
Pemanfaatan sampah organik sebagai bahan bakar kompor ditinjau langsung oleh Wali Kota Jogja, Hasto Wardoyo, beberapa waktu lalu. Ist/ Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA—Warga Giwangan, Kemantren Umbulharjo, Kota Jogja, menghadirkan inovasi pengelolaan sampah organik dengan memanfaatkan limbah ranting menjadi sumber energi alternatif melalui Kompor Tuwanggana. Inovasi ini tidak hanya membantu mengurangi timbunan sampah ranting di kawasan perkotaan, tetapi juga menjadi solusi energi sederhana yang dapat dimanfaatkan masyarakat sehari-hari.
Pengelolaan sampah mandiri sebenarnya telah lebih dahulu diterapkan di wilayah tersebut. Selain sisa makanan yang dimanfaatkan sebagai pakan ikan, daun-daun kering dan berbagai limbah organik lainnya juga diolah dengan metode ramah lingkungan untuk mengurangi beban sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir.
Pinitua Tuwanggana Kelurahan Giwangan, Slamet Haryanto, menjelaskan selama ini persoalan daun kering relatif dapat diatasi melalui pemanfaatan lubang biopori. Namun, limbah berupa ranting dan batang pohon berukuran kecil masih menjadi tantangan karena proses penguraiannya membutuhkan waktu cukup lama.
“Kita melihat itu potensi energi. Nah itulah makanya saya bikin kompor itu. Kalau simbah-simbah dulu pakai keren (tungku kayu bakar) jadi acak-acakan kotor. Nah bagaimana buat keren tapi praktis dan sekarang lahan sempit,” ujarnya, Senin (22/6/2026).
Berangkat dari kondisi tersebut, muncul gagasan untuk menciptakan kompor kayu berbahan logam yang lebih praktis, ringkas, dan bersih dibanding tungku tradisional. Kompor ini dirancang dengan wadah khusus untuk memasukkan ranting, dilengkapi penutup, serta tempat penampungan abu hasil pembakaran agar penggunaannya lebih nyaman di lingkungan permukiman.
Inovasi tersebut kemudian diberi nama Kompor Tuwanggana. Nama itu terinspirasi dari istilah dalam bahasa Jawa, yakni “tuangno”, yang berarti menuangkan ranting ke dalam tungku sebagai bahan bakar. Desainnya sengaja dibuat sederhana agar sesuai dengan kondisi permukiman perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan.
Saat ini, biaya pembuatan satu unit Kompor Tuwanggana masih mencapai sekitar Rp325.000 karena seluruh komponennya menggunakan bahan besi baru. Hingga kini, baru dua unit kompor yang berhasil dibuat sebagai bagian dari tahap pengembangan dan uji coba.
Yanto berharap pada tahap berikutnya kompor tersebut dapat diproduksi menggunakan limbah logam bekas sehingga biaya pembuatannya lebih murah sekaligus mendukung konsep daur ulang. Ia juga membuka peluang kerja sama dengan pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) dalam proses pengelasan serta dukungan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
“Harapannya kompor dibuat pakai limbah (logam bekas) kemudian, dibengkel di kelurahan, nanti kreativitas dari masyarakat. Kemudian kompor itu kita bagikan ke masyarakat. Menyelesaikan permasalahan sampah organik ranting sekaligus soal energi kalau gas langka misalnya,” tuturnya.
Dari hasil uji coba yang telah dilakukan, Kompor Tuwanggana dinilai cukup efisien. Pengguna tidak membutuhkan banyak ranting untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, mulai dari merebus air, menanak nasi, hingga menggoreng makanan.
Bahan bakar yang digunakan berasal dari limbah ranting pohon produktif yang tumbuh di lingkungan Giwangan, seperti pohon kelengkeng, alpukat, anggur, dan manggis. Limbah yang sebelumnya hanya menumpuk dan berpotensi menjadi sampah kini dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi yang bernilai guna.
Tidak hanya menghasilkan energi, sisa pembakaran berupa abu juga dimanfaatkan kembali. Abu tersebut dicampur dengan hasil pengolahan biopori serta kotoran ternak yang telah difermentasi untuk dijadikan media tanam dan pupuk organik.
Pemanfaatan kompor ini juga mendukung kegiatan pengolahan limbah makanan. Warga menggunakan Kompor Tuwanggana untuk merebus sisa makanan sebelum diberikan sebagai pakan ikan, sehingga kualitas pakan lebih aman dan tidak membahayakan ikan yang dipelihara.
Dengan cara tersebut, pengelolaan sampah organik di Giwangan membentuk siklus pemanfaatan yang saling terhubung dan berkelanjutan, sekaligus menjadi contoh solusi pengelolaan sampah organik perkotaan yang dapat diterapkan di berbagai wilayah lain di Kota Jogja.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

5 hours ago
4

















































