PADANG, KLIKPOSITIF- Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si hadir memberikan kuliah umum di Universitas Andalas untuk memperkuat wawasan kebangsaan para mahasiswa.
Kuliah umum ini juga sekaligus meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai ketahanan nasional dan berbagai tantangan yang dihadapi Indonesia di tengah perubahan global.
Program Lemhannas Goes to Campus yang berlangsung di Convention Hall UNAND, Kamis (3/9) juga dihadiri oleh Rektor Unand Efa Yonnedi.
Efa Yonnedi, Ph.D dalam sambutannya turut menunjukkan kontribusi UNAND dalam mendukung ketahanan nasional melalui berbagai hasil riset dan inovasi, salah satunya di bidang ketahanan pangan. Berbagai penelitian dan pengembangan produk terus dilakukan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal Indonesia.
Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah Tinta Merah Putih. Selain itu, UNAND juga terus mengembangkan potensi gambir yang memiliki beragam peluang pemanfaatan dan produk turunan, mulai dari bidang obat-obatan hingga pangan.
“Gambir memiliki banyak produk turunan yang masih bisa dikembangkan, baik untuk obat-obatan maupun makanan. Ini terus kita teliti, sehingga ke depan diharapkan akan semakin banyak produk yang dapat dihasilkan dari gambir,” jelasnya.
Tidak hanya ketahanan pangan, UNAND juga berkontribusi dalam memperkuat ketahanan kesehatan melalui pengembangan berbagai produk hasil riset. Saat ini, terdapat sekitar 30 produk riset UNAND yang telah tersedia dalam e-Katalog, termasuk produk reagent test untuk Tuberkulosis (TBC) dan reagent test Human Papillomavirus (HPV).
Pengembangan produk-produk tersebut merupakan bagian dari upaya UNAND menghasilkan inovasi yang dapat mendukung kemandirian dan ketahanan kesehatan nasional.
Pemuda sebagai Tumpuan Masa Depan Bangsa
Sementara itu, Dr. H. TB. Ace Hasan Syadzily, M.Si. sebagai keynote speaker, menyampaikan bahwa program Lemhannas Goes to Campus merupakan bagian dari upaya Lemhannas RI untuk terus memperkokoh nilai-nilai kebangsaan, khususnya di kalangan generasi muda. Menurutnya, pemuda memiliki posisi yang sangat strategis dalam menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia ke depan.
“Tumpuan masa depan bangsa ini ada pada anak muda,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki posisi strategis karena berada di persilangan ekonomi dunia serta memiliki sumber daya alam yang melimpah. Kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki nilai strategis sekaligus menjadi bagian dari perebutan pengaruh berbagai kekuatan dunia.
Dalam situasi tersebut, generasi muda perlu memiliki pemahaman yang kuat mengenai geopolitik dan mampu menempatkan Indonesia pada posisi yang strategis.
“Pemuda memiliki peran besar dalam menentukan ke mana arah negara ini,” ujarnya.
Ace Hasan juga menyoroti disrupsi teknologi yang menurutnya menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Teknologi harus ditempatkan sebagai instrumen untuk mendukung kehidupan dan pembangunan, bukan menjadi tujuan itu sendiri.
Kita harus menempatkan teknologi sebagai instrumen, bukan tujuan. Jangan sampai secara tidak sadar kita justru menjadi produk dari sistem yang kita ciptakan,” jelasnya.
Delapan Aspek Ketahanan Nasional
Lebih lanjut, Ace Hasan menjelaskan bahwa ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer. Ketahanan nasional dibangun melalui delapan aspek yang saling berkaitan, yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan, sumber kekayaan alam, demografi, serta geografi.
Menurutnya, aspek sosial budaya memiliki peran penting dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul. Kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu faktor utama yang menentukan kemampuan bangsa menghadapi berbagai tantangan.
Karena itu, ia menekankan pentingnya generasi muda memahami geopolitik serta memiliki kesadaran kebangsaan yang kuat. Nasionalisme, menurutnya, harus terus diperkuat di tengah dunia yang semakin tanpa batas (borderless).
Nilai-nilai kebangsaan tersebut dapat tumbuh dari kekuatan budaya yang dimiliki setiap daerah. Ia mencontohkan nilai yang telah lama hidup di tengah masyarakat Sumatera Barat, yaitu “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, sebagai salah satu nilai yang dapat menjadi kekuatan dalam membangun karakter masyarakat.
Ia juga mendorong institusi pendidikan untuk terus menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan akademik. Menurutnya, nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya dipahami secara konseptual, tetapi perlu dihayati dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Nilai-nilai Pancasila harus terus diinternalisasi dan menjadi bagian penting dalam pendidikan, termasuk melalui pembelajaran di perguruan tinggi,” katanya.
Penanaman Pohon dalam Rangka Dies Natalis ke-70 UNAND
Kegiatan Lemhannas Goes to Campus di UNAND turut dirangkaikan dengan kegiatan penanaman pohon Andalas dan Tabebuya sebagai bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-70 Universitas Andalas. Penanaman pohon tersebut menjadi simbol komitmen UNAND dalam menjaga lingkungan sekaligus memperkuat nilai keberlanjutan dalam kehidupan kampus.
Melalui Lemhannas Goes to Campus, UNAND tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai ketahanan nasional, tetapi juga mendorong mahasiswa untuk mengambil peran aktif dalam menjaga kepentingan nasional, memperkuat nasionalisme, mengembangkan kompetensi, serta menghadapi tantangan global dengan tetap berpegang pada nilai-nilai kebangsaan.

20 hours ago
8
















































