Foto ilustrasi pertumbuhan ekonomi. / Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen tidak hanya dipandang sebagai capaian angka makroekonomi semata. Pertumbuhan ekonomi Indonesia 8 persen tersebut diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap penurunan kemiskinan dan pengangguran melalui perluasan lapangan kerja di berbagai sektor produktif.
Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Imamudin Yuliadi, menilai keberhasilan target pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat bergantung pada sektor yang mendorong pertumbuhan tersebut. Menurutnya, sektor ekonomi yang padat karya memiliki peran penting karena mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Menurut Imamudin Yuliadi, pertumbuhan ekonomi yang didorong sektor dengan daya serap tenaga kerja tinggi akan memberikan dampak langsung terhadap pengurangan pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. "Itu yang sebenarnya diharapkan dari target pertumbuhan ekonomi yang tinggi," ujarnya.
Ia menjelaskan Indonesia saat ini memiliki peluang besar melalui bonus demografi, yakni meningkatnya jumlah penduduk usia produktif yang dapat menjadi motor penggerak perekonomian nasional.
Namun demikian, bonus demografi tersebut juga berpotensi menjadi tantangan apabila tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan kerja yang memadai.
Imamudin Yuliadi menyampaikan bahwa peningkatan jumlah angkatan kerja setiap tahun harus diikuti kemampuan sektor ekonomi dalam menyerap tenaga kerja baru. Tanpa hal tersebut, tingkat pengangguran dapat meningkat dan memicu persoalan sosial maupun ekonomi.
"Bonus demografi kita sangat besar. Angkatan kerja terus bertambah setiap tahun. Jika sektor ekonomi tidak mampu menyerap tenaga kerja tersebut, hal ini bisa menjadi persoalan serius. Pengangguran yang besar dapat menjadi bom waktu bagi perekonomian," ungkapnya.
Lebih lanjut, ia mengatakan penguatan sektor industri menjadi langkah penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Menurutnya, pengembangan industri pengolahan dapat meningkatkan nilai tambah berbagai komoditas dalam negeri sekaligus membuka lebih banyak kesempatan kerja bagi masyarakat.
Selain sektor industri, pengelolaan aset ekonomi nasional juga dinilai memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Ia menjelaskan Indonesia memiliki sumber daya ekonomi yang sangat besar di berbagai sektor, mulai dari pertambangan, perkebunan, hingga kehutanan.
"Nilainya bisa mencapai ribuan triliun rupiah. Jika aset-aset ini dikelola dengan baik dan dijaga keberlanjutannya, maka dapat menjadi sumber pembiayaan pembangunan yang kuat untuk menggerakkan sektor ekonomi strategis," kata Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY ini.
Imamudin Yuliadi menambahkan bahwa pengelolaan sumber daya ekonomi tersebut harus disertai dengan perbaikan tata kelola pemerintahan, termasuk dalam hal penegakan hukum serta pemberantasan korupsi.
Tanpa tata kelola yang baik, potensi ekonomi yang besar dikhawatirkan tidak mampu memberikan manfaat optimal bagi masyarakat luas.
Ia juga menilai kesinambungan politik pemerintahan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pembangunan ekonomi.
Menurutnya, dinamika politik yang tidak stabil dapat menghambat pelaksanaan kebijakan ekonomi jangka panjang yang telah dirancang pemerintah.
Oleh karena itu, stabilitas politik dan tata kelola pemerintahan yang sehat menjadi prasyarat penting agar target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga 8 persen dapat tercapai sekaligus memberikan dampak luas bagi masyarakat.
"Namun, ada banyak faktor non-ekonomi yang juga harus diperhatikan, salah satunya kesinambungan politik pemerintahan. Politik bisa menjadi batu sandungan bagi pembangunan jika tidak dikelola dengan baik," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

5 hours ago
5

















































