Kampus ISI Yogyakarta. / Gmaps
Harianjogja.com, BANTUL—Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja membuka penerimaan mahasiswa baru tahun 2026 dengan total kuota sekitar 1.700 orang. Sebagian kursi telah terisi melalui jalur prestasi, sementara sisanya masih terbuka bagi calon mahasiswa.
Sekitar 30 persen dari total kuota tersebut sudah terisi melalui Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP). Sisanya kini dialokasikan untuk jalur Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) dan seleksi mandiri.
Rektor Isi Yogyakarta, Irwandi, menjelaskan pembagian kuota tahun ini tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jalur UTBK mendapat porsi sekitar 40 persen, sedangkan jalur mandiri sebesar 30 persen.
“Untuk UTBK, yang merupakan kombinasi antara tes komputer dan portofolio, itu kami kuotanya sebesar 40 persen. Nah, sisanya Mandiri 30 persen,” kata Irwandi, Senin (13/4/2026).
Jalur Afirmasi dan Akses Daerah
Isi Yogyakarta juga membuka jalur afirmasi bagi calon mahasiswa dari daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Jalur ini memberi kesempatan bagi peserta berprestasi dengan dukungan rekomendasi dari pemerintah daerah.
Menurut Irwandi, seleksi tetap berbasis kualitas agar kampus mampu mencetak mahasiswa berpotensi yang dapat berkembang hingga tingkat global.
“Itu tentu berbasis pada prestasi karena kami ingin Isi Yogyakarta ini menjadi kawah candradimuka untuk mahasiswa yang memiliki potensi,” ujarnya.
Program Baru S2 Desain
Selain penerimaan mahasiswa baru jenjang sarjana, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Isi Yogyakarta juga membuka program studi baru untuk jenjang magister (S2) Desain mulai semester depan.
Dekan FSRD Isi Yogyakarta, Muhamad Sholahuddin, menyebut kuota awal program ini berkisar antara 20 hingga 30 mahasiswa.
Program tersebut diperuntukkan bagi lulusan sarjana desain, seperti Desain Interior, Desain Komunikasi Visual (DKV), Desain Produk, hingga Fashion Desain.
Untuk biaya, SPP ditetapkan sebesar Rp8.000.000, biaya pendaftaran Rp340.000, serta biaya TOEFL Rp450.000. Selain itu, calon mahasiswa diwajibkan menyiapkan proposal penelitian atau perancangan sebagai bagian dari seleksi.
Jejak Awal ISI Yogyakarta sebagai Pusat Pendidikan Seni
Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta merupakan perguruan tinggi negeri seni yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kampus ini berdiri berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 39 Tahun 1984 pada 30 Mei 1984 dan diresmikan pada 23 Juli 1984 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu. ISI Yogyakarta memiliki kewenangan menyelenggarakan pendidikan seni hingga jenjang tertinggi serta dikenal sebagai salah satu institusi seni terbesar di Indonesia dengan cakupan bidang seni yang lengkap.
Pembentukan ISI Yogyakarta merupakan hasil penggabungan tiga lembaga pendidikan seni yang telah lebih dahulu berdiri dan berperan besar dalam perkembangan seni di Indonesia, yakni Sekolah Tinggi Seni Rupa Indonesia (ASRI), Akademi Musik Indonesia (AMI), dan Akademi Seni Tari Indonesia (ASTI). Dengan latar historis tersebut, ISI Yogyakarta terus berkembang sebagai pusat pendidikan, penciptaan, dan pengembangan seni yang melahirkan banyak seniman serta profesional kreatif yang berkiprah di tingkat nasional maupun internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

8 hours ago
4
















































