Save the Children: 110 Desa di Sulsel Kini Miliki Sistem Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat

3 hours ago 3

KabarMakassar.com — Save the Children Indonesia menggelar Cocoa Project Learning Event: Memampukan Perempuan dan Menguatkan Perlindungan Anak dalam Mewujudkan Ketahanan Keluarga pada Selasa (31/03).

Berlokasi di Hotel Arya Duta Jalan Somba Opu Nomor 297, kegiatan ini menjadi langkah untuk memperkuat upaya bersama dalam mendukung perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di komunitas kakao yang berada di Sulawesi Selatan (Sulsel).

Agenda ini melibatkan ratusan peserta yang terdiri dari perwakilan Kementerian terkait, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, Kabupaten Luwu Timur, Luwu Utara, Soppeng, Maros, Gowa, Bone, Wajo, Kota Makassar, sektor swasta, organisasi pembangunan, organisasi masyarakat sipil, akademisi, media, hingga perwakilan komunitas program.

Sejak tahun 2020, Save the Children Indonesia telah bekerja sama dengan mitra strategis seperti Mars Indonesia, Konsorsium GrowAsia, PISAgro, Mars, dan Save the Children dengan dukungan GIZ melalui Program GrowHer Kakao di Luwu Utara dan Luwu Timur, Cargill melalui Program Empower dan mitra lainnya di Bone, Soppeng dan Wajo.

Dimana ini sebagai upaya membangun pemenuhan hak-hak dan perlindungan anak berbasis masyarakat dan memperkuat hak-hak perempuan di wilayah penghasil kakao.

Ditegaskan bahwa kunci dalam program ini adalah semangat pelokalan. Save the Children Indonesia berkolaborasi dengan mitra lokal seperti Sulawesi Cipta Forum dan Perkumpulan Wallacea, LPP Bone dan Yayasan Wadjo, untuk memastikan agar setiap inisiatif yang diambil benar-benar sesuai dengan konteks dan kebutuhan komunitas lokal.

Para mitra berperan penting dalam memastikan bahwa program ini tumbuh dari aspirasi komunitas lokal agar dapat terus berlanjut secara mandiri.

Senior Director Advocacy Campaign & Government Relations, Tata Sudrajat, mengatakan, kesempatan kali ini diperuntukkan agar kolaborasi program yang dilakukan dapat tersampaikan kepada publik.

“Mengenai pembelajaran bagaimana kita meningkatkan kemampuan perempuan, dan anak-anak. Karena ini sangat penting bagaimana ibu-ibu juga bisa terlibat di dalam ekonomi rumah tangga dan peluang-peluang kegiatan usaha mereka,” ucapnya.

Presiden MARS, Marlyn Patta Sumbang, mengatakan, pihaknya berharap model kolaborasi untuk kakao ini mampu menjadi inspirasi bagi komunitas lain, tidak hanya di Sulawesi Selatan, tapi juga di seluruh Indonesia.

“Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berjalan bersama kami. Mari terus bekerja sama untuk membangun rantai pasok kakao yang inklusif, dan berkelanjutan, dimana hak anak-anak terlindungi dan perempuan berdaya,” imbuhnya.

Senior Manager Agriculture Portofolio Lead Save the Children Indonesia, Ihwana Mustafa, mengatakan, cokelat yang masyarakat nikmati seharusnya tidak menyisakan pahit bagi masa depan anak-anak.

“Melalui kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat, kami telah membuktikan bahwa penguatan sistem perlindungan anak berbasis komunitas dan pemberdayaan ekonomi perempuan adalah kunci untuk mendukung kesejahteran anak-anak di rantai pasok kakao,” ucapnya.

Regional Manager – Programs, GrowAsia, Paramita Mentari Kesuma, mengaku bangga melihat transformasi nyata pada anak-anak dan perempuan di Sulawesi Selatan.

“Kami percaya bahwa keberhasilan bisnis komoditas global tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan komunitas petani kakao,” ujarnya.

Keberhasilan Model GrowHer Kakao diharapkan dapat direplikasi pada lintas komoditas lain dan wilayah, bukan hanya di Indonesia tapi di kawasan Asia Tenggara.

Mewakili Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) (DP3A-Dalduk KB) Provinsi Sulsel, Meisy Papayungan, menyampaikan, pihaknya mengapresiasi kolaborasi yang telah dilakukan.

“Terutamanya karena memperkuat perlindungan anak dan pemberdayaan perempuan di sektor kakao. Upaya ini sejalan dengan prioritas provinsi untuk mewujudkan Sulsel yang ramah anak dan sejahtera,” ucapnya.

Ia menyebut jika integrasi kelompok PATBM dan VSLA ke dalam struktur desa adalah langkah konkret menuju kemandirian masyarakat yang harus terus didukung bersama.

“Agar dampaknya meluas ke seluruh kabupaten penghasil komoditas di wilayah Sulsel,” paparnya.

Tercatat, pada sisi perlindungan anak, program ini telah berhasil melahirkan 110 kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang tersebar di 110 desa.

Sementara dari sisi pemberdayaan perempuan, program ini telah menanamkan kemandirian finansial yang kuat melalui pembentukan 423 Kelompok Simpan Pinjam Desa (VSLA) yang tersebar di 5 kabupaten dengan akumulasi dana simpanan mencapai lebih dari 15 miliar serta lebih dari 100 kelompok usaha mikro.

Navigasi pos

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news