Slank. - Harian Jogja - ist
Harianjogja.com,JOGJA—Kenaikan PPN 12 persen kembali jadi sorotan publik, kali ini disuarakan lewat lagu satir dari Slank yang menyinggung langsung beban ekonomi masyarakat. Kritik ini terasa dekat bagi warga yang merasakan tekanan biaya hidup di tengah ketidakpastian ekonomi.
Lagu berjudul “PPN 12%” yang dirilis pada 17 April 2026 itu langsung memantik diskusi, terutama karena isi liriknya menyentil kebijakan pajak sekaligus menyoroti potensi pemasukan negara yang dinilai belum dimaksimalkan.
Slank memilih jalur musik untuk menyuarakan keresahan yang juga dirasakan banyak masyarakat, khususnya terkait rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen. Lagu ini tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga refleksi kondisi ekonomi yang dirasakan publik saat ini.
Alih-alih menyampaikan kritik secara langsung, grup band legendaris ini menggunakan pendekatan satir yang tajam. Liriknya menggambarkan ketimpangan antara beban pajak yang ditanggung masyarakat dengan potensi pemasukan negara dari sektor lain yang belum tergarap optimal.
Salah satu sorotan utama dalam lagu ini adalah perputaran dana dari aktivitas ekonomi ilegal, seperti judi online, yang disebut mencapai angka fantastis hingga ratusan triliun rupiah. Slank menilai dana tersebut justru mengalir ke luar negeri tanpa memberikan kontribusi bagi negara.
Lirik yang ditulis oleh drummer Slank, Bimbim, menggambarkan fenomena judi online yang menurut data PPATK mencapai angka Rp600 triliun. Dalam narasinya, Slank mempertanyakan mengapa potensi dana sebesar itu dibiarkan lari ke 20 negara lain, sementara rakyat domestik harus menghadapi ancaman kenaikan PPN.
Melalui kritik tersebut, Slank juga menyentil wacana legalisasi sektor-sektor yang selama ini dianggap tabu. Mereka menilai, jika dikelola dan dipajaki dengan baik, sektor tersebut justru bisa menjadi sumber pemasukan negara yang signifikan tanpa harus membebani masyarakat luas.
Pendekatan ini sekaligus membuka diskusi mengenai keadilan fiskal, di mana masyarakat kecil kerap menjadi pihak yang paling terdampak kebijakan, sementara potensi besar dari sektor lain belum dimanfaatkan secara maksimal.
Di sisi lain, Slank juga menunjukkan adaptasi terhadap perkembangan teknologi dalam industri musik. Video musik lagu “PPN 12%” yang diunggah melalui kanal YouTube Musik Slank sepenuhnya dibuat menggunakan teknologi Artificial Intelligence (AI).
"Video musik ini 100% hasil AI (Artificial Intelligence),” tulis keterangan resmi dalam unggahan video tersebut.
Visual berbasis kecerdasan buatan itu menghadirkan gambaran yang disebut sebagai fiksi, namun memiliki kemiripan dengan kondisi nyata di masyarakat. Pesan yang disampaikan pun tetap kuat, meski dikemas dalam format visual yang modern.
“Dan kalau ada yang tersindir santai aja ya, mungkin itu kode buat introspeksi. Enjoy the music. Jangan serius-serius amat,” lanjut pernyataan resmi dari band tersebut.
Selain judi online, Slank juga menyinggung potensi komoditas lain seperti ganja yang telah dilegalkan di sejumlah negara. Mereka mencontohkan bisnis milik Mike Tyson yang mampu menghasilkan jutaan dolar, sebagai perbandingan dengan potensi serupa di dalam negeri yang belum dimanfaatkan.
Dalam konteks lokal, Aceh disebut memiliki peluang besar jika sektor tersebut dikelola secara resmi. Kritik ini memperlihatkan bagaimana potensi ekonomi yang ada justru belum sepenuhnya dimaksimalkan untuk kepentingan negara.
Indonesia sendiri disebut menempati peringkat ke-12 dunia dengan pendapatan dari sektor-sektor tertentu yang mencapai 2,25 miliar dolar.
Melalui penggalan lirik "Mending kita pajakin mereka, Karna dulu itu tabu, Skarang semua orang tahu, Jangan bebani rakyat, Legalkan saja mereka", Slank menegaskan pesan utama mereka tentang pentingnya mencari sumber pendapatan alternatif tanpa terus menambah beban masyarakat, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan hingga kini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

1 hour ago
2

















































