KLIKPOSITIF- Pelayanan penanganan pasien di RSUP Dr. M. Djamil Padang menjadi sorotan publik setelah seorang pasien batita dilaporkan meninggal dunia usai menjalani perawatan medis di rumah sakit tersebut.
Peristiwa ini viral di media sosial setelah ibu korban, Nuri Khairma, mengungkap kronologi kejadian yang menimpa putranya, Alceo. Bocah tersebut dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (3/4/2026).
Nuri menjelaskan, peristiwa bermula pada Kamis (26/3/2026), saat Alceo mengalami luka bakar akibat air panas. Ia sempat mendapat penanganan awal di RS Hermina sebelum akhirnya dirujuk ke RSUP Dr. M. Djamil Padang untuk menjalani operasi debridement.
Namun, setibanya di RSUP Dr. M. Djamil, pihak keluarga mengaku menghadapi sejumlah kendala, baik dari sisi administrasi maupun penanganan awal. Alceo disebut harus menunggu cukup lama di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dalam kondisi kesakitan sebelum mendapatkan perawatan.
Operasi kemudian dilakukan pada Jumat malam (27/3/2026). Setelah itu, Alceo dirawat di ruang HCU bedah dan dalam beberapa hari awal kondisinya sempat menunjukkan perbaikan.
Memasuki awal April, kondisi Alceo justru dilaporkan menurun. Orang tua korban mengaku melihat sejumlah gejala seperti demam, luka yang mengeluarkan cairan, hingga perubahan warna pada tubuh. Mereka juga menyebut kesulitan mendapatkan respons cepat dari tenaga medis.
“Kami sudah berkeliling mencari dokter, tapi tidak ada tanggapan serius saat itu,” ungkap Nuri.
Puncak kejadian terjadi pada Kamis dini hari (2/4/2026), saat Alceo mengalami kejang dan kesulitan bernapas. Nuri mengaku telah berulang kali meminta bantuan, namun penanganan dinilai tidak segera diberikan.
“Anak kami menangis kejang dan diabaikan sampai subuh,” katanya.
Setelah melalui perdebatan dengan pihak rumah sakit, Alceo akhirnya dipindahkan ke ruang PICU pada siang hari. Namun, sehari kemudian, tepatnya Jumat (3/4/2026), ia dinyatakan meninggal dunia.
Nuri menilai pelayanan yang diterima jauh dari harapan, mulai dari sikap petugas hingga penanganan medis yang diduga tidak sesuai standar operasional prosedur (SOP).
“Anak saya terus menangis histeris, sementara kami harus menunggu lama. Bahkan sempat diminta mendaftar ulang,” ujarnya.
Selain itu, ia juga mengaku kesulitan berkomunikasi dengan tenaga medis serta minimnya informasi terkait perkembangan kondisi anaknya. Ia mencontohkan, saat menanyakan rencana tindakan medis, dirinya justru mendapat respons yang dinilai kurang baik.
“Saya tanya, maaf buk..jadi apa rencana tindakan untuk anak saya?”
dengan ketus petugas ini menjawab :”INI MAU SAYA CATAT DULU, YA TUNGGU LAH!,” jelasnya
Menurut Nuri, pihak keluarga telah dua kali melakukan mediasi dengan pihak rumah sakit, termasuk manajemen. Namun hingga kini, mereka merasa belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Ia berharap ada tindakan tegas terhadap petugas yang diduga tidak bekerja sesuai SOP, agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
“Kehilangan anak yang kami cintai tidak akan tergantikan. Kami hanya ingin ada tindakan tegas agar ini tidak terjadi pada orang lain,” tuturnya.
Saat ditanya kemungkinan menempuh jalur hukum, Nuri mengaku masih mempertimbangkannya.
“Kami baru saja kehilangan anak yang sangat kami sayangi. Enam tahun menunggu, tapi harus pergi dengan kondisi seperti ini,” katanya.
Ia berharap peristiwa ini menjadi perhatian pemangku kebijakan. Menurutnya, rumah sakit seharusnya menjadi tempat masyarakat mendapatkan pelayanan terbaik, bukan sebaliknya.

13 hours ago
5


















































