Bedah buku berjudul Pilar-Pilar Pemberdayaan Masyarakat Desa di Kalurahan Trirenggo, Bantul, Kamis (16/4) - Yosef Leon
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bekerja sama dengan DPRD DIY menggelar bedah buku Pilar-Pilar Pemberdayaan Masyarakat Desa di Kalurahan Trirenggo, Bantul, Kamis (16/4). Kegiatan ini didorong untuk memperkuat peran kalurahan sebagai ujung tombak pembangunan berbasis potensi lokal.
Anggota DPRD DIY, Amir Syarifudin, menilai isi buku tersebut relevan dengan arah kebijakan pemerintah saat ini, terutama dalam penguatan ekonomi desa melalui program Koperasi Merah Putih. Menurutnya, lurah menjadi garda terdepan dalam menggerakkan program tersebut karena memiliki kewenangan luas sebagaimana diatur dalam undangundang desa.
“Kalurahan sekarang punya potensi besar yang tidak kalah dengan level pemerintahan lain. Kewenangan pengelolaan, termasuk tanah kas desa, sepenuhnya ada di kalurahan. Ini yang harus menjadi daya ungkit ke depan,” ujarnya.
Ia menambahkan peningkatan pendapatan desa menjadi indikator penting kemajuan kalurahan. Karena itu, pemerintah kalurahan dituntut mampu melahirkan ide-ide kreatif yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Bedah buku itu, kata dia, diharapkan menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat untuk mengenali potensi sekaligus mencari solusi atas persoalan di wilayah masing-masing.
"Maka setelah bedah buku ini, peserta akan paham dengan persoalan dan potensi masing-masing desa sehingga bisa berinovasi," ujarnya.
Pustakawan Ahli Utama DPAD DIY, Budiyono, menyampaikan perpustakaan hadir untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui budaya literasi. Ia menekankan, akses membaca kini tidak terbatas pada kunjungan fisik, tetapi juga bisa dilakukan melalui layanan digital.
“Kami memiliki sekitar 450.000 judul buku, termasuk koleksi digital. Sebagian kami hadirkan dalam kegiatan ini dengan tema pemberdayaan masyarakat desa agar bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat,” katanya.
Budiyono mengungkapkan, berdasarkan data UNESCO, tingkat minat baca masyarakat Indonesia masih rendah, yakni hanya satu dari 1.000 orang. Di DIY, angka tersebut sedikit lebih baik dengan 49 orang per 1.000 penduduk yang memiliki kebiasaan membaca.
Program bedah buku ini didanai melalui APBD DIY dan telah dirancang menjangkau 200 titik di seluruh wilayah. Hingga pertengahan April, sebanyak 32 titik telah terealisasi. "Kegiatan ini kami harapkan menjadi ruang dialog bagi masyarakat untuk mengkaji isuisu seperti koperasi, BUMDes, hingga pengembangan UMKM desa," ujar dia.
Penulis buku, Jidda Rabbani, menekankan pentingnya pembangunan desa yang inklusif dengan membuka ruang partisipasi luas bagi masyarakat. Ia juga mendorong optimalisasi pilar ekonomi desa, seperti BUMDes dan koperasi merah putih, sebagai instrumen peningkatan kesejahteraan berbasis pengelolaan aset dan kekuatan kolektif warga.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
4

















































