Misteri Matinya Tentara Pusat dan Si Dukun Kampung

1 day ago 6

Hayati Sumbar

Ia pilin lagi bunga raya itu sebagaimana biasa ia lakukan kepada tumbuhan di halaman belakang. Tubuhnya yang kian rukuk tak menghalangi niatnya menjalani profesi sebagai dukun kampung. Tapi setelah hari itu, suatu petang yang murung, ia mulai ragu dalam proses pengobatan termasuk saat ia memesan tumbuhan herbal ke peladang. Biasanya memang begitu, tumbuhan-tumbuhan herbal yang sulit ditemui di sekitaran pemukiman masyarakat kerap ia pesankan kepada peladang. Terutama kepada kelompok pemikat burung.

Suatu hari yang mendung, ia nampak meremas daun bunga raya di beranda rumah sembari mengumpat setengah mengutuk perkataan seorang pasien yang meragukan kemampuannya, katanya, masih hapalkah Ayek nama-nama tumbuhan untuk obat itu, jangan-jangan kematian… ia terus mengulang-ulang perkataan itu sambil terus memiuh daun-daun di halaman belakang. Sesekali ia mematahkan batang-batang yang sudah dewasa kemudian menancapkannya ke tanah.

Ayek Milat memang sejak lama dikenal sebagai dukun kampung di Goligadi. Namanya menjadi masyur ketika seorang Tentara Pelajar menerima timah panas dari Tentara Pusat. Gejolak masa PRRI itu menjadi cikal bakal Ayek Milat muncul sebagai dukun keluarga Muwar, seorang tuan tanah di Goligadi. Keluarga Ayek Milat sebenarnya sudah punya rekam jejak yang tersohor di Goligadi sebagai ahli nujum kerajaan Bandarsepuluh pada masa kolonial. Tetapi setelah ayah Milat meninggal, warisan itu tidak lagi muncul. Nyaris tiga dekade tidak mencuat isu bahwa keilmuan itu turun kepada anaknya. Meski sang ayah meninggalkan sepuluh orang anak. Ayek Milat adalah anak bungsu dari pernikahan ayahnya di dusun Goligadi. Di daerah ini sang ayah memiliki empat orang anak dari istri yang berbeda.

Milat tahu ia memiliki sembilan saudara lainnya lantaran suatu hari sebelum ibunya meninggal mengatakan bahwa sang ayah punya banyak istri. Milat pun mencari tahu keberadaanya ayahnya di Bandarsepuluh, daerah yang pada masa itu masih memakai sistem kerajaan. Milat menemui kakeknya di Bandarsepuluh dan di sanalah ia mengetahui saudara-saudaranya. Sepulang dari sanalah Milat bertemu dengan Datuk Hitam seorang pawang hujan yang saat itu hujan turun begitu deras, bahkan tak sanggup ditempuh. Tiba-tiba Datuk Hitam berjalan di derasnya hujan.

“Orang gila dari mana pula itu!” Gerutunya.

Kemudian lelaki itu menoleh dan tersungging senyum.

Tak lama berselang, entah datang darimana, tiba-tiba Datuk Hitam berada tepat di depan Milat lalu mengulurkan tangannya, Datuk Hitam, pawang hujan kerajaan Bandarsepuluh. Dari tangan inilah semua bala ditangkal di wilayah ini. Dengan percaya diri, pria jangkung bermata sayu itu memperkenalkan namanya. Milat muda tidak menjabat tangan basah itu. Ia berpindah tempat teduh tanpa mengindahkan perkenalan Datuk Hitam.

***

Di tahun muka, setelah semuanya berubah dan Bandarsepuluh mengalami kebangkrutan tragis, orang-orang mulai melakukan perjalanan ke dusun-dusun guna menjalani hari baik. Bandarsepuluh telah miskin, kolonial angkat kaki; tambang, rempah dan segala macam perdagangan terhenti. Isu yang beredar karena tidak adanya penerus ahli nujum kerajaan. Raja sering mengalami tafsir meleset. Datuk Hitam pernah dipercaya menjabat sebagai ahli nujum, tapi tafsirnya lebih tajam kepada cuaca. Ini permulaan jatuhnya posisi Bandarsepuluh di mata sekutu mereka sehingga membuat ia diasingkan ke Goligadi oleh Raja untuk mencari tahu empat orang anak keturunan ahli nujum terdahulu. Di sanalah ia bertemu kembali dengan Milat. Milat muda hanyalah perempuan biasa, ia bahkan tidak begitu dikenal oleh masyarakat kampungnya. Bahkan Datuk Hitam harus menjelaskan silsilah Milat agar masyarakat tahu.

Tahun-tahun muka, tahun yang begitu berat di wilayah Bandarsepuluh. Raja tidak lagi mempunyai istana megah, semuanya rurut. Kolonial benar-benar meninggalkan banyak paham; komunis, sosialis, radikal, liberal dan separatis. Entah dari mana datangnya kelompok-kelompok tersebut tiba-tiba sudah punya pengikut saja. Datuk Hitam bilang mereka bukan orang Bandarsepuluh, tapi orang-orang yang memang sengaja dikirim dari pusat untuk mengambil alih kekuasaan. Tahun yang murung bagi Raja Bandarsepuluh. Seluruh asetnya raib dibrendel karena isu kerja paksa. Pemerintah ketika itu mengeluarkan surat bahwa tidak ada lagi sistem kerajaan. Semuanya kembali kepada pemerintah setelah kolonial menyatakan mundur dari Bandarsepuluh.

“Bajingan, aku kira hanya ada Bandarsepuluh di muka bumi ini.”

“Hah! Masa seorang Datuk berpikir begitu?” tanya kepala suku Goligadi.

“Bagaimana tidak, seorang Raja Bandarsepuluh bisa dilengserkan begitu saja.”

“Kan dia punya kerabat Aceh dan Inderapura?”

“Itu kan kerabat saat jaya.”

“Eh, tidak serupa bicara orang Bandarsepuluh Datuk ini.”

Setelahnya hujan turun begitu lebat. Angin membawa tempias ke halaman rumah. Milat yang sedang sibuk di halaman belakang berlarian ke halam depan. Ia lihat sesosok pria sedang berteduh. Badannya setengah kuyup, tapi tidak nampak gigil melekat di tubuhnya. Ia mendekat tanpa melihat wajah sang pria dan mengajaknya berteduh di beranda rumah. Hari yang basah, sesampai di rumah ia lihat wajah yang sama ketika pertemuan pertama mereka di suatu petang yang lembab. Dua orang itu memaksa membuka percakapan yang canggung, Milat pemalu, Datuk Hitam berusaha menahan diri. Ia lihat hanya Milat seorang di rumah itu, pikirannya yang mulai janggal dengan susah payah dikendalikan.

Ia ingat lagi Raja yang meneroka ke Darek Minangkabau. Ia sadarkan dirinya dalam pencarian pewaris ahli nujum. Ia ingat sanak saudaranya yang terusir di kampung sendiri. Orang-orang pusat mulai membuat kelompok-kelompok antah berantah. Sungguh bengis dan liar. Setelahnya, dada yang sesak entah karena apa, Datuk Hitam pamit hendak ke rumah kepala suku. Milat tak memberi izin, ia tarik Datuk Hitam ke dalam rumah dan melihatkan sebuah buku peninggalan sang ahli nujum. Setiap dibuka, setiap itu pula Datuk Hitam terperangah.

Dua orang itu menghabiskan malam bersama, buku yang diperlihatkan oleh Milat menjadi jembatan baru bagi Datuk Hitam dalam pencarian ahli waris. Datuk Hitam mengirim pesan kepada Raja Bandarsepuluh yang berisi pencariannya telah selesai serta meyakinkan Raja semuanya akan baik-baik saja.

***

Gejolak pasca kemerdekaan membawa banyak petaka di Goligadi. Dusun-dusun berganti nama, bahkan Bandarsepuluh juga diberi nama baru. Orang-orang pusat itu membawa banyak proyek pemekaran daerah. Kelompok-kelompok antah berantah berkeliaran mengatasnamakan dirinya sebagai ini itu. Di tengah situasi mencekam, satu kejadian merubah hidup Milat. Sepulang dari sungai, Milat menemukan kepala suku tergeletak di tepi sungai bertelanjang dada. Pria parubaya itu nampaknya hendak buang air besar. Milat ingat, pria itu diketahui mempunyai penyakit sawan air. Entah apa yang membuat Milat berinisiatif mengambil sehelai daun kemudian menumbuknya dan memasukan hasil tumbukan itu ke mulut sang kepala suku. Kejadian itu dari kejauhan terlihat oleh seseorang yang sedang menjala ikan.

Tahun itu Milat akan berumur tiga 35 tahun. Bagi masyarakat Goligadi itu adalah umur yang uzur untuk seorang gadis. Tapi karena kedekatannya dengan Datuk Hitam, membuat gosip lain beredar. Datuk Hitam yang kian kurus dengan tubuh jangkungnya sudah serupa bangau kehilangan sawah. Namun gosip itu menjadi teralihkan setelah peristiwa di tepi sungai. Alih-alih menyembunyikan kejadian tersebut, Milat malah dianggap sakti oleh orang kampung karena cerita dari seorang penjala ikan. Ia kata Milat ternyata seorang dukun.

Kepala suku menemui Milat setelah beberapa hari kejadian tersebut, Datuk Hitam juga berada di pertemuan malam itu. Lama mereka berbicara. Sampai datang seseorang dari halaman belakang dengan tubuh bersimbah darah. Dadanya ditembus timah panas, katanya milik seorang tentara dari pusat. Tapi entahlah. Pria itu dalam keadaan setengah sadar setelah digotong ke dalam rumah. Kepala suka melihat tanda di lengan bajunya yang menandakan ia seorang Tentara Pelajar. Datuk hitam kata, sudah sampai kah PRRI ke sini? Pria itu menatap tajam, matanya sirah serupa bara. Wajahnya tak menyimpan ketakutan. Milat yang polos menanyakan kepadanya, apakah Tentara Pusat punya senjata serupa bedil ini sambil melihatkan peninggalan sang ahli nujum.

Datuk Hitam dan kepala suku kaget melihat Milat tiba-tiba membawa sepucuk bedil. Simpan segera, seru Datuk Hitam. Kemudian Milat kembali datang membawa dedaunan dan sebilah pisau. Entah apa yang membuat Milat berubah tingkah, tiba-tiba suaranya berat dan terdengar seperti suara lelaki. Ia suruh Datuk Hitam mencari segenggam arang. Di tangannya ia genggam lidah buaya, kunyit, daun sirih dan bunga raya. Kepala suku tertegun, untuk apa bunga raya ia beri kepada orang terkena tembak. Tapi tiba-tiba Milat menjawab, bunga raya ini untuk obat penaham suhu panas badan. Kau lihat lebih teliti, ini juga ada daun selasih untuk penangkal pening. Kau mengganggu saja, berangkat! Milat jadi agak pemberang, kepala suku pun dibuat heran. Tapi ia menurut.

Siang yang nyalang. Angin membawa hawa panas sampai ke dalam badan. Kabar angin datang silih berganti membawa berita buruk: di kampung lain, rumah-rumah adat dibakar oleh orang-orang entah. Gejolak dan gonjang-ganjing politik sampai ke dusun-dusun, sedang Datuk Hitam masih saja sibuk heran dengan dunia bekerja. Ia baru tahu ada namanya tentara pusat dan tentara pelajar. Ia sungguh tidak tahu dari mana orang-orang itu berasal. Milat telah menjelma obat mujarab masyarakat Goligadi. Masyarakat tidak perlu cemas lagi kalau-kalau musim paceklik datang. Mereka telah memiliki kombinasi lengkap penangkal bala; Datuk Hitam pawang hujan, Milat seorang dukun. Kepala suku mempunyai andil besar membuat masyarakat percaya bahwa Milat adalah pewaris keilmuan sang ayah. Ditambah dengan runutan silsilah keluarga yang dipaparkan Datuk Hitam. Sehingga tiga orang saudara Milat di Goligadi ikut terkena imbasnya. Tiga orang saudara se-ayah itu akhirnya disuruh pindah ke Darek Minangkabau atas perintah sang Raja. Ini salah satu upaya Datuk Hitam untuk menjaga eksistensi Milat sebagai dukun di kampung. Bagi Raja Bandarsepuluh tentu menjadi angin segar untuk ia bisa kembali ke Bandarsepuluh karena pameo orang-orang selama ini raja sebenarnya adalah sang ahli nujum.

Milat menjelma seorang tokoh, ia disegani dengan panggilan Ayek. Sebutan untuk orang tua secara keilmuan dan posisi adat. Masa itu, PRRI terus bergejolak, banyak gerilyawan mengadu sakitnya ke Ayek Milat. Bahkan, gosip beredar ada seorang pemimpin Tentara Pelajar bernama Hasan menuntut ilmu kepada Ayek Milat dan mendapatkan ilmu tahan besi. Ditambah pula cerita seorang tentara pusat yang suatu waktu mencoba menembaknya, tapi tidak terjadi apa-apa. Serupa menembak besi baja, ungkapnya. Gosip-gosip itulah yang membuat Ayek Milat tersohor, masyur sampai ke telinga tentara pusat.

Mula-mula kelompok tersebut hanya berada di Darek Minangkabau saja. Setelahnya ia mulai perlahan mengarah ke bagian pesisiran Minangkabau dan Goligadi adalah tujuan utama mencari kebenaran keberadaan Ayek Milat yang katanya seorang dukun kampung sakti bin masyur. Peristiwa-peristiwa berdarah tak terelakkan. Banyak tragedi tragis sampai ke telinga Ayek Milat. Ia merasa petaka itu kian mendekat, firasatnya dari hari ke hari semakin buruk. Tak tenang tidurnya lantaran gosip-gosip masyarakat tentangnya. Ia dan Datuk Hitam bersepakat menjaga jarak, Datuk Hitam menyusul Raja Bandarsepuluh dan Milat tetap tinggal di Goligadi. Ia ingin menegaskan bahwa mereka hanya sebatas karib. Tapi Datuk Hitam menolak, ia melamar Milat. Tapi Milat tetap menolak, ia bersikeras menyuruh Datuk Hitam pergi jauh.

***

Ia pilin lagi bunga raya itu sebagaimana biasa ia lakukan kepada tumbuhan di halaman belakang. Tubuhnya yang kian rukuk tak menghalangi niatnya menjalani profesi sebagai dukun kampung. Tapi setelah hari itu, suatu petang yang murung, ia mulai ragu dalam proses pengobatan termasuk saat ia memesan tumbuhan herbal ke peladang. Biasanya memang begitu, tumbuhan-tumbuhan herbal yang sulit ditemui di sekitaran pemukiman masyarakat kerap ia pesankan kepada peladang. Terutama kepada kelompok pemikat burung.

Suatu hari yang mendung, ia nampak meremas daun bunga raya di beranda rumah sembari mengumpat setengah mengutuk perkataan seorang pasien yang meragukan kemampuannya, katanya, masih hapalkah Ayek nama-nama tumbuhan untuk obat itu, jangan-jangan kematian… ia terus mengulang-ulang perkataan itu sambil terus memiuh daun-daun di halaman belakang. Sesekali ia mematahkan batang-batang yang sudah dewasas kemudian menancapkannya ke tanah. Umpatannya kepada kelompok PRRI memang tak karuan. Setelah kepergian Datuk Hitam, tidak ada lagi orang yang membelanya. Cerita-cerita masyarakat perlahan beralih pasca kedatangan seorang tentara pusat.

Tentara yang mengaku berasal dari bugis itu hendak berobat penyakit sawan api. Ungkapnya, mengapa setiap melihat api sawannya datang. Sawan yang berbeda, sawan yang semakin ia lihat api semakin bergejolak semangatnya memburu lawan. Apakah itu termasuk sawan api? Milat yang diketahui belum juga menikah berusaha ia goda. Suatu malam ia memainkan akal bulusnya untuk dapat menginap di rumah Milat. Pria itu seolah punya penyakit aneh lainnya: tidur berjalan. Akal bulus itu rupanya sudah diduga Milat. Milat malam itu tidak berada di kamar. Lalu paginya, tentara itu tergeletak di tepi jalan dengan rupa yang tak wajar dan sepotong daging sebesar pisang masak di saku celananya.

Arif Purnama Putra, berasal dari Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Buku tunggalnya yang telah terbit Suara Limbubu (JBS, Yogyakarta 2018), sebuah novel Binga (Purata Publishing, 2019), dan Menyilau Tenju Langgai (Purata Publishing, 2023). Tulisan-tulisannya banyak mengangkat tema kearifan lokal dan cerita-cerita yang berkaitan dengan masyarakat tradisional. Saat ini Arif aktif berkegiatan di Serikat Budaya Marewai, sebuah komunitas yang berfokus melestarikan dan mempromosikan kebudayaan Minangkabau. Arif berkontribusi dengan menulis dan membuat film dokumenter. Film-film yang disutradarainya bisa dilihat di kanal Youtube Marewai TV, ia juga mengelola website www.marewai.com. Karya-karyanya pernah dimuat; Bacapetra.co, Kompas, Tempo, Basabasi.co, Minggu Pagi, Rakyat Sultra, dan lainnya. Arif juga salah satu Emerging Ubud Writers and Readers (UWRF) 2024 UWRF, Ubud, Bali. Pemenang Sayembara Manuskrip Puisi, Payakumbuh Poetry Festival 2025.
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news