
Kepala DP3AP2 DIY, Erlina Hidayati Sumardi (tengah) bersama pendiri Wonderful Family Institute, Cahyadi Takariawan (kanan), dalam talkshow Kampanye Pencegahan Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, Persiapan Hidup Berkeluarga: Mencegah KDRT, yang digelar Rabu (17/6)./ Harian Jogja - Anisatul Umah
JOGJA - Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di DIY masih menjadi persoalan serius. Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk (DP3AP2) DIY menilai kurangnya kesiapan pasangan sebelum menikah menjadi salah satu faktor yang memicu konflik rumah tangga hingga berujung pada kekerasan dan perceraian.
Kepala DP3AP2 DIY, Erlina Hidayati Sumardi, menyampaikan persiapan pranikah penting dilakukan, sehingga pasangan yang mau menikah sudah menyiapkan bekal sebelum memasuki medan tersebut.
Ia mencontohkan hal-hal yang perlu disiapkan seperti memahami masalah-masalah yang rentan timbul dalam keluarga, masalah pengasuhan anak, dan lainnya. Menurutnya, hal-hal semacam ini kerap dikesampingkan oleh masyarakat.
"Menganggap bahwa berkeluarga itu happy-happy-nya saja, tidak belajar dari awal terkait dengan kerentanan yang berpotensi muncul," ucapnya dalam talkshow Kampanye Pencegahan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak, Persiapan Hidup Berkeluarga: Mencegah KDRT, Rabu (17/6).
Menurutnya dengan persiapan, nantinya ketika sudah berkeluarga tidak terkaget-kaget, mampu beradaptasi, komunikasi bisa lancar, dan pengaruh-pengaruh dari luar pasangan tidak ikut mempertajam kegagalan adaptasi dan sebagainya.
Lebih lanjut, Erlina menyampaikan saat ini komunikasi bisa dilakukan dengan sangat mudah. Mestinya komunikasi bisa semakin mendekatkan antar anggota keluarga, namun kenyataannya kemudahan akses informasi bisa mengundang masalah-masalah dalam keluarga.
Ia menyebut beberapa masalah yang mungkin timbul, seperti kesehatan mental yang menjadi tidak baik dan hubungan menjadi renggang. Hal ini disebabkan karena ternyata masing-masing memiliki keinginan melakukan komunikasi ke orang-orang lain bukan dari anggota keluarga.
Kondisi ini, menurut Erlina, membuat komunikasi dan hubungan menjadi renggang dan menimbulkan masalah di dalam keluarga. Sehingga ketidakrekatan komunikasi relasi itu menimbulkan konflik-konflik. "Sehingga kasus KDRT baik antar pasangan suami istri maupun terhadap anak menjadi semakin meningkat," tuturnya.
Erlina menyampaikan sebagian keluarga sudah mengadu ke layanan DP3AP2 DIY, namun masih lebih banyak yang belum mengadu karena enggan dan merasa malu mengadukan permasalahan keluarga.
Pertengkaran
Pendiri Wonderful Family Institute, Cahyadi Takariawan, menyampaikan masyarakat bisa mengakses layanan edukasi pranikah dan layanan konseling ke tempatnya secara gratis. Sejak 26 tahun silam, ia bersama istrinya dibantu 10 orang sukarelawan memberikan layanan konseling khususnya bagi pasangan suami istri.
Menurutnya, KDRT masih menjadi masalah di DIY, dan pada 2025 hampir setengah dari kasus kekerasan yang tercatat merupakan kasus KDRT.
Untuk mengakses layanan, warga bisa datang langsung ke rumahnya di Banguntapan atau membuat janji melalui admin untuk konseling. Nantinya akan dibuatkan jadwal untuk konseling secara online atau offline.
Menurut Cahyadi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), masalah dalam rumah tangga paling banyak adalah percekcokan dan pertengkaran. "Masalah kedua yakni ekonomi, nomor tiga meninggalkan pasangan, dan nomor empat KDRT. Untuk cekcok dan bertengkar latar belakangnya bermacam-macam," katanya. (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

7 hours ago
4

















































