
Dolar Amerika Serikat - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin sore tercatat mengalami pelemahan sebesar 39 poin atau 0,22 persen, sehingga berada di level Rp17.843 per dolar Amerika Serikat (AS), turun dari posisi sebelumnya Rp17.804 per dolar AS. Kondisi ini menjadi sorotan pelaku pasar seiring meningkatnya ketidakpastian global yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Tekanan terhadap rupiah pada perdagangan kali ini tidak terlepas dari sentimen eksternal, terutama pernyataan Presiden AS Donald Trump yang memunculkan kekhawatiran terkait potensi aksi militer di Lebanon. Situasi geopolitik tersebut dinilai meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan memicu reaksi hati-hati di pasar keuangan global.
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan ini disebabkan pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait potensi aksi militer di Lebanon.
“Sentimen pasar terguncang setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan Iran tentang potensi aksi militer tambahan kecuali Iran mengambil langkah untuk mengendalikan kelompok Hizbullah yang beroperasi di Libanon. Komentar tersebut muncul ketika Wakil Presiden ASD JD Vance membuka babak baru pembicaraan diplomatik dengan perwakilan Iran di Swiss,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.
Di tengah ketegangan tersebut, pasar juga mencermati perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss. Dalam pertemuan itu, Iran disebut memperoleh pengecualian untuk ekspor minyak dan petrokimia, yang kemudian meredakan kekhawatiran terkait potensi gangguan pasokan energi global sekaligus menekan harga minyak mentah dunia.
Pembicaraan tingkat tinggi antara pejabat Amerika Serikat dan Iran tersebut telah memasuki putaran awal yang dimulai sejak Minggu (21/6), sebagai tindak lanjut dari nota kesepahaman pekan sebelumnya yang bertujuan memperpanjang gencatan senjata rapuh yang telah berlangsung sejak April, setidaknya untuk 60 hari ke depan.
Kementerian Luar Negeri Iran menyebut bahwa dalam perundingan di Swiss tersebut telah dicapai “kemajuan yang baik”, sementara mediator dari Qatar dan Pakistan juga menyampaikan bahwa para pihak telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan yang lebih luas di masa mendatang.
Dari sisi lain, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada rilis data ekonomi Amerika Serikat dalam pekan ini, khususnya estimasi akhir Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal pertama 2026 serta Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), yang menjadi indikator inflasi favorit The Federal Reserve untuk membaca arah kebijakan suku bunga berikutnya.
“Perhatian pasar pada data ekonomi AS minggu ini, terutama pada perkiraan terakhir angka Produk Domestik Bruto (PDB) untuk kuartal pertama tahun 2026 dan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (PCE), ukuran inflasi pilihan The Fed akhir pekan ini untuk petunjuk baru tentang arah kebijakan moneter,” ungkap Ibrahim.
Sementara itu, nilai tukar rupiah berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru menunjukkan penguatan tipis ke level Rp17.819 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.826 per dolar AS, mencerminkan adanya perbedaan arah pergerakan antara pasar spot dan acuan resmi Bank Indonesia pada hari yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

8 hours ago
5

















































