KLIKPOSITIF- Lamang menjadi salah satu menu khas yang selalu hadir saat Lebaran di Minangkabau. Hidangan berbahan dasar beras ketan ini tidak pernah absen, termasuk di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Bagi masyarakat, lamang bukan sekadar makanan, tetapi sudah menjadi bagian dari tradisi turun-temurun.
Menjelang Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah, tepatnya Kamis (19/3/2026), suasana di Kampung Ganting Kubang, Nagari Kambang Utara, Kecamatan Lengayang, terlihat sibuk. Aktivitas ini dilakukan masing-masing di rumah mulai dari menyiapkan bahan hingga proses pembakaran.
Tokoh masyarakat setempat, Ustad Yunigo Herliyo, S.Pd, mengatakan tradisi memasak lamang sudah diwariskan sejak lama. Tradisi ini terus dijaga hingga sekarang, terutama saat menyambut hari besar Islam.
“Masak lamang ini sudah menjadi tradisi dari nenek moyang dulunya, terutama saat menyambut hari besar Islam,” ungkapnya.
Menurutnya, lamang bukan hanya sekadar hidangan. Ada nilai kebersamaan yang kuat di dalamnya. Masyarakat biasanya memasak lamang bersama keluarga, bahkan melibatkan tetangga sekitar.
“Selain menjadi momen keluarga, juga menjadi menu khas saat menyambut dusanak kerabat saat Idulfitri,” tambahnya.
Setiap Lebaran, lamang hampir selalu tersedia di setiap rumah. Hidangan ini disajikan untuk keluarga, sekaligus menjamu tamu yang datang bersilaturahmi. Karena itu, tradisi memasak lamang masih terus dipertahankan hingga kini.
Proses pembuatannya pun masih menggunakan cara tradisional. Beras ketan dicampur dengan santan kelapa, daun pandan, dan sedikit garam. Campuran tersebut kemudian dimasukkan ke dalam bambu yang sudah dilapisi daun pisang.
Setelah itu, bambu dibakar dengan posisi berdiri dan disandarkan pada penyangga. Proses pembakaran menggunakan kayu atau sabut kelapa. Waktu yang dibutuhkan cukup lama, bisa mencapai empat jam hingga matang sempurna.
Menurut Ustad Yunigo, lamang menjadi salah satu hidangan yang paling dinanti saat Lebaran. Terutama saat tradisi makan bajamba setelah Salat Idulfitri.
“Saat makan bajamba usai Salat Ied, lamang pasti ada. Memang sudah menjadi khas,” katanya.
Hal senada juga disampaikan Nurimas (55), warga setempat. Ia mengaku selalu terlibat dalam tradisi memasak lamang setiap tahun.
“Masak lamang ini rutin kami lakukan, terutama saat menyambut Idulfitri,” ujarnya.
Ia menambahkan, lamang tidak hanya untuk dikonsumsi keluarga. Makanan ini juga disiapkan untuk tamu yang datang ke rumah.
“Nanti dimakan bajamba setelah Salat Ied, dan juga untuk menyambut tamu yang datang ke rumah,” jelasnya.
Bagi masyarakat setempat, tradisi memasak lamang bukan hanya soal kuliner. Lebih dari itu, ada nilai gotong royong yang terus dijaga. Proses memasak yang melibatkan banyak orang menjadi momen kebersamaan yang sulit tergantikan.
“Inilah yang membuat tradisi lamang tetap bertahan, karena ada kebersamaan di dalamnya, bukan sekadar hasil akhirnya saja,” tutupnya.

6 hours ago
3

















































