
Kilang minyak lepas pantai. - Foto dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA— Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Senin (29/6/2026) setelah ketegangan militer antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat. Situasi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah yang menjadi salah satu pusat produksi energi dunia.
Data perdagangan menunjukkan minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) naik 1,3% menjadi US$70,17 per barel. Sementara itu, minyak acuan global Brent turut menguat 0,78% ke level US$72,55 per barel.
Sebelumnya, harga minyak dunia sempat mengalami tekanan. Pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026), harga WTI berada di bawah US$70 per barel untuk pertama kalinya sejak 27 Februari 2026 atau sehari sebelum konflik bersenjata yang melibatkan Iran pecah.
Di tengah upaya diplomatik yang sempat membuka peluang meredakan konflik, pejabat AS menyatakan kedua pihak telah menyepakati penghentian sementara aksi militer. Kesepakatan itu juga mencakup jaminan keamanan bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.
"Pembahasan teknis dijadwalkan terus berlanjut untuk seluruh aspek nota kesepahaman (MoU)," kata seorang pejabat AS.
Pejabat tersebut menambahkan bahwa kedua belah pihak akan menghentikan sementara aksi permusuhan sehingga kapal-kapal dapat melintas di Selat Hormuz tanpa hambatan.
Namun, perkembangan tersebut tidak berlangsung lama. Situasi kembali memanas setelah militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran menyusul insiden kapal tanker komersial di Selat Hormuz yang dilaporkan terkena proyektil pada Sabtu (27/6/2026).
Ketegangan juga meluas ke kawasan Teluk setelah Kuwait dan Bahrain melaporkan adanya serangan rudal serta drone pada malam yang sama.
Eskalasi terbaru itu mendorong Presiden AS Donald Trump melontarkan peringatan keras kepada Iran pada Minggu (28/6/2026).
"Pesawat tempur Amerika Serikat baru saja menghantam lokasi penyimpanan rudal dan drone Iran serta situs radar pantai karena kembali melanggar perjanjian gencatan senjata," tulis Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Trump juga menegaskan bahwa Washington dapat mengambil langkah militer yang lebih besar apabila Iran kembali melakukan pelanggaran terhadap kesepakatan tersebut.
Sementara itu, Komando Pusat AS (CentCom) menyatakan jet tempur Amerika Serikat menyerang 10 target militer Iran di sekitar Selat Hormuz sebagai respons atas serangan drone terhadap kapal tanker berbendera Panama, M/T Kiku.
Menurut CentCom, kapal tanker tersebut sedang mengangkut lebih dari 2 juta barel minyak mentah ketika melintasi Selat Hormuz.
Insiden tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap distribusi pasokan minyak dunia. Selat Hormuz selama ini menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling strategis karena menjadi lintasan utama pengiriman minyak mentah dari kawasan Timur Tengah ke berbagai negara. Ketidakpastian keamanan di kawasan itu pun terus menjadi faktor yang memengaruhi pergerakan harga minyak dunia di pasar internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

4 hours ago
1

















































