Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, memaparkan materinya dalam bedah buku yang digelar DPAD DIY bersama DPRD DIY di Margokaton, Kapanewon Seyegan, Selasa (14/4) - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY bersama DPRD DIY menggelar bedah buku di berbagai pelosok daerah. Kali ini, di Margokaton, Kapanewon Seyegan, para pemuda diajak membedah buku berjudul Menjadi Pemuda di Zaman yang Tak Mudah: Kompleksitas, Kerendahan dan Upaya Menemukan Arah.”
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, yang hadir sebagai salah satu narasumber menilai kegiatan bedah buku semacam ini sangat penting untuk mendorong minat baca masyarakat. Tak hanya minat baca yang coba ditingkatkan, kegiatan ini juga bisa meningkatkan pengetahuan para pesertanya dari buku yang dibedah.
“Saya mendorong dengan bedah buku ini, nanti menambah minat, terus juga materi dari buku itu bisa bermanfaat buat masyarakat,” kata Rahayu, Selasa (14/4) Dalam kegiatan kali ini, topik kepemudaan dipilih untuk dibedah secara bersamasama.
Oleh karena itu, meski mengundang berbagai kalangan, para peserta bedah buku kali banyak dihadiri dari kalangan pemuda. Rahayu punya alasan tersendiri memilih tema kepemudaan dalam bedah buku kali ini. Menurutnya para pemuda butuh kiat-kiat untuk menghadapi era masa kini. Dengan berbagai kemajuan yang ada, Rahayu mendorong para pemuda untuk bisa lebih kreatif di era sekarang.
Berikan Motivasi
Pustakawan Ahli Pertama DPAD DIY, Erwin Novianto menjelaskan topik kepemudaan ini sengaja dipilih untuk memberikan motivasi kepada pemuda, khususnya di Kalurahan Margokaton, Seyegan, Sleman. Itulah sebabnya, pada gelaran kali ini, bedah buku di Margokaton diikuti 115 peserta yang mayoritas anak muda. “Agar pemuda di sini dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan yang sangat memotivasi masyarakat di sekitarnya,” ujarnya.
Di tahun ini, DPAD DIY menggelar bedah buku di empat kabupaten dan satu kota dengan total 200 titik. Di tiap titiknya berbagai judul buku dibedah sesuai dengan potensi dan kondisi masyarakat di sana. Salah satu peserta, Shoffia Nurisnaeni menilai kegiatan bedah buku semacam ini sangatlah bagus. Dari pandangannya kegiatan bedah buku bisa membuka cakrawala pemikiran para peserta. “Acaranya sangat bagus karena membuat pemuda itu terbuka pemikirannya mengenai menjadi pemuda di zaman yang tidak mudah,” ujarnya.
Shoffia mengaku belum pernah mengikuti kegiatan semacam ini. Meski baru pertama ikut, Shoffia merasa acara ini bisa membuka pemikiran pemuda di era modern. Terlebih, ia jarang membaca buku dengan topik serupa, selain buku fiksi atau buku referensi perkuliahannya“Kalau membaca buku-buku yang kayak gini tuh agak jarang, tapi untuk baca saya lebih sering ke buku-buku yang fiksi atau terkait tugas kuliah,” ujarnya.
Shoffia mengusulkan agar kegiatan semacam ini bisa berkolaborasi dengan perguruan tinggi. Selain itu, di bedah buku berikutnya bisa membahas judul-judul yang diminati generasi muda, termasuk buku yang membahas potensi desa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

3 hours ago
3

















































