OPINI: Dari Demonstrasi ke Eskatologi Global

12 hours ago 4
 Dari Demonstrasi ke Eskatologi Global(Foto : Anshar Aminullah Akademisi)

Oleh: Anshar Aminullah Akademisi

KabarMakassar.com — Dunia dibuat tercengan, ini bukan soal episode lanjutan serangan AS-Israel ke Iran, namun ini perihal jutaan manusia berstatus warga negara AS melakukan aksi demo yang belum pernah terjadi dalam sisi besarnya massa pengunjuk rasa.

Memasuki pekan ke 5 Perang Iran vs AS-Israel, sebuah peristiwa bersejarah terjadi di hampir seluruh negara bagian AS. Tepat di 28 Maret 2026, tidak kurang dari 8 Juta teriakan yang menggema menyatu dalam isyu yang bertajuk “No Kings”, sebuah aksi demo yang diperkirakan menjadi salah satu demonstrasi terbesar dengan ribuan acara dan jutaan peserta.

Pemicu utamanya selain soal tingkat ketidakpuasan publik terhadap Trump yang semakin meningkat, dan pemicu lain yang bikin gregetan peserta aksi adalah soal kebijakan luar negeri dan konflik di Iran.

Peristiwa ini menjadi pertanda adanya Krisis legitimasi politik dan imajinasi eskatologis pada skala global yang diperlihatkan rakyat AS.

Habermars dalam pendekatan “Krisis legitimasi” (1973), Ia berpendapat bahwa legitimasi dalam sebuah negara, itu tidak bisa dipaksakan melalui pendekatan kekuasaan semata. Namun ia harus bersumber dari partisipasi komunikatif dan kepercayaan publik.

Hadirnya slogan “No Kings” menjadi simbol penolakan terhadap apa yang para pngunjuk rasa pandang sebagai sikap otoriter seorang Donald Trump.

Sehingga ketika pemimpin dianggap merusak Konstitusi sebagai dasar hukum bersama, maka legitimasi pemerintahan tersebut pun turut runtuh di mata publik sebab aturan tidak lagi dianggap berada pada posisi yang adil.

Aksi demonstrasi ini menjadi tanda bahwa ruang publik telah mengambil alih peran untuk menguji klaim kebenaran dari kebijakan DT. Jika DT tidak segera melakukan dialog yang transparan dan memperbaiki kebijakan agar sejalan dengan konsensus publik, maka krisis ini sangat berpotensi terus menggerogoti stabilitas sistem politik AS.

Sementara di tempat lainnya, dari Jalanan Amerika kita ke Langit Timur Tengah. Ibarat membaca gejolak global di antara rasionalitas politik dan pembacaan kita pada simbolisme zaman.

Peristiwa lautan burung gagak ini acapkali dikaitkan dengan naskah-naskah nubuat atau hadis mengenai tanda-tanda akhir zaman atau Asyratus Sa’ah.

Dimana simbolisme lautan gagak di Israel beberapa hari sebelum aksi demo “No Kings” di AS menjadi tanda tunggal, dimana gagak sering diasosiasikan dengan tanah yang rusak atau peringatan akan datangnya sebuah musibah ataukan perang besar yang dikenal dengan Malhamah Kubra.

Sehingga jika dikaitkan dengan demonstrasi besar-besaran di AS tidak sedikit yang menganggap bahwa ini bisa jadi adalah skenario Tuhan yang sedang berjalan menuju titik kulminasi di Timur Tengah.

Memang burung gagak bukanlah yang membawa bencana, melainkan kitalah selaku penerjemah yang terkadang memberi makna pada kehadirannya, terlebih ketika dunia ini sedang diliputi ketidakpastian.

Bagaimana dengan Indonesia sendiri? Dengan posisi situasi ekonomi yang harus kita akui jauh lebih baik dari kondisi kita, namun tetap saja jutaan orang di negeri paman Sam ini tak terbendung untuk turun ke jalan.

Maka pertanyaan kita untuk di Indonesia sendiri, sejauh mana kebijakan pemerintah saat ini benar-benar lahir dari kehendak rakyat saat dunia tengan dalam ancaman perang dunia ke 3, bukan sekadar kesibukan para elit menjaling kerjasama di atas kertas dengan nilai triliunan dari dompet APBN demi kepentingan global.

Tentu kita tidak mau bangsa ini terjebak dalam situasi yang sama dengan rakyat AS di 28 Maret kemarin. Pemerintah harus segera mengambil langkah taktis demi meminimalisir terjadinya situasi serupa.

Dalam dunia yang telah terkoneksi tanpa batas, krisis memang tidak selalu datang dalam bentuk perang. Namun ia bisa hadir sebagai kegelisahan yang pelan-pelan hadir di pasar, di kampus, dan di ruang-ruang percakapan.

Dan kepanikan mau gak mau adalah hal yang sulit dihindari khususnya dari kalanganemak-emak yang terancam dapurnya tidak menyala karena kesulitan mendapat gas elpiji. Lantas seperti apakah langkah yang harus diambil oleh pemerintah kita saat ini? Ini adalah pertanyaan yang cukup sulit untuk kita jawab.

Namun setidaknya sebuah catatan kecil yang bisa kita berikan bahwa barangkali hari ini yang paling dibutuhkan bangsa ini bukan hanya sekadar ketegasan dan kebijakan. Namun keberanian untuk mendengar dengan hati yang jernih. Sebab di tengah dunia yang semakin riuh oleh kepentingan global, dari Amerika Serikat hingga Iran, yang sering kali memudar itu justru suara manusia biasa yang berstatus rakyat jelata.

Yaitu mereka yang hidup dari harga kebutuhan pokok yang kian hari makin terasa berat untuk memenuhinya, dari kepastian lapangan pekerjaan yang kian hari kian tak pasti, dan dari rasa aman yang kian hari terus menjauh.

Negara ini pada akhirnya tidak hanya diuji oleh kekuatan militernya atau luasnya jejaring diplomatiknya yang akhir-akhir ini terlihat ambigu, atau bahkan Sumber Daya Alamnya yang melimpah tapi semakin menipis. Tetapi oleh kemampuannya menjaga kepercayaan publik bernama rakyat Indonesia, sebagai fondasi paling mendasar dari keberlangsungan kekuasaan itu sendiri.

Bangsa kita ini tentu telah memiliki jalannya sendiri. Namun sejarah akan mengajarkannya, bahwa kegelisahan sosial itu tidak pernah benar-benar datang secara tiba-tiba dan mendadak bak banjir bandang oleh karena kerusakan hutan.

Ia tumbuh pelan, mengendap, lalu perlahan namun pasti, dan pasti akan menemukan momentumnya. Dan jika hari ini dunia sedang memperlihatkan retakan-retakan besar dalam tatanan global, maka berhati-hati bukan lagi pilihan bagi Indonesia, melainkan telah menjadi sebuah keharusan.

Sebab sebelum gelombang krisis besar itu benar-benar tiba, selalu ada tanda-tanda kecil awal yang sepertinya selama ini langganan kita abaikan. Sebab situasi seperti itulah, masa depan sebuah bangsa ini sedang ditentukan, apakah ia memilih untuk mendengar, atau menunggu hingga suara-suara itu berubah sangat mirip dengan peristiwa 28 Maret ini di seluruh pelosok AS, yaitu semacam gemuruh yang tak lagi bisa dibendung seperti peristiwa di berbagai kota di Indonesia di Agustus tahun lalu.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news