Pertumbuhan ekonomi ilustrasi. - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA — Kabar baik datang dari pergerakan harga di Kota Jogja. Badan Pusat Statistik Kota Jogja mencatat terjadi deflasi tipis pada April 2026 sebesar 0,01% secara bulanan (month-to-month). Kondisi ini menandakan harga kebutuhan masyarakat mulai melandai setelah sempat melonjak saat momentum Lebaran.
Kepala BPS Kota Jogja, Joko Prayitno, menjelaskan penurunan harga terutama terjadi pada komoditas pangan yang sebelumnya mengalami lonjakan signifikan selama Ramadan hingga Lebaran.
“Setelah Lebaran, harga-harga mulai turun, terutama bahan makanan. Ini yang mendorong terjadinya deflasi meski tipis,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).
Harga Pangan Turun, Jadi Pemicu Utama
Penurunan harga paling terasa pada sejumlah komoditas seperti daging ayam ras, cabai rawit, telur ayam ras, hingga emas perhiasan yang turut memberi andil terhadap deflasi. Fenomena ini merupakan pola musiman yang hampir selalu terjadi setiap tahun, di mana harga melonjak saat permintaan tinggi menjelang hari besar keagamaan, lalu kembali normal setelahnya.
Sebelumnya, pada Maret 2026 saat Ramadan dan Lebaran, sejumlah bahan pokok seperti beras, gula, hingga cabai rawit sempat mengalami kenaikan harga. Bahkan komoditas seperti emping juga ikut terdongkrak karena meningkatnya konsumsi masyarakat.
Namun memasuki April, tekanan harga mulai mereda seiring turunnya permintaan.
Inflasi Tahunan Tetap Terkendali
Meski terjadi deflasi bulanan, secara tahunan (year-on-year) inflasi Kota Jogja masih berada di angka 2,62%. Angka ini menunjukkan kondisi ekonomi yang relatif stabil dan terkendali.
Bahkan, angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya yang sempat mendekati 4%. Ini menjadi sinyal positif bahwa pengendalian harga di Kota Jogja berjalan cukup efektif.
Secara rinci, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang terbesar inflasi tahunan dengan andil 1,08%. Disusul kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,62%. Komoditas utama pendorong inflasi antara lain emas perhiasan dan beras.
Mei Diprediksi Stabil Meski Ada Iduladha
Memasuki Mei 2026, BPS memperkirakan pergerakan harga akan tetap terkendali meski ada momen Iduladha. Kenaikan harga diprediksi tidak akan setinggi saat Lebaran karena tingkat mobilitas dan konsumsi masyarakat cenderung lebih rendah.
Permintaan memang berpotensi meningkat, khususnya untuk daging dan bumbu dapur, tetapi tidak akan memberikan tekanan signifikan terhadap inflasi.
Sinyal Positif Daya Beli Masyarakat
Deflasi tipis ini juga bisa menjadi indikasi mulai pulihnya keseimbangan antara pasokan dan permintaan. Harga yang stabil diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.
Namun demikian, pemerintah tetap diminta waspada terhadap potensi gejolak harga, terutama menjelang hari besar keagamaan dan faktor eksternal seperti distribusi dan cuaca.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

4 hours ago
6

















































