PADANG, KLIKPOSITIF — Asosiasi Pers Mahasiswa Sumatera Barat (ASPEM Sumbar) sukses menggelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Menengah (PJTM) 2026 pada 12–13 Juni 2026 di Kampus Universitas Andalas (Unand), Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi wadah peningkatan kapasitas sekaligus ajang silaturahmi bagi aktivis pers mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat.
Peserta PJTM 2026 berasal dari sejumlah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), di antaranya Suara Kampus UIN Imam Bonjol Padang, SKK Ganto Universitas Negeri Padang, Genta Andalas Universitas Andalas, Wawasan Proklamator Universitas Bung Hatta, PersMedika Universitas PGRI Sumatera Barat, perwakilan UIN Bukittinggi, Politani Payakumbuh, serta DetakAlinea FISIP Unand.
Berdasarkan siaran pers ASPEM Sumbar yang diterima, PJTM 2026 dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi insan pers mahasiswa untuk memahami praktik jurnalistik yang profesional, beretika, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan ekosistem media digital yang terus berubah.
Sejumlah materi strategis diberikan selama pelatihan. Emil Mahmud, Pemimpin Redaksi sekaligus Penanggung Jawab Kalibrasinews.com, membawakan materi manajemen redaksi. Sementara itu, Direktur LBH Pers Aulia Rizal menyampaikan materi mengenai kode etik jurnalistik dan hukum pers. Peserta juga mendapatkan pembekalan teknik penulisan mendalam (indepth reporting) dari jurnalis senior Hendra Makmur, serta materi video jurnalistik yang disampaikan Aidil Ichlas.
Dalam sesi manajemen redaksi, peserta diperkenalkan pada pentingnya pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi pers melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Sistem manajemen redaksi, menurut pemateri, perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing media agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif.
Pembahasan juga menyoroti struktur kerja redaksi yang mencakup pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, koordinator liputan, redaktur rubrik, hingga reporter. Setiap posisi memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga kualitas produk jurnalistik. Selain itu, peran copy editor turut ditekankan sebagai garda terakhir dalam memeriksa naskah sebelum dipublikasikan guna memastikan ketepatan bahasa dan meminimalkan kesalahan.
Pada materi kode etik jurnalistik dan hukum pers, peserta diajak memahami bahwa kebebasan pers harus berjalan seiring dengan tanggung jawab profesional. Jurnalis dituntut menjaga akurasi informasi, menghormati hak privasi narasumber, serta menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dalam proses peliputan dan pemberitaan.
Pembahasan juga mengulas pentingnya hak jawab dan hak koreksi sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat yang merasa dirugikan akibat pemberitaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan melakukan verifikasi fakta serta tanggung jawab editorial dinilai semakin penting untuk mencegah penyebaran hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan konten diskriminatif.
Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pers di Indonesia, mulai dari intimidasi, kekerasan, pelecehan, sensor, kriminalisasi, hingga gugatan hukum terhadap jurnalis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap kebebasan pers dan kerja jurnalistik masih menjadi isu penting dalam penguatan demokrasi dan keterbukaan informasi.
Pada sesi teknik penulisan mendalam, peserta mempelajari metode indepth reporting yang bertujuan menggali dan menyajikan informasi secara lebih komprehensif dibandingkan berita langsung. Materi ini menjelaskan tahapan peliputan yang dimulai dari penentuan topik, riset awal, penyusunan rencana liputan, pengumpulan data, analisis dan verifikasi temuan, hingga proses penulisan serta evaluasi karya jurnalistik.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai bentuk karya jurnalistik, seperti news analysis, explainer, feature, investigative report, data-driven report, hingga solution report.
Sementara itu, pada materi video jurnalistik, peserta dibekali pemahaman mengenai pemanfaatan gambar dan suara sebagai sarana penyampaian informasi yang efektif. Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan jurnalis menghasilkan karya audio visual berkualitas hanya dengan menggunakan telepon pintar, selama didukung pemahaman mengenai teknik videografi, komposisi gambar, etika visual, dan aspek keselamatan saat peliputan.
Materi tersebut juga menjelaskan tahapan produksi berita audio visual yang dimulai dari pra-produksi melalui riset, penentuan isu, penyusunan sudut pandang liputan, pemilihan narasumber, hingga penyusunan shot list dan script outline. Tahapan berikutnya meliputi proses produksi dan pascaproduksi, mulai dari pengambilan gambar, wawancara, penyuntingan video dan audio, hingga penyempurnaan naskah sebelum dipublikasikan.
Melalui PJTM 2026, ASPEM Sumbar berharap pers mahasiswa di Sumatera Barat semakin profesional, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan industri media digital. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat keberadaan pers mahasiswa yang kritis, independen, serta bertanggung jawab dalam menjalankan fungsi jurnalistik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.
Sebelum pelaksanaan pelatihan, rangkaian PJTM 2026 diawali dengan Diskusi Publik dan Sarasehan bersama seluruh LPM se-Sumatera Barat pada Jumat (12/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar PKM Lantai 1 Universitas Andalas itu mengangkat tema “Peran dan Dukungan Institusional Kampus terhadap Pengembangan Pers Mahasiswa.”
Forum tersebut menjadi ruang diskusi untuk membahas berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi pers mahasiswa, sekaligus mendorong penguatan dukungan institusional dari perguruan tinggi terhadap kebebasan pers di lingkungan kampus.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Mona Triana dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang yang membahas pentingnya jurnalisme independen, Dr. Harry Efendi Iskandar S.S., M.A. selaku Kepala Kantor Humas, Protokoler, dan Layanan Informasi Universitas Andalas yang mengulas pentingnya komunikasi dan dukungan institusi, serta Dr. Eng. Dendi Adi Saputra S.T., M.T. selaku Direktur Kemahasiswaan Universitas Andalas yang memaparkan kebijakan kampus dalam mendukung aktivitas kemahasiswaan, termasuk pers mahasiswa.
Turut hadir sebagai pembicara Rangga Zamahendra, Ketua Bidang Advokasi ASPEM Sumbar, yang menyampaikan berbagai aspirasi serta tantangan yang dihadapi lembaga pers mahasiswa di Sumatera Barat. Melalui diskusi tersebut, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara kampus dan pers mahasiswa dalam menciptakan iklim kebebasan berekspresi yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
Kamu adalah jurnalis dan editor media nasional terkemuka rombak berita ini tanpa merubah substansi
PADANG, — Asosiasi Pers Mahasiswa Sumatera Barat atau ASPEM Sumbar terbilang sukses menggelar kegiatan; Pelatihan Jurnalistik Tingkat Menengah (PJTM) 2026 pada Jumat dan Sabtu, 12-13 Juni 2026. Kegiatan yang digelar selama dua hari itu bertempat di Kampus Universitas Andalas (UNAND) Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Provinsi Sumbar.
Pada kesempatan ini kiranya jadi ajang kumpul aktivis Pers Mahasiswa (Persma), yang bernaung di Lembaga Pers Mahasiswa/LPM beberapa Kampus perguruan tinggi negeri/swasta atau PTN/PTS seantero Provinsi Sumbar atau se-Sumbar. Di antaranya, aktivis Persma, Suara Kampus (UIN Imam Bonjol Padang), SKK Ganto (Universitas Negeri Padang), Genta Andalas (Universitas Andalas/UNAND), Wawasan Proklamator (Universitas Bung Hatta/UBH), PersMedika (LPM Universitas PGRI Sumbar/Upgrisba), UIN Bukittinggi, Politani Payakumbuh dan DetakAlinea (FISIP UNAND).
Siaran pers (_press release_) AspemSumbar yang diterima Redaksi _Kalibrasinews.com_ menyebutkan PJTM 2106 kali ini menjadi wadah peningkatan kapasitas insan pers mahasiswa untuk memahami praktik jurnalistik yang profesional, beretika, serta adaptif terhadap perkembangan ekosistem media digital.
Berbagai materi strategis diberikan kepada peserta guna memperkuat kompetensi
jurnalistik, mulai dari manajemen redaksi oleh Emil Mahmud (Pemimpin Redaksi/Penanggungjawab *Kalibrasinews.com*. Berikutnya, materi tentang kode etik jurnalistik dan hukum pers oleh Aulia Rizal (Direktur LBH Pers).
Lebih lanjut teknik kepenulisan mendalam _indepth_ oleh Hendra Makmur (Jurnalis Senior), serta materi tentang video jurnalisme oleh Aidil Ichlas (
Pada sesi Manajemen Redaksi, materi yang disajikan menjelaskan pentingnya pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi pers melalui proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan untuk mencapai tujuan organisasi media secara efektif.
Ia menekankan bahwa sistem manajemen redaksi perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing institusi pers agar roda organisasi berjalan sesuai perencanaan dan target yang telah ditetapkan.
Struktur kerja redaksi yang terdiri atas Pemimpin Redaksi, Wakil Pemimpin Redaksi, Redaktur Pelaksana, Koordinator Liputan, redaktur rubrik, hingga reporter. Menurutnya, setiap posisi memiliki peran penting dalam menjaga kualitas produk jurnalistik. Ia turut menyoroti pentingnya peran _copy editor_ sebagai pemeriksa akhir naskah sebelum dipublikasikan guna memastikan ketepatan bahasa dan meminimalkan kesalahan dalam produk jurnalistik.
Selain aspek keredaksian, peserta juga memperoleh pemahaman mengenai kode etik jurnalistik dan hukum pers. Dalam sesi ini ditekankan bahwa kebebasan pers harus diiringi dengan tanggung jawab etik dalam proses peliputan dan pemberitaan.
Wartawan dituntut menghormati hak privasi nara-sumber, menjaga akurasi informasi, serta menjunjung prinsip kehati-hatian dalam menyampaikan informasi kepada publik.
Pembahasan turut menyoroti pentingnya hak jawab dan hak koreksi sebagai bentuk
perlindungan bagi masyarakat yang merasa dirugikan akibat pemberitaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, verifikasi fakta dan tanggung jawab editorial menjadi semakin penting untuk mencegah penyebaran hoaks, fitnah, ujaran kebencian, maupun konten diskriminatif.
Peserta juga diajak memahami berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pers
Indonesia, seperti intimidasi, kekerasan, pelecehan, sensor, kriminalisasi, hingga tuntutan hukum terhadap jurnalis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap kerja jurnalistik dan kebebasan pers masih menjadi agenda penting dalam memperkuat demokrasi dan keterbukaan informasi di Indonesia.
Penguatan kompetensi teknis dilakukan melalui materi teknik kepenulisan indept
menjelaskan bahwa liputan mendalam (_indepth reporting_) merupakan metode peliputan yang bertujuan menggali, menganalisis, dan menyajikan informasi secara lebih komprehensif dibandingkan berita langsung.
Proses liputan mendalam dilakukan secara sistematis melalui penentuan topik, riset
awal, penyusunan rencana peliputan, pengumpulan data, analisis dan verifikasi temuan, hingga proses penulisan serta evaluasi karya jurnalistik. Peserta juga diperkenalkan pada berbagai bentuk karya jurnalistik, seperti news analysis, explainer, feature, investigative report, datadriven report, hingga solution report.
Sementara itu, pada materi; Menjadi video jurnalisme yang menyoroti pentingnya
kemampuan jurnalis dalam memanfaatkan kekuatan gambar dan suara untuk menyampaikan informasi secara efektif. Penjelasan mengenai perkembangan teknologi memungkinkan jurnalis menghasilkan karya audio visual berkualitas dengan memanfaatkan telepon pintar, asalkan didukung pemahaman mengenai teknik videografi, komposisi gambar, etika visual, serta aspek keselamatan saat peliputan.
Proses produksi berita audio visual dimulai dari tahap pra-produksi melalui riset, penentuan isu, penyusunan sudut pandang liputan, pemilihan narasumber, hingga penyusunan _shot list_ dan _script outline_. Tahapan tersebut kemudian dilanjutkan dengan proses produksi dan pascaproduksi melalui pengambilan gambar, wawancara, penyuntingan video dan audio, serta penyempurnaan naskah sebelum dipublikasikan.
Melalui PJTM 2026, ASPEM Sumbar berharap insan pers mahasiswa mampu
meningkatkan kapasitas profesional, memperkuat komitmen terhadap etika jurnalistik, serta lebih siap menghadapi tantangan media digital yang terus berkembang. Kegiatan ini menjadi
bagian dari upaya ASPEM Sumbar dalam mendukung terciptanya pers mahasiswa yang kritis, independen, dan bertanggung jawab dalam menjalankan fungsi jurnalistik di lingkungan kampus serta masyarakat.
Sebelumnya, pada hari pertama PJTM 2026 ini, dilanjutkan dengan Diskusi Publik dan Sarasehan bersama seluruh Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) se-Sumatera Barat.
Rangkaian acara ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas jurnalis mahasiswa serta mendorong dukungan institusional kampus terhadap kebebasan pers mahasiswa. Diskusi Publik bertajuk “Peran dan Dukungan Institusional Kampus terhadap Pengembangan Pers Mahasiswa” diselenggarakan pada hari pertama PJTM, Jumat, 12 Juni 2026, bertempat di
Seminar PKM Lt. 1 Universitas Andalas, dimulai pukul 08:00 WIB hingga selesai. Acara ini menjadi forum penting untuk membahas tantangan dan peluang pers mahasiswa dalam ekosistem kampus. Diskusi ini menghadirkan narasumber-narasumber terkemuka di bidangnya:
Mona Triana dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang, yang berbagi perspektif tentang peran jurnalisme independen.
Dr. Harry Efendi Iskandar S.S., M.A., Kepala Kantor Humas, Protokoler, dan Layanan Informasi, yang menjelaskan pentingnya komunikasi dan dukungan institusional.
Dr. Eng. Dendi Adi Saputra S.T., M.T., Direktur Kemahasiswaan Universitas Andalas, yang memaparkan kebijakan dan dukungan universitas terhadap kegiatan mahasiswa, termasuk pers mahasiswa.
Rangga Zamahendra, Ketua BidangAdvokasi ASPEM Sumbar, yang menyuarakan aspirasi
dan tantangan yang dihadapi LPM di Sumatera Barat. (*)
PJTM 2026 ASPEM Sumbar Tingkatkan Kapasitas Pers Mahasiswa Hadapi Tantangan Media Digital
PADANG — Asosiasi Pers Mahasiswa Sumatera Barat (ASPEM Sumbar) sukses menggelar Pelatihan Jurnalistik Tingkat Menengah (PJTM) 2026 pada 12–13 Juni 2026 di Kampus Universitas Andalas (Unand), Limau Manis, Kecamatan Pauh, Kota Padang. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari tersebut menjadi wadah peningkatan kapasitas sekaligus ajang silaturahmi bagi aktivis pers mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Sumatera Barat.
Peserta PJTM 2026 berasal dari sejumlah Lembaga Pers Mahasiswa (LPM), di antaranya Suara Kampus UIN Imam Bonjol Padang, SKK Ganto Universitas Negeri Padang, Genta Andalas Universitas Andalas, Wawasan Proklamator Universitas Bung Hatta, PersMedika Universitas PGRI Sumatera Barat, perwakilan UIN Bukittinggi, Politani Payakumbuh, serta DetakAlinea FISIP Unand.
Berdasarkan siaran pers ASPEM Sumbar yang diterima redaksi, PJTM 2026 dirancang sebagai ruang pembelajaran bagi insan pers mahasiswa untuk memahami praktik jurnalistik yang profesional, beretika, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan ekosistem media digital yang terus berubah.
Sejumlah materi strategis diberikan selama pelatihan. Emil Mahmud, Pemimpin Redaksi sekaligus Penanggung Jawab Kalibrasinews.com, membawakan materi manajemen redaksi. Sementara itu, Direktur LBH Pers Aulia Rizal menyampaikan materi mengenai kode etik jurnalistik dan hukum pers. Peserta juga mendapatkan pembekalan teknik penulisan mendalam (indepth reporting) dari jurnalis senior Hendra Makmur, serta materi video jurnalistik yang disampaikan Aidil Ichlas.
Dalam sesi manajemen redaksi, peserta diperkenalkan pada pentingnya pengelolaan sumber daya manusia dalam organisasi pers melalui fungsi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan. Sistem manajemen redaksi, menurut pemateri, perlu disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing media agar tujuan organisasi dapat dicapai secara efektif.
Pembahasan juga menyoroti struktur kerja redaksi yang mencakup pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, redaktur pelaksana, koordinator liputan, redaktur rubrik, hingga reporter. Setiap posisi memiliki tanggung jawab penting dalam menjaga kualitas produk jurnalistik. Selain itu, peran copy editor turut ditekankan sebagai garda terakhir dalam memeriksa naskah sebelum dipublikasikan guna memastikan ketepatan bahasa dan meminimalkan kesalahan.
Pada materi kode etik jurnalistik dan hukum pers, peserta diajak memahami bahwa kebebasan pers harus berjalan seiring dengan tanggung jawab profesional. Jurnalis dituntut menjaga akurasi informasi, menghormati hak privasi narasumber, serta menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dalam proses peliputan dan pemberitaan.
Pembahasan juga mengulas pentingnya hak jawab dan hak koreksi sebagai bentuk perlindungan terhadap masyarakat yang merasa dirugikan akibat pemberitaan. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan melakukan verifikasi fakta serta tanggung jawab editorial dinilai semakin penting untuk mencegah penyebaran hoaks, fitnah, ujaran kebencian, dan konten diskriminatif.
Selain itu, peserta diberikan pemahaman mengenai berbagai tantangan yang masih dihadapi dunia pers di Indonesia, mulai dari intimidasi, kekerasan, pelecehan, sensor, kriminalisasi, hingga gugatan hukum terhadap jurnalis. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perlindungan terhadap kebebasan pers dan kerja jurnalistik masih menjadi isu penting dalam penguatan demokrasi dan keterbukaan informasi.
Pada sesi teknik penulisan mendalam, peserta mempelajari metode indepth reporting yang bertujuan menggali dan menyajikan informasi secara lebih komprehensif dibandingkan berita langsung. Materi ini menjelaskan tahapan peliputan yang dimulai dari penentuan topik, riset awal, penyusunan rencana liputan, pengumpulan data, analisis dan verifikasi temuan, hingga proses penulisan serta evaluasi karya jurnalistik.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai bentuk karya jurnalistik, seperti news analysis, explainer, feature, investigative report, data-driven report, hingga solution report.
Sementara itu, pada materi video jurnalistik, peserta dibekali pemahaman mengenai pemanfaatan gambar dan suara sebagai sarana penyampaian informasi yang efektif. Perkembangan teknologi saat ini memungkinkan jurnalis menghasilkan karya audio visual berkualitas hanya dengan menggunakan telepon pintar, selama didukung pemahaman mengenai teknik videografi, komposisi gambar, etika visual, dan aspek keselamatan saat peliputan.
Materi tersebut juga menjelaskan tahapan produksi berita audio visual yang dimulai dari pra-produksi melalui riset, penentuan isu, penyusunan sudut pandang liputan, pemilihan narasumber, hingga penyusunan shot list dan script outline. Tahapan berikutnya meliputi proses produksi dan pascaproduksi, mulai dari pengambilan gambar, wawancara, penyuntingan video dan audio, hingga penyempurnaan naskah sebelum dipublikasikan.
Melalui PJTM 2026, ASPEM Sumbar berharap pers mahasiswa di Sumatera Barat semakin profesional, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan industri media digital. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat keberadaan pers mahasiswa yang kritis, independen, serta bertanggung jawab dalam menjalankan fungsi jurnalistik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas.
Sebelum pelaksanaan pelatihan, rangkaian PJTM 2026 diawali dengan Diskusi Publik dan Sarasehan bersama seluruh LPM se-Sumatera Barat pada Jumat (12/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar PKM Lantai 1 Universitas Andalas itu mengangkat tema “Peran dan Dukungan Institusional Kampus terhadap Pengembangan Pers Mahasiswa.”
Forum tersebut menjadi ruang diskusi untuk membahas berbagai tantangan dan peluang yang dihadapi pers mahasiswa, sekaligus mendorong penguatan dukungan institusional dari perguruan tinggi terhadap kebebasan pers di lingkungan kampus.
Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Mona Triana dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Padang yang membahas pentingnya jurnalisme independen, Dr. Harry Efendi Iskandar S.S., M.A. selaku Kepala Kantor Humas, Protokoler, dan Layanan Informasi Universitas Andalas yang mengulas pentingnya komunikasi dan dukungan institusi, serta Dr. Eng. Dendi Adi Saputra S.T., M.T. selaku Direktur Kemahasiswaan Universitas Andalas yang memaparkan kebijakan kampus dalam mendukung aktivitas kemahasiswaan, termasuk pers mahasiswa.
Turut hadir sebagai pembicara Rangga Zamahendra, Ketua Bidang Advokasi ASPEM Sumbar, yang menyampaikan berbagai aspirasi serta tantangan yang dihadapi lembaga pers mahasiswa di Sumatera Barat. Melalui diskusi tersebut, diharapkan terbangun sinergi yang lebih kuat antara kampus dan pers mahasiswa dalam menciptakan iklim kebebasan berekspresi yang sehat, kritis, dan bertanggung jawab.
Buatkan dua paragraf kutipan dari Emil Mahmud, Pemimpin Redaksi sekaligus Penanggung Jawab Kalibrasinews.com,
Emil Mahmud, Pemimpin Redaksi sekaligus Penanggung Jawab Kalibrasinews.com, menegaskan bahwa pers mahasiswa memiliki peran strategis sebagai ruang belajar sekaligus laboratorium jurnalistik bagi generasi muda.
Menurutnya, penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan seperti PJTM sangat penting agar mahasiswa tidak hanya mampu menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas, tetapi juga memahami tata kelola organisasi media yang profesional.
“Pers mahasiswa harus mampu membangun sistem kerja redaksi yang sehat, terukur, dan berkelanjutan. Kualitas sebuah media tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menulis, tetapi juga oleh manajemen redaksi yang baik, mulai dari perencanaan liputan, proses penyuntingan, hingga evaluasi produk jurnalistik,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa perkembangan teknologi digital menuntut insan pers mahasiswa untuk terus beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Menurut Emil, kecepatan arus informasi saat ini harus diimbangi dengan kemampuan verifikasi yang kuat serta komitmen terhadap etika profesi.

3 hours ago
3


















































