KLIKPOSITIF – Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, kinerja pasar keuangan domestik pada awal 2026 menunjukkan dinamika yang beragam. Pasar saham Indonesia menutup perdagangan Januari 2026 dengan pelemahan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat berada di level 8.329,61 per 30 Januari 2026, atau turun 3,67 persen secara bulanan (mtm) maupun sejak awal tahun (ytd).
Dilansir dari rilis OJK pada Jumat pagi (6/2), tekanan juga dialami indeks saham unggulan. LQ45 melemah 1,54 persen, sementara IDX80 turun lebih dalam sebesar 2,56 persen secara mtm maupun ytd. Meski demikian, aktivitas transaksi masih tergolong solid. Rerata Nilai Transaksi Harian (RNTH) saham sepanjang Januari 2026 mencapai Rp34,91 triliun, mencerminkan tingginya minat investor di tengah volatilitas pasar.
“Di pasar obligasi, indeks komposit ICBI mengalami kontraksi tipis 0,16 persen ke level 440,15. Sejalan dengan itu, yield Surat Berharga Negara (SBN) rata-rata naik 8,28 basis poin. Investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) di pasar SBN sebesar Rp0,10 triliun, sementara di pasar obligasi korporasi, net sell nonresiden mencapai Rp0,64 triliun,” papar rilis tersebut.
Di sisi lain, industri pengelolaan investasi justru menunjukkan kinerja yang positif. Asset Under Management (AUM) mencapai Rp1.081,47 triliun per 29 Januari 2026, tumbuh 3,71 persen. Sementara itu, Nilai Aktiva Bersih (NAB) Reksa Dana meningkat lebih kuat sebesar 5,73 persen menjadi Rp714,04 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh arus dana masuk investor yang solid, dengan net subscription Reksa Dana mencapai Rp41,18 triliun.
Jumlah investor pasar modal juga terus bertambah. Sepanjang Januari 2026, tercatat 702 ribu investor baru bergabung. Dengan demikian, secara keseluruhan jumlah investor pasar modal domestik tumbuh 3,45 persen menjadi 21,07 juta investor.
Dari sisi pendanaan, hingga 30 Januari 2026, korporasi berhasil menghimpun dana sebesar Rp4 triliun melalui 6 Penawaran Umum Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk. Ke depan, terdapat 26 rencana penawaran umum dalam pipeline dengan nilai indikatif mencapai Rp19,32 triliun.
Penggalangan dana melalui Securities Crowdfunding (SCF) juga terus berkembang. Hingga 28 Januari 2026, terdapat 17 efek baru dengan dana terhimpun sebesar Rp35,40 miliar, serta penambahan 7 penerbit baru. Secara kumulatif, SCF telah mencatat 995 penerbitan efek dari 592 penerbit, melibatkan 193.789 pemodal, dengan total dana terhimpun mencapai Rp1,85 triliun.
Sementara itu, di pasar derivatif keuangan, sejak Januari 2025 hingga awal 2026, 113 pihak telah memperoleh persetujuan prinsip dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Namun, aktivitas transaksi pada Januari 2026 mengalami penurunan. Volume transaksi tercatat 42.065 lot, turun 31,73 persen, dengan frekuensi transaksi sebanyak 224.623 kali, atau turun 6,35 persen.
Di Bursa Karbon, sejak diluncurkan pada September 2023 hingga 30 Januari 2026, tercatat 151 pengguna jasa telah terdaftar. Sepanjang Januari 2026, volume transaksi bertambah 117.455 tCO₂e, sehingga total transaksi mencapai 1.929.388 tCO₂e dengan nilai akumulatif sebesar Rp91,70 miliar.
Dalam aspek penegakan hukum, OJK terus memperkuat pengawasan. Sepanjang Januari 2026, OJK menjatuhkan sanksi administratif berupa denda sebesar Rp3,63 miliar kepada 3 pihak, serta menetapkan tindakan tertentu kepada 2 pihak atas pelanggaran di bidang pasar modal, keuangan derivatif, dan bursa karbon.
Selain itu, OJK juga mengenakan denda keterlambatan sebesar Rp6,27 miliar kepada 60 pelaku usaha jasa keuangan, serta menjatuhkan 25 sanksi peringatan tertulis atas pelanggaran non-kasus.

3 weeks ago
34


















































