Ketika Jam Gadang Dibangun Bukan dengan Putih Telur

3 weeks ago 26

TARUNA - hayati

KLIKPOSITIF -Kabut tipis pagi masih menggantung di udara Bukittinggi ketika Jam Gadang berdiri tenang di tengah kota. Jarumnya berdetak pelan, seolah mengukur waktu sekaligus menyimpan cerita. Bagi banyak orang, menara jam itu bukan sekadar penunjuk waktu—ia adalah ikon, penanda ingatan kolektif, dan kebanggaan warga Minangkabau.

Namun ada satu cerita yang turun-temurun dipercaya: Jam Gadang dibangun menggunakan campuran putih telur.

Narasi itu begitu populer. Diceritakan dari mulut ke mulut, masuk buku pelajaran lokal, hingga menjadi bahan obrolan wisatawan. Putih telur dipercaya menjadi “perekat sakti” yang membuat bangunan kolonial itu tetap kokoh hampir satu abad.

Sayangnya, sains berkata lain. Penelitian konstruksi modern mulai membongkar legenda tersebut.
Peneliti Khadavi dan Yulcherlina dalam Jurnal Rekayasa Konstruksi Mekanika Sipil edisi Maret 2018 menemukan bahwa struktur Jam Gadang sama sekali tidak bergantung pada material organik seperti putih telur. Hasil uji teknis menunjukkan bangunan ini menggunakan beton bertulang.

Kuat tekan rata-rata beton tercatat ≥ 25 MPa, setara dengan standar bangunan struktural modern. Pondasinya berupa pasangan batu masif berbentuk prisma dengan kedalaman mencapai 1,8 meter di bawah tanah.

Struktur menaranya juga terukur presisi: Kolom lantai dasar: 800 × 800 mm, Kolom puncak: 400 × 400 mm, Tulangan longitudinal: 18 mm, Tulangan geser: 10 mm, dan Balok dan pelat: struktur komposit dengan balok baja profil H 105.90.10.25

“Secara teknik, ini jelas konstruksi beton bertulang,” tulis para peneliti. Dengan kata lain, Jam Gadang dibangun menggunakan teknologi yang pada masanya sudah cukup maju.

Joni Wongso, pengajar di Prodi Arsitektur Universitas Bung Hatta, mendukung temuan tersebut. Selain kontruksi menggunakan beton bertulang, dinding Jam Gadang diplester dengan campuran pasir, kapur, dan tanah liat. Namun struktur utamanya tetap beton.

Ia memunculkan hipotesis menarik. “Secara logika waktu, sangat mungkin menggunakan Semen Padang,” ujarnya.

Jam Gadang dibangun pada 1926. Sementara Semen Padang sudah berdiri dan berproduksi sejak 1910. Artinya, secara geografis dan historis, suplai semen lokal sangat masuk akal.

Meski demikian, ia menegaskan belum ada dokumen resmi yang membuktikan hal itu. “Ini prediksi berdasarkan konteks sejarah,” katanya.

Jika dinding Jam Gadang, seperti dikatakan Joni diplester, artinya dinding Jam Gadang dibuat menggunakan batu bata. Temuan ini diperkuat dengan cerita Vesco Datuak Rajo Mangkuto. Ia adalah keturunan dari A Datuak Rajo Dilangik yang merupakan pengusaha bata merah di Bukittinggi.

Cerita Vesco, A Datuak Rajo Mangkuto adalah penyuplai batu bata merah untuk konstruksi menara.
Pabrik bata miliknya berada di Pondok Batu DRD, kawasan perbukitan yang kini telah hilang jejak fisiknya. Lokasinya diperkirakan di sekitar Surau Buya Gusrizal, Campago Ipuh.

Menurut Vesco, ada cerita unik tentang proses seleksi bata. Saat itu digelar semacam sayembara kualitas.

Batu bata dinaikkan ke atas pedati, lalu dimiringkan hingga jatuh. Bata yang retaknya paling sedikit lolos ke tahap berikutnya. Begitu seterusnya sampai ditemukan yang paling kuat.

“Banyak yang ikut. Tapi bata milik kakek kami yang menang,” ujarnya. Tak ada hadiah uang. Hanya nama.

Namun pada masa itu, namanya tercatat sebagai bagian dari pembangunan Jam Gadang sudah menjadi kebanggaan tersendiri.

Bata-bata itu dibuat secara tradisional. Tanah liat diaduk menggunakan tenaga kerbau yang berjalan memutar. Cara sederhana, tapi menghasilkan material padat dan kuat. “Pabriknya masih jalan sampai awal 2000-an,” kenang Vesco.

Dari penelusuran sejarah lokal, A Datuak Rajo Dilangik pernah dianugerahi bintang emas tokoh daerah oleh Wali Kota Bukittinggi, sebagai pengakuan kontribusinya.

Tahun ini, Jam Gadang berusia 1 abad (1926-2026). Ia masih berdiri kokoh di jantung kota. Bangunan dengan tinggi mencapai 28,295 meter ini masih kokoh, meski beberapa kali daerah ini diguncang gempa yang cukup kuat.

Namun, Jam Gadang tetap bertahan. Ia menjadi penanda betapa kokohnya bangunan ini. Ia memang dibuat dengan kolaborasi antara ilmu, industri, dan kearifan lokal. (*)

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news