Harianjogja.com, JOGJA—Dorongan pembentukan standar kualifikasi penerjemah lintas negara mencuat dalam forum internasional yang mempertemukan akademisi dan praktisi bahasa dari kawasan Asia. Inisiatif ini dinilai penting untuk memperkuat kualitas layanan bahasa sekaligus menjawab tantangan era kecerdasan buatan.
Dosen Universitas Gadjah Mada, Sajarwa Sukiyo, menegaskan bahwa pembentukan aliansi penerjemahan China–ASEAN perlu ditindaklanjuti dengan langkah konkret berupa standar kompetensi penerjemah di tingkat regional.
"Pendirian China–ASEAN Association of Translation, Interpreting and Communication bagi pengembangan layanan bahasa dan pertukaran antarbudaya antara Indonesia dan Tiongkok sebaiknya dilanjutkan dengan penyusunan standar kualifikasi penerjemah di tingkat ASEAN dan China. Sehingga perlu ada langkah konkret ke depan," kata Sajarwa Sukiyo saat konferensi di Xiamen University Malaysia, Sabtu (18/4/2026).
Ia menilai Indonesia memiliki peluang untuk mulai menyusun draf standar tersebut dengan mengacu pada model yang telah dikembangkan oleh ASEAN University Network. Standarisasi dinilai penting untuk menjaga kualitas penerjemah di tengah meningkatnya kebutuhan komunikasi lintas budaya.
Selain itu, Sajarwa juga mendorong penguatan kerja sama internasional yang lebih nyata, seperti pertukaran dosen dan mahasiswa serta kuliah bersama secara daring di lingkungan China-ASEAN.
Dalam konteks yang lebih luas, ia menyoroti posisi Indonesia sebagai ekonomi terbesar di ASEAN sekaligus mitra strategis dalam inisiatif Belt and Road Initiative. Ia menilai hal itu membuka peluang kolaborasi lintas sektor, mulai dari diplomasi budaya hingga penguatan UMKM.
"Banyak masyarakat Indonesia masih mengaitkan China hanya dengan perdagangan dan teknologi. Di sisi lain komunikasi lintas budaya tentu akan memperluas pemahaman itu," ujarnya.
Aliansi Penerjemahan, Penjurubahasaan, dan Komunikasi China–ASEAN yang diprakarsai oleh Xiamen University bersama lebih dari 10 lembaga dari berbagai negara, termasuk Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam, kini memiliki sekretariat di College of Foreign Languages and Cultures, Xiamen University.
Kehadiran aliansi ini menandai babak baru kerja sama penerjemahan dan komunikasi lintas budaya di kawasan, sekaligus menjadi pijakan awal menghadapi tantangan dan peluang di era kecerdasan buatan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara

5 hours ago
4
















































