Gunung Sampah vs Biaya Infrastruktur, Dilema Besar PSEL Makassar

10 hours ago 8
Gunung Sampah vs Biaya Infrastruktur, Dilema Besar PSEL MakassarKebakaran Ekskavator di TPA Antang (Do: Ist).

KabarMakassar.com — Rencana pemindahan lokasi proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Makassar dari kawasan industri Jl. Ir. Sutami ke TPA Tamangapa menuai sorotan tajam.

Keputusan tersebut dinilai bukan sekadar perubahan lokasi, tetapi berpotensi berdampak besar terhadap aspek teknis, ekonomi, hingga sosial.

Akademisi teknik sekaligus praktisi lingkungan, Nasruddin Aziz, menilai relokasi itu berisiko mengganggu efisiensi proyek yang sebelumnya telah dirancang matang.

“Ini bukan sekadar pindah lokasi. Ini perubahan besar dalam kalkulasi engineering. Pertanyaannya, apakah kita tetap memilih opsi paling efisien, atau justru berkompromi dengan hal yang sulit dijelaskan secara teknis,” tegasnya, Minggu (29/03).

Menurut dia, Makassar sedang berpacu dengan waktu dalam menangani persoalan sampah yang kini telah menembus lebih dari 1.000 ton per hari. Angka tersebut bahkan diproyeksikan meningkat dua kali lipat dalam satu dekade ke depan.

Ia menjelaskan, secara teknologi, PSEL modern tidak lagi identik dengan bau dan kebisingan. Sistem tertutup yang digunakan membuat fasilitas ini jauh lebih ramah lingkungan dibanding persepsi lama masyarakat.

“PSEL modern itu bersih. Tidak ada bau menyengat, tidak bising. Jadi alasan penolakan karena faktor itu sebenarnya sudah tidak relevan,” ujarnya.

Namun demikian, persoalan utama justru muncul pada aspek infrastruktur jika proyek dipindahkan ke Tamangapa. Lokasi baru dinilai jauh dari sumber pendukung utama seperti jaringan listrik dan air baku.

“Kalau di Ir. Sutami, semuanya dekat gardu induk dan sumber air. Itu efisien. Tapi kalau dipindah ke Tamangapa, kita harus menarik jaringan listrik hingga hampir 10 kilometer. Ini mahal dan kompleks,” jelasnya.

Ia menambahkan, pembangunan jaringan transmisi baru, baik melalui jalur udara maupun kabel bawah tanah bertegangan tinggi, tidak hanya meningkatkan biaya investasi, tetapi juga berpotensi memicu persoalan sosial di kawasan padat penduduk.

Selain itu, ketersediaan air juga menjadi tantangan tersendiri. Tanpa sumber air besar di sekitar lokasi, operasional PSEL akan bergantung pada sistem daur ulang air yang lebih kompleks.

Meski begitu, Nasruddin mengakui skenario pengolahan sampah yang dirancang tetap memiliki nilai strategis, terutama dalam mengurangi beban TPA Tamangapa.

“Secara konsep ini bagus, membakar 1.000 ton sampah baru sambil mengurangi 300 ton sampah lama setiap hari. Dalam beberapa tahun, gunungan sampah bisa habis. Tapi tetap, fondasi ekonominya harus kuat,” katanya.

Ia mengingatkan, lonjakan biaya akibat pembangunan infrastruktur tambahan berpotensi menjadi beban jangka panjang jika tidak dihitung secara cermat sejak awal.

“Jangan sampai energi yang dihasilkan justru habis untuk menutup biaya ketidakefisienan. Ini proyek besar, harus berbasis data teknis, bukan sekadar keputusan,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah perlu memastikan setiap langkah dalam proyek strategis ini benar-benar mempertimbangkan aspek efisiensi, keberlanjutan, dan risiko sosial secara menyeluruh.

“Makassar butuh solusi yang presisi secara teknik, bukan hanya berani secara kebijakan,” tukasnya.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news