayahku melukis ini lima tahun lalu, tepat sebelum meninggal,” jelas Rosa. “Judulnya Penulis di Waktu Antara. Dia tidak pernah bertemu denganmu.”

Aku menatap lukisan itu lama, tidak tahu harus bereaksi seperti apa.

“Saya tidak mengerti semua ini,” kataku jujur.

“Tidak perlu mengerti semuanya,” ujar Rosa menyentuh tanganku lembut. “Seperti cerpen yang baik, hidup tidak perlu menjelaskan setiap detail untuk memberikan makna.”

“Kau nyata?” tanyaku, pertanyaan yang sudah lama ingin kutanyakan.

Rosa tertawa, tawa yang nyata dan hidup. “Menurutmu?”

“Ya,” jawabku, akhirnya yakin. “Kau nyata. Dengan caramu sendiri.”

Kami keluar dari galeri ke bawah langit dimana bulan dan matahari sama-sama terlihat. Waktu antara—saat batas-batas memudar, saat berbagai kemungkinan hadir bersamaan.

Di dalam kepalaku, kalimat pembuka babak ketiga akhirnya terbentuk dengan jelas.

Bulan separuh di langit siang bukanlah anomali, melainkan pengingat bahwa dunia tidak sesederhana pembagian antara terang dan gelap, nyata dan khayalan. Ada ruang di antara Waktu antara, di mana kita bisa melihat berbagai versi kehidupan sekaligus. Dan mungkin, di situlah kita menemukan kebenaran yang lebih utuh tentang diri kita, tentang orang-orang yang kita temui, dan tentang cerita yang kita tulis bersama.

Aryasuta, karyawan swasta di Kota Kediri. Beberapa karyanya telah tayang di beberapa media. Bisa dihubungi di instagram: @tulisajaduluya
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news