Jumali Minggu, 28 Juni 2026 12:07 WIB

Foto ilustrasi getaran gempa tercatat pada seismograf. - istock
Harianjogja.com, JOGJA—Tiga hari setelah dua gempa besar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 mengguncang Venezuela pada Rabu (24/6/2026), operasi pencarian korban masih berlangsung di tengah rentetan gempa susulan yang terus terjadi. Hingga Sabtu (27/6/2026) malam waktu setempat, jumlah korban tewas dilaporkan mencapai 1.430 orang, sementara puluhan ribu lainnya masih dinyatakan hilang. AP News melaporkan, tim penyelamat kini berpacu dengan waktu untuk menemukan korban yang kemungkinan masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
Gempa susulan masih terus mengguncang sejumlah wilayah terdampak, termasuk kawasan sekitar Caracas, La Guaira, dan Aragua. Xinhua mengungkapkan, pemerintah Venezuela melaporkan ratusan gempa susulan telah tercatat sejak dua gempa utama terjadi, memperumit proses evakuasi dan pencarian korban.
Kondisi tersebut membuat petugas SAR harus bekerja dengan tingkat kewaspadaan tinggi. Banyak bangunan yang telah rusak berat berisiko runtuh sewaktu-waktu akibat getaran lanjutan. Meski demikian, pencarian korban terus dilakukan karena masih ada harapan menemukan penyintas di bawah puing-puing bangunan yang roboh.
Wilayah pesisir La Guaira menjadi salah satu kawasan yang mengalami kerusakan paling parah. Tim penyelamat, relawan, dan warga setempat terus berupaya mengevakuasi korban di tengah keterbatasan alat berat dan kondisi medan yang sulit. Sejumlah kisah penyelamatan masih bermunculan, memberikan secercah harapan di tengah besarnya skala bencana.
Reuters mengungkapkan, lebih dari 1.600 personel penyelamat internasional dari berbagai negara telah tiba di Venezuela untuk membantu operasi kemanusiaan. Dukungan tersebut mencakup tim pencarian dan penyelamatan, tenaga medis, anjing pelacak, hingga bantuan logistik yang dibutuhkan untuk mempercepat proses evakuasi dan penanganan korban.
Selain korban jiwa, dampak sosial yang ditimbulkan juga sangat besar. Jutaan warga terdampak kini menghadapi ketidakpastian akibat kerusakan rumah, gangguan pasokan air dan listrik, serta trauma psikologis yang masih membekas. Banyak warga memilih bertahan di tenda darurat atau ruang terbuka karena khawatir bangunan tempat tinggal mereka tidak lagi aman dihuni.
Para ahli kebencanaan menilai 72 jam pertama setelah gempa merupakan periode paling krusial untuk menemukan korban selamat. Namun, peluang penyelamatan tetap ada selama korban memiliki akses terhadap udara, air, atau ruang yang cukup untuk bertahan hidup di bawah reruntuhan. Karena itu, operasi pencarian masih terus digencarkan meski waktu kritis semakin menipis.
Bencana yang dipicu dua gempa besar dalam selang waktu kurang dari satu menit ini telah menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah dialami Venezuela dalam beberapa dekade terakhir. Selain menghancurkan bangunan dan infrastruktur, gempa juga meninggalkan luka mendalam bagi jutaan warga yang kini berjuang memulai kembali kehidupan mereka di tengah situasi darurat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2

















































