Pamit Kanca

21 hours ago 5

Hayati Sumbar

SAKING rindunya, Pak Agus bermimpi berjumpa dengan Pak Timbul versi muda. Juga dengan Yanuar dan Arif baru lulus dari sekolah inspektur polisi sumber sarjana. Betul-betul persobatan yang akur dan penuh harapan kala itu.

Namun Arif, tepat setelah empat tahun dilantik bintara, mutasi ke Bali dan mulai sulit berkontak lagi. Sedangkan Yanuar si paling brilian, mundur karena pada tahun kelima belas menjabat, ia terkena kasus tindakan tidak jujur. Pak Agus dan Pak Timbul sedih sekali saat itu. Lebih sedih daripada seperti yang dikatakan presiden keempat republik ini bahwasanya memang tidak ada polisi jujur kecuali Jenderal Hoegeng dan polisi tidur.

Jadilah empat sekawan itu tersisa dua saja, yakni Pak Agus dan Pak Timbul.

***

Pak Agus bermimpi lagi, hidup di tahun delapan puluhan. Mimpi saat Pak Agus dan Pak Timbul yang baru lulus calon perwira, mengalami zaman keji setengah mampus: petrus (penembakan misterius) terhadap orang-orang yang dianggap sampah masyarakat atau dalam kurung: maling.

Saat itu, Pak Agus yang baru berusia dua puluhan bertanya-tanya kenapa harus ditembak mati semua orang (jahat) itu. Penghakiman kok bisa lengser ke tangan manusia? Pak Timbul juga setuju dengan pertanyaan itu.

Dalam mimpi, seorang galis preman datang untuk menandatangani pernyataan setuju menahan diri dari kegiatan kriminal dan semacamnya. Sang galis dengan luka jahitan di lengan atasnya yang kurus menangis di markas garnisun, katanya: jangan ditembak Pak, istri saya hamil tua dan saya lagi katarak.

Pak Timbul mengambilkan segelas air dan mempersilakan galis yang gemetaran itu duduk, lalu ia bilang: tidak usah takut, tidak akan pernah ada yang pantas ditembak lagi.

Memang saat itu, angka kejahatan menurun drastis. Tapi bagi Agus dan Timbul tetap saja itu sadis. Walau tidak selalu sepakat, dua karib itu berdaulat untuk banyak hal lainnya. Pertanyaan-pertanyaan Pak Timbul mirip dengan Pak Agus saat itu, yang memang salah satunya seputar: bagaimana bisa melantangkan kebenaran dari hal yang tidak etis? —untuk Operasi Petrus. Sejak saat itu, Pak Agus dan Pak Timbul jadi rekan kerja yang sulit terpisahkan.

***

Malam berikutnya lagi-lagi Pak Agus bermimpi. Seorang pria berusia enam puluhan berdarah Jepang dilaporkan tidak sadarkan diri di lokalisasi Pasar Kembang. Dari olah perkara dan info yang berkembang, kuncen di sana bilang insiden itu bermula saat satu pekerja seks komersial dan pria itu datang. Katanya, pria itu berhubungan tujuh menit, posisi di atas, lalu tiba-tiba tumbang. Sempat ada suara dengkuran habis ambruk. Pasangan kencannya menambahkan, dibangunkan tidak respon kemudian.

Pak Timbul memeriksa saku celana pria itu dan menemukan kartu berobat dari salah satu rumah sakit pusat kota. Kematian mendadak yang dialaminya diduga akibat penyakit menahun. Demikan analisa sementara Pak Timbul sebelum dibawa untuk pemeriksaan lanjutan.

Malam itu, becek di mana-mana dan lebih keruh karena hujan dan aliran limbah bersatu dengan tanah yang semakin basah. Sambil menyusuri gang yang di sampingnya berjejer banyak kafe, rumah karaoke, penginapan, warung pijat, dan jasa wisata, tiba-tiba Pak Agus berujar: tapi, ambruk saat bercinta dengan jalang, apa itu bagus?

Mungkin bagus juga. Jawab Pak Timbul. Mati sekejap itu. Tidak pakai lama, ya. Mungkin tidak merepotkan orang-orang karena harus sakit dan dirawat lama. Cukup bagus.

Pak Agus diam.

Yang penting itu, kalau hidup tidak ada manfaat setidaknya tidak merugikan orang lain, Gus.

Jadi, mana mungkin ada orang yang suci seratus persen, Gus. Ulang Pak Timbul. Yang seratus persen itu cuma PROGRAM WAJIB KONDOM SERATUS PERSEN di Sarkem ini. Mereka tertawa.

Berjalan kemudian tiga puluh meter, tiba-tiba Pak Timbul bergumam. Kalau bisa milih, mau mati kayak apa, Gus?

Pak Agus menjawab, yang biasa-biasa saja. Yang jelas, di pangkuan istri.

Kalau aku, bukan bagaimana caranya, yang penting dikenang itu, lho, Gus. Tidak dilupakan, Gus.

Apalagi merepotkan, Gus.

Sekitar tiga puluh meter berjalan, suasana masih mirip-mirip. Kafe dan penginapan di kiri kanan gang selebar satu meter, tapi lebih bersih dan tidak kumuh. Di tengah-tengah pemukiman padat itu, ada satu mesjid yang timbul.

Karena baru azan Isya serta itung-itungan pahala, Pak Timbul izin sebentar biar bisa salat sama-sama warga. Pak Agus yang kristiani duduk di pelatarannya saja.

Ini masjidnya untuk orang dari barat, lokasi prostitusi, untuk bertobat, kata seorang mbok yang bersampir kain menggendong bocah, memecah lamunan Pak Agus. Habis salat toh, biasanya ning sesuk bali meneh. Besok kembali lagi (ke lokasi prostitusi)?

Sayup-sayup lagu Serenade Bulan Senja berkumandang persis saat Pak Timbul ke luar dari Masjid yang belakangan diketahui bernama Syuhada dan Pak Agus cuma bisa membalas si Mbok pakai senyum.

Lagu malam hari, membumbung meninggi membelah angkasa raya. Naik turun melayang melesu_*. Lirik lagunya begitu. Dan itu lagu kegemarannya Pak Timbul.

***

Di satu Jumat pagi, istri Pak Timbul menelepon Pak Agus lantaran suaminya tak kunjung bangun selepas subuhan. Wafat mendadak, sebabnya sulit ditemukan walau sudah post-mortem. Yang jelas, sepertinya henti jantung padahal diketahui tidak ada riwayat penyakit. Paling ada maag sedikit. Malam sebelumnya sempat minta dibuatkan pisang goreng, kata putrinya. Tidak ada firasat apa-apa.

Duh, Mbul, katanya mau pensiun dulu. Mau lihat putrinipun jadi penganten dulu. Momong cucu dulu. Mau ngolah kebon dulu. Mau ternak lele dulu. Lele mutiara. Sesal Pak Agus setelah ditinggal Pak Timbul tanpa aba-aba.

Kejadian itu jelas bikin syok Pak Agus. Sampai di Senin pagi ketika masuk kantor, masih terbayang Pak Timbul duduk di serambi kantor biasanya lagi ngeteh-ngopi-ngrokok, baca Kedaulatan Rakyat, sembunyi-sembunyi nyetel keroncong Serenade saat sepi dan mulai guyon. Rasanya kok aneh banget.

Mau ternak lele dan ngolah kebon. Kebon sengon. Mendiang Pak Timbul yang sumringah terngiang-ngiang di kepala Pak Agus.

Sungguh Pak Agus masih tidak percaya.

***

Gus, kalau Lastri hamil lagi, kasih nama putramu: presiden atau direktur. Lagi-lagi mimpi Pak Agus didatangi oleh mendiang Pak Timbul.

Lha kok ngatur? Balas Pak Agus menindaklanjuti Pak Timbul yang ngawur.  Aku ‘kan sudah tua juga, Mbul. Sebentar lagi pensiun! Dan seharusnya kowe juga, Mbul!

Lantas keduanya cekikikan lagi.

Nama itu, doa, Gus. Harus yang bagus-bagus.

Apa kabarmu, Mbul? Besok seratus harianmu toh.

Mati itu tidak enak, Gus. Lebih enak patroli malam. Meringkus grayak yang beroperasi sepanjang jalan.

Pak Agus tidak mampu menjawab apa-apa. Sedih pula rasanya kantor pun sekarang kian sepi.

Tapi, yasudah nanti kowe coba tanduran pakcoy, caisim, atau sawi. Jangan bayam, Gus. Aku sudah coba bayam. Itu sore segar, paginya mati. Paginya segar, sorenya mati, Gus.

Tidak usah dipikirin, Gus.

Pokoknya jangan tanam bayam ya, Gus. Repot.

Habis ini aku pamit ya, Gus.

Pak Agus sekejap terbangun dari mimpinya. Kalau seandainya ia seorang muslim, mungkin Pak Agus melafalkan astaghfirullahaladzim dalam hati berulang kali—atau lantang-lantang seperti Pak Timbul tiap berjumpa dengan kasus-kasus yang kurang masuk akal dan payah sekali dari sisi motif sampai akibatnya.  

Astaghfirullahaladzim. Seloroh Pak Agus akhirnya sambil keringatan. Lastri, istrinya, ikut terbangun. Masih pukul tiga dini hari. Ada apa, Bapak? Tanyanya kebingungan.

Pak Agus merasa sesak dan sesal sekaligus. Keringat sebesar jagung mulai mengalir sebijiduabiji dari pelipisnya.

Kenapa, Mas? Ulang Lastri.

Tanam pakcoy dan caisim. Satu jenis lagi lupa aku, Lastri. Lupa dia bilang apa. Pokoknya, jelas jangan bayam. Kata Pak Agus yang napasnya sudah terasa makin sesak.

Pak Agus mengusap wajahnya. Mengucek matanya. Mengusap wajah lagi. Mengucek mata lagi. Mengusap wajah lagi.

Lastri memeluk suaminya yang sudah dinikahinya lebih dari tiga puluh tahun itu—yang sudah sering ia panggil Bapak atau Mas tergantung suasana hati dan kebutuhan. Bapak karena memang bapak dari putra-putrinya yang ia sangat hormati, dan Mas ketika ia sedang memposisikan diri sebagai sahabat dan karena ia sadar penuh bahwa Pak Agus adalah teman hidupnya.

Mas Timbul, ora, Mas? Tanya Lastri lagi. Mimpi Mas Timbul lagi, ya, Mas?

Pak Agus mengangguk.

Lastri mengerti. Diusapnya punggung suaminya itu persis seperti mengusap punggung putranya yang dulu kehilangan kucing peliharaan korban tabrak lari. Lastri memberikan gestur yasudah nangis saja sepuas hati, Mas.

Kelenjar air mata itu kepalang tidak mampu menampung perasaan hilang yang tak kunjung rampung walau sudah seratus hari. Perasaan yang jarang sekali dirasakan. Yang membuat hati rasanya seperti got mampet sekali. Lalu banjir bandang. Sambil memeluk istrinya, air mata terus jatuh satu-satu dan ia bilang: jangan bayam, Lastri.

Kemudian Pak Agus makin terisak tidak tahan.

Sayup-sayup rintih. Buluh perindu. Lara sepi malam hari, irama jiwa lara. Lagu malam hari, membumbung meninggi. Membelah angkasa raya. Naik turun melayang melesu. Laju lagu laju. Fajar menyingkap tirai. Matahari menyambut riangmu.

Betapa acaknya kenangan. Padahal sekuat tenaga setiap hari, sudah menyibukkan diri dan tidak mau berpikir tentang sahabatnya yang telah tiada itu, tetap saja, satu-satu ingatan masa dulu muncul, lewat mimpi. Memori nekat menyelinap ke ketidaksadaran.

Asu, Timbul. Kata Pak Agus dalam hatinya. Begitulah pada akhirnya diam-diam Keroncong Serenade kesukaan Pak Timbul berkumandang di kepalanya subuh itu.

*Lirik Lagu Serenade karya Kusbini yang digubah di Sarkem

Carisya. Lahir Bandung, 1989. Pekerja dan penglaju tetap yang kadang menulis di commuter line.
Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news