Mulai Juli 2026, AirAsia Hentikan Penerbangan Langsung ke Singapura

4 hours ago 2

Mulai Juli 2026, AirAsia Hentikan Penerbangan Langsung ke Singapura

Ilustrasi pesawat Airasia lepas landas./Bisnis Indonesia-Paulus Tandi Bone

Harianjogja.com, JAKARTA — Perjalanan udara dari Jakarta ke Singapura yang selama ini bisa ditempuh kurang dari dua jam kini tak lagi sesederhana sebelumnya, setidaknya bagi penumpang AirAsia. Mulai 1 Juli 2026, maskapai berbiaya hemat tersebut resmi menghentikan layanan penerbangan langsung di rute padat itu.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Di tengah tekanan biaya operasional yang terus meningkat—terutama lonjakan harga bahan bakar pesawat—AirAsia memilih mengubah strategi dengan mengalihkan penumpang ke jalur transit, utamanya melalui Kuala Lumpur.

Artinya, perjalanan yang sebelumnya singkat kini bisa memakan waktu jauh lebih lama, bahkan menembus lebih dari 10 jam tergantung durasi transit.

Chief Executive Officer AirAsia X Group, Bo Lingam, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari optimalisasi jaringan penerbangan. Maskapai berupaya mengarahkan kapasitas pesawat ke rute yang dinilai lebih menguntungkan dan memiliki permintaan lebih stabil.

“Kami memanfaatkan hub seperti Kuala Lumpur untuk menangkap permintaan secara lebih efisien,” ujarnya.

Strategi ini sekaligus mencerminkan perubahan lanskap industri penerbangan yang semakin dinamis. Maskapai kini tak hanya bersaing dalam harga, tetapi juga dalam efisiensi operasional dan pengelolaan rute.

Padahal, rute Jakarta–Singapura dikenal sebagai salah satu jalur tersibuk di kawasan Asia Tenggara. Setidaknya tujuh maskapai masih melayani puluhan penerbangan langsung setiap hari, memberikan banyak pilihan bagi penumpang yang menginginkan perjalanan cepat.

Namun, data terbaru menunjukkan kehadiran AirAsia di rute ini memang terus menyusut. Sepanjang Juni 2026, frekuensi penerbangan turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Kapasitas kursi pun ikut terpangkas tajam, menandakan adanya pergeseran strategi yang sudah berlangsung bertahap.

Bahkan sebelumnya, AirAsia juga telah lebih dulu menghentikan rute langsung Singapura–Bali pada April 2026.

Pengamat penerbangan melihat langkah ini sebagai upaya meningkatkan tingkat keterisian kursi di jaringan yang sudah ada. Meski demikian, pendekatan transit dinilai kurang menarik bagi sebagian penumpang, terutama karena alternatif penerbangan langsung masih melimpah dengan harga kompetitif.

Di sisi lain, tekanan eksternal turut mempercepat keputusan ini. Kenaikan harga avtur yang dipicu konflik geopolitik di Timur Tengah serta meningkatnya risiko jalur distribusi energi global menjadi faktor signifikan.

Kondisi tersebut membuat maskapai harus lebih selektif dalam mempertahankan rute, khususnya yang memiliki margin keuntungan tipis.

Tak hanya itu, tantangan internal juga ikut berperan. Pangsa pasar domestik yang relatif kecil menjadi salah satu faktor yang membatasi ekspansi AirAsia di kawasan tertentu.

Kini, bagi penumpang setia AirAsia, perjalanan ke Singapura mungkin akan terasa berbeda—lebih panjang, lebih kompleks, namun menjadi bagian dari strategi besar maskapai untuk tetap bertahan di tengah tekanan industri yang kian ketat.

Di balik perubahan ini, satu hal menjadi jelas: dunia penerbangan terus bergerak, dan penumpang pun dituntut untuk beradaptasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news