
Pengendara motor melewati jalanan di area Tebing Banggi, Dukuh Taring, Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Kamis (25/6/2026). (Solopos/Ni’matul Faizah)
Harianjogja.com, BOYOLALI— Di balik jalur berkelok lereng Merapi di Boyolali, tersimpan sebuah destinasi yang belum banyak tersentuh wisata massal: Tebing Banggi. Berada di Desa Wonodoyo, Kecamatan Cepogo, lokasi ini menawarkan lanskap dramatis berupa tebing tinggi, jurang alami, serta hamparan hijau yang memanjakan mata.
Berada di ketinggian sekitar 1.100–1.200 meter di atas permukaan laut, Tebing Banggi menghadirkan sensasi berbeda dibanding destinasi wisata populer lainnya. Kabut tipis yang kerap turun, terutama selepas hujan, menciptakan suasana magis yang membuat siapa pun betah berlama-lama.
Untuk mencapai lokasi ini, pengunjung bisa memulai perjalanan dari Pasar Sayur Cepogo menuju Desa Gedangan, lalu melanjutkan ke arah barat hingga Desa Wonodoyo. Aksesnya kini semakin mudah karena sudah bisa dijangkau kendaraan dan terhubung langsung melalui aplikasi navigasi digital.
Sekretaris Desa Wonodoyo, Sihono, menjelaskan kawasan Tebing Banggi berada di Dukuh Taring. Tebing-tebing di lokasi ini memiliki ketinggian antara 70 hingga 100 meter, dengan jurang sedalam kurang lebih 30 meter yang dikenal sebagai Jurang Banggi—asal mula nama kawasan tersebut.
Menariknya, jalur di kawasan ini baru terbuka pasca-erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Sebelumnya, akses hanya berupa jalan setapak yang dilalui пешjalan kaki. Setelah bencana tersebut, pemerintah desa membangun jembatan penghubung yang kini menjadi jalur tembus antara wilayah selatan dan utara jurang.
Keindahan alamnya membuat Tebing Banggi kerap dijadikan lokasi berburu foto estetik hingga produksi konten kreatif. Mulai dari video klip hingga proyek film mahasiswa seni pernah mengambil gambar di lokasi ini. Tak heran jika tempat ini juga mulai dilirik komunitas pesepeda hingga pengendara motor, termasuk moge, yang menjadikan jalur ini sebagai rute favorit.
Meski memiliki potensi besar, pengelolaan wisata Tebing Banggi masih menghadapi tantangan, terutama dari sisi pembiayaan dan konsep pengembangan. Saat ini, kawasan tersebut masih berfungsi sebagai jalan umum yang menghubungkan antar-dukuh.
Di sisi lain, daya tarik Tebing Banggi justru terletak pada kealamiannya. Seperti yang dirasakan Naufal Firmansyah, wisatawan asal Solo, yang mengaku datang karena penasaran setelah melihat media sosial.
“Tempatnya sepi, adem, dan pemandangannya luar biasa. Sangat berbeda dengan suasana kota,” ujarnya.
Tebing Banggi kini menjadi alternatif destinasi bagi pencari ketenangan sekaligus pemburu lanskap eksotis. Dengan pengembangan yang tepat, bukan tidak mungkin lokasi ini akan menjadi ikon wisata baru di lereng Merapi Boyolali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : espos.id
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

3 hours ago
3

















































