KLIKPOSITIF- Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying bahan bakar minyak (BBM) menyusul kekhawatiran dampak gejolak perang di Timur Tengah terhadap pasokan energi.
Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sumbar, Helmi Heriyanto, mengatakan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan kelangkaan BBM di Indonesia.
Menurutnya, sumber impor minyak mentah Indonesia tidak hanya bergantung pada kawasan Timur Tengah. Pasokan yang melalui Selat Hormuz hanya sekitar 19 persen dari total impor minyak Indonesia.
“Insyaallah kami yakin tidak akan terjadi kelangkaan BBM. Sumber impor minyak mentah Indonesia tidak hanya dari Timur Tengah. Yang melewati Selat Hormuz hanya sekitar 19 persen,” ungkap Helmi diwawancara Katasumbar
Ia menjelaskan, selain dari Timur Tengah, Indonesia juga mengimpor minyak dari Amerika Serikat serta sejumlah negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Bahkan, tidak menutup kemungkinan Indonesia membuka peluang impor dari negara lain seperti Rusia.
“Pasokan masih banyak dari Amerika dan negara-negara Asia Tenggara maupun Asia Selatan. Jadi secara ketersediaan tidak akan terganggu,” terangnya.
Namun demikian, Helmi mengakui gejolak konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga minyak dunia. Ia menyebut harga minyak global sudah mengalami kenaikan beberapa dolar dalam beberapa waktu terakhir.
“Yang menjadi kekhawatiran lebih kepada harga. Saat ini harga minyak dunia sudah mengalami kenaikan sekitar 8 dolar,” jelasnya.
Karena itu, Pemprov Sumbar mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak melakukan pembelian BBM secara berlebihan.
“Tidak perlu panik atau melakukan penimbunan. Pemerintah akan tetap memenuhi kebutuhan BBM maupun gas bagi masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, Helmi juga mengingatkan masyarakat untuk tetap bijak dan efisien dalam menggunakan energi, baik BBM maupun gas.
“Walaupun kondisi pasokan aman, kami tetap mengimbau masyarakat untuk menggunakan energi secara efisien dan sesuai kebutuhan,” tutupnya.

4 hours ago
3




















































