
Para pembicara menyampaikan materi dalam forum JIH Medical Elevation 2026 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Selasa (23/6/2026). Anisatul Umah-Harian Jogja./ Ist
RS JIH Jogja dan SJD Barcelona Children's Hospital Gelar JIH Medical Elevation 2026
SLEMAN—Rumah Sakit (RS) JIH Yogyakarta berkolaborasi dengan SJD Barcelona Children's Hospital menggelar JIH Medical Elevation 2026 di Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Selasa (23/6/2026). Forum ilmiah berskala nasional ini menghadirkan pakar internasional dan nasional untuk membahas perkembangan terkini penanganan penyakit langka dan penyakit jantung pada anak.
Kegiatan ini menghadirkan pembicara utama Georgia Sarquella-Brugada, MD, PhD, Head of Pediatric Cardiology Service SJD Barcelona Children's Hospital; dr. Oktavia Liyasari, Sp.JP(K), Pediatric Cardiology & Congenital Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita; serta dr. Erika Maharani, Sp.JP(K), Chairperson of the Indonesian Heart Rhythm Society (InAHRS).
Chief Executive Officer PT Unisia Medika Farma-Rumah Sakit JIH, Bambang Pediantoro, mengatakan kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-20 RS JIH yang akan diperingati pada Agustus 2026. Ia menceritakan, kerja sama ini berawal dari kunjungan RS JIH ke sejumlah rumah sakit di Eropa pada September 2025.
Saat itu, tim RS JIH mengunjungi SJD Barcelona Children's Hospital yang dikenal sebagai salah satu rumah sakit anak terbaik di Eropa maupun dunia.
"Sehingga kita merasa apa yang kita lihat dan dapatkan di sana itu rugi kalau kita enggak share, kita bawa ke Jogja," ucapnya.
Ia mengaku terkesan dengan SJD Barcelona Children's Hospital yang secara khusus memosisikan diri sebagai pusat penanganan berbagai penyakit langka pada anak. Menurutnya, komitmen tersebut tercermin dalam pelayanan yang diberikan secara konsisten oleh seluruh unsur rumah sakit.
Lebih lanjut, ia berharap kegiatan ini dapat berkontribusi nyata bagi pengembangan layanan kesehatan anak, khususnya dalam penanganan penyakit langka dan penyakit jantung, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi kesehatan antara Indonesia dan komunitas medis internasional.
"Harapannya dari seminar hari ini, kita bisa bertukar ilmu, bertukar experience, dan memberikan manfaat yang luar biasa bagi kerja sama dari kedua rumah sakit," paparnya.
Dalam paparannya, Georgia Sarquella menerangkan tentang sindrom Brugada di Asia Tenggara, terutama di Thailand, Indonesia, dan Filipina. Menurutnya, di Indonesia sindrom ini dikenal masyarakat dengan istilah "ketindihan genderuwo", sedangkan di Filipina dikenal sebagai "bangungot".
Ia menduga sindrom tersebut berkaitan dengan faktor genetik. Meski setiap negara memiliki istilah yang berbeda, cerita yang berkembang di masyarakat hampir sama, yakni tentang sosok yang datang pada malam hari seolah menghalangi seseorang untuk bernapas hingga menyebabkan kematian.
Menurutnya, sindrom Brugada telah dideskripsikan dalam berbagai buku kuno di Asia Tenggara.
"Karena sindrom Brugada pada awalnya, polanya tercermin merupakan pola EKG tipe 1, yang merupakan satu-satunya pola yang bersifat diagnostik," jelasnya.
Sementara itu, dr. Erika Maharani menjelaskan tentang sindrom kematian aritmia mendadak (sudden arrhythmic death syndrome) pada pasien berisiko tinggi yang sering dianggap sebagai kematian yang tidak dapat diprediksi.
Ia menyebut sejumlah kasus sindrom kematian aritmia mendadak pada usia muda menunjukkan adanya tanda awal, seperti riwayat pemeriksaan kesehatan atau temuan EKG yang sudah abnormal sebelum kematian terjadi.
"Oleh karena itu, saya rasa tantangannya adalah bagaimana mengenali petunjuk yang bermakna, bahwa pasien ini akan mengalami kejadian fatal atau henti jantung mendadak," paparnya.
Kemudian, dr. Oktavia Liyasari menjelaskan prevalensi penyakit jantung bawaan masih cukup tinggi, yakni secara global mencapai 8–10 per 1.000 kelahiran hidup. Artinya, setiap 100 bayi yang lahir terdapat satu bayi dengan penyakit jantung bawaan. Sementara di Indonesia, berdasarkan skrining nasional tahun ini, angkanya jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata global maupun kawasan Asia Pasifik.
"Kita dapat berkisar antara 2,14%. Artinya, setiap 100 bayi lahir, ada 2 yang dengan penyakit jantung bawaan. Sehingga di Indonesia kalau kita bisa perkirakan, mungkin bisa sekitar 80.000 bayi per tahunnya lahir dengan penyakit jantung bawaan," tuturnya.
Di Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan sumber daya yang masih terbatas, jumlah pusat layanan yang mampu menangani penyakit jantung bawaan secara menyeluruh, mulai dari diagnosis hingga terapi, masih sangat sedikit.
"Kita masih sedikit sekali center yang bisa mengerjakan secara lengkap tata laksana ataupun dari diagnosis sampai dengan tata laksana untuk penyakit jantung bawaan." (Advertorial)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

10 hours ago
6

















































