Harianjogja.com, WASHINGTON—Presiden Donald Trump menyatakan optimisme bahwa konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran hampir mencapai titik akhir. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara dengan media Fox Business yang dijadwalkan tayang Rabu.
“Saya pikir ini hampir berakhir. Saya melihat situasinya sudah sangat dekat dengan penyelesaian,” ujar Trump kepada pembawa acara Maria Bartiromo, sebagaimana dikutip dari cuplikan wawancara yang beredar di media sosial.
Trump bahkan mengklaim bahwa Iran akan membutuhkan waktu sangat lama untuk memulihkan diri jika konflik berhenti saat ini. Ia juga menilai Teheran berada dalam posisi yang mendorong mereka untuk segera mencapai kesepakatan damai.
Negosiasi Masih Buntu
Meski demikian, upaya diplomasi belum menunjukkan hasil konkret. Perundingan yang digelar di Islamabad pada akhir pekan lalu belum menghasilkan kesepakatan permanen untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026.
Trump menyebut peluang perundingan lanjutan masih terbuka dan bahkan bisa kembali digelar dalam waktu dekat. “Sesuatu bisa terjadi dalam dua hari ke depan,” katanya dalam wawancara terpisah dengan media AS.
Namun, pernyataan Trump terkait lokasi perundingan sempat berubah. Ia semula menyebut Pakistan sebagai lokasi potensial, tetapi kemudian membuka kemungkinan pemindahan ke negara lain. Hal ini menunjukkan dinamika negosiasi yang masih cair.
Peran Pakistan dan Gencatan Senjata
Pakistan sebelumnya berperan penting dalam memediasi gencatan senjata sementara selama dua pekan yang dimulai pada 8 April 2026. Hingga kini, gencatan senjata tersebut masih bertahan, meski situasi di lapangan tetap tegang.
Trump juga menyinggung peran Marsekal Lapangan Asim Munir yang disebut memiliki hubungan baik dengannya dan berkontribusi dalam upaya mediasi konflik.
Meski demikian, seorang pejabat Gedung Putih menegaskan bahwa pembicaraan lanjutan masih dalam tahap pembahasan dan belum ada jadwal resmi yang ditetapkan.
Dampak Global dan Kritik Eropa
Konflik yang melibatkan tiga negara tersebut telah berdampak luas terhadap stabilitas global, terutama di sektor energi. Blokade yang terjadi di Selat Hormuz memicu lonjakan harga minyak dunia karena jalur ini merupakan rute vital bagi distribusi energi global.
Setelah perundingan sebelumnya gagal, Trump bahkan memerintahkan Angkatan Laut AS untuk melakukan blokade di kawasan tersebut. Langkah ini menuai kritik dari sejumlah negara Eropa yang menilai kebijakan tersebut berisiko memperkeruh situasi.
Sebaliknya, Trump justru mengkritik negara-negara Eropa karena tidak terlibat aktif dalam upaya membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Menanti Arah Konflik
Dengan klaim bahwa perang hampir berakhir, perhatian dunia kini tertuju pada kelanjutan negosiasi antara AS dan Iran. Meski ada sinyal optimisme, belum adanya kesepakatan konkret menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih penuh tantangan.
Situasi ini juga menjadi ujian bagi diplomasi internasional, di tengah kepentingan geopolitik dan ekonomi yang saling bertabrakan di kawasan Timur Tengah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

6 hours ago
3

















































