
Pengendara motor saat melintas di depan Puskesmas Paliyan. Di fasilitas kesehatan ini sudah memanfaatkan listrik tenaga surya untuk mendukung operasional pelayanan, Jumat (26/6/2026). Harian Jogja/David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mulai melirik penggunaan listrik tenaga surya sebagai solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas layanan publik, terutama di tengah seringnya terjadi pemadaman listrik dalam beberapa waktu terakhir.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta, mengatakan gangguan listrik sempat berdampak langsung terhadap pelayanan di RSUD Wonosari. Saat itu, genset yang dimiliki rumah sakit mengalami kendala sehingga harus menyewa unit tambahan agar pelayanan tetap berjalan normal.
“Mati lampu ini terjadi pada Sabtu (20/6/2026). Agar tidak terulang, kami sudah meminta seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menginventarisasi genset sebagai cadangan,” ujar Sri Suhartanta, Minggu (28/6/2026).
Menurutnya, inventarisasi genset hanya solusi jangka pendek. Untuk jangka panjang, Pemkab Gunungkidul mulai mengkaji penggunaan energi terbarukan berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
“Kami mencoba mengkaji penggunaan listrik tenaga surya sebagai alternatif yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Langkah ini bukan tanpa dasar. Pemanfaatan PLTS telah lebih dulu diterapkan di Puskesmas Paliyan sejak akhir 2024 dan menunjukkan hasil positif. Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, menyebut hingga kini operasional puskesmas berjalan lancar tanpa kendala berarti.
“Perawatan dilakukan secara berkala setiap bulan, sehingga sistem tetap optimal,” jelasnya.
Di Puskesmas Paliyan, kapasitas PLTS yang terpasang mencapai sekitar 15.000 watt. Kehadiran energi surya ini terbukti mampu menekan biaya operasional secara signifikan.
“Tagihan listrik bisa berkurang hingga 50 persen setiap bulan. Ini sangat membantu dibandingkan sebelum menggunakan PLTS,” kata Ismono.
Sebelumnya, operasional puskesmas sepenuhnya bergantung pada listrik dari PLN dengan kapasitas 14.900 watt, ditambah genset cadangan berkapasitas 30.000 watt. Kini, penggunaan listrik tenaga surya menjadi pilihan utama karena dinilai lebih efisien dan ramah lingkungan.
Meski demikian, Sri Suhartanta mengakui implementasi PLTS membutuhkan investasi awal yang cukup besar. Oleh karena itu, kajian mendalam masih diperlukan sebelum diterapkan secara luas di seluruh instansi pemerintah.
“Biaya pemasangan awal memang besar, tetapi setelah itu lebih hemat. Tinggal perawatan berkala,” ujarnya.
Pemkab Gunungkidul berharap, ke depan penggunaan energi terbarukan seperti PLTS tidak hanya menjadi solusi atas pemadaman listrik, tetapi juga langkah strategis menuju efisiensi anggaran dan pembangunan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
2

















































