Tangkapan layar - ilustrasi mi lethek khas Yogyakarta. ANTARA/Sean Filo Muhamad - Instagram kpr_kebumen
Harianjogja.com, JOGJA—Produk pangan tradisional khas Jogja, mi lethek, kembali mencuri perhatian setelah hasil riset terbaru menunjukkan keunggulan dari sisi kesehatan. Penelitian yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bahwa mi lethek memiliki kandungan pati yang lebih ramah bagi tubuh.
Peneliti dari Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan BRIN, Hermawan, mengungkapkan mi lethek mengandung sekitar 63 persen slowly digestible starch (SDS). Jenis pati ini dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga pelepasan glukosa ke dalam darah berlangsung secara bertahap.
“Karakter ini membuat mi lethek tidak memicu lonjakan gula darah secara cepat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (16/4/2026).
Indeks Glikemik Lebih Rendah
Selain kandungan SDS yang tinggi, mi lethek juga memiliki nilai indeks glikemik di kisaran 68–69. Angka ini lebih rendah dibandingkan mi instan berbahan dasar tepung terigu yang umumnya memiliki indeks glikemik di atas 80.
Perbedaan ini menjadikan mi lethek sebagai alternatif pangan yang lebih aman untuk membantu mengontrol kadar gula darah, terutama bagi masyarakat yang berisiko mengalami gangguan metabolik seperti diabetes.
Dipengaruhi Proses Tradisional
Keunggulan nutrisi tersebut tidak lepas dari proses produksi mi lethek yang masih mempertahankan metode tradisional. Bahan baku utama berupa singkong kering atau gaplek difermentasi, kemudian digiling menggunakan batu, dikukus berulang, dan dijemur secara alami di bawah sinar matahari.
Menurut Hermawan, rangkaian proses ini membentuk struktur pati yang lebih kompleks sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna oleh tubuh.
“Metode tradisional yang diwariskan turun-temurun ini justru memberikan nilai tambah dari sisi kesehatan dan kualitas produk,” jelasnya.
Potensi untuk Diversifikasi Pangan
Temuan ini membuka peluang besar bagi pengembangan mi lethek sebagai bagian dari strategi diversifikasi pangan nasional. Dengan bahan baku singkong yang mudah dibudidayakan dan adaptif terhadap berbagai kondisi lingkungan, mi lethek dinilai dapat menjadi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap gandum impor.
Selain itu, pengembangan lebih lanjut juga memungkinkan dilakukan, seperti fortifikasi dengan bahan pangan lokal lain tanpa menghilangkan cita rasa dan karakter tradisionalnya.
Lebih dari Sekadar Kuliner
Bagi masyarakat Jogja, mi lethek bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari warisan budaya. Dengan dukungan riset ilmiah, potensi kuliner tradisional ini kini semakin diakui sebagai pangan sehat yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Mi lethek adalah perpaduan antara budaya dan sains. Dengan pendekatan yang tepat, produk ini bisa menjadi solusi pangan sehat sekaligus memperkuat kemandirian pangan nasional,” pungkas Hermawan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

6 hours ago
6

















































