Waspada Batu Ginjal, Ini Gejala dan Cara Cegahnya

2 hours ago 2

Waspada Batu Ginjal, Ini Gejala dan Cara Cegahnya

Foto ilustrasi (@unomat dari iStockphoto)

Harianjogja.com, JAKARTA— Konsultan asosiasi urologi di Manipal Hospital, Bhubaneswar, Dr. Sarbjit Mohapatra mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko batu ginjal yang kerap muncul tanpa gejala di awal. Kondisi ini terjadi akibat endapan mineral yang mengkristal di dalam ginjal dan dapat memicu gangguan serius jika tidak ditangani.

Menurut Dr. Sarbjit Mohapatra, salah satu pemicu utama batu ginjal adalah dehidrasi. Saat tubuh kekurangan cairan, volume urine menurun sehingga mineral dalam urine menjadi lebih pekat dan mudah membentuk kristal.

“Ketika tubuh banyak berkeringat tetapi tidak diimbangi asupan cairan yang cukup, risiko batu ginjal meningkat,” ujarnya seperti dikutip dari Hindustan Times, Jumat (26/6).

Ia juga menyoroti peningkatan kasus batu ginjal saat musim panas. Aktivitas di bawah paparan panas, konsumsi makanan asin, kebiasaan minum teh atau kopi tanpa cukup air, hingga menahan buang air kecil menjadi faktor yang memperbesar risiko.

Selain dehidrasi, terdapat sejumlah faktor lain yang berkontribusi, seperti pola makan tinggi garam, konsumsi protein hewani berlebihan, infeksi saluran kemih (ISK), riwayat keluarga, obesitas, hingga riwayat batu ginjal sebelumnya. Penggunaan suplemen kalsium atau vitamin C tanpa pengawasan medis serta penyakit seperti asam urat juga turut meningkatkan risiko.

Gejala Sering Terlambat Disadari

Batu ginjal kerap berkembang tanpa tanda yang jelas. Gejala biasanya baru muncul saat batu mulai bergerak atau menyumbat saluran kemih.

Keluhan yang umum dirasakan antara lain nyeri hebat di bagian samping atau punggung, nyeri menjalar ke selangkangan, sensasi terbakar saat buang air kecil, hingga urine yang bercampur darah. Selain itu, penderita juga dapat mengalami mual, muntah, frekuensi buang air kecil meningkat, serta demam dan menggigil.

Dr. Sarbjit Mohapatra menegaskan, ada pula gejala yang lebih halus tetapi tidak boleh diabaikan, seperti produksi urine berkurang, muntah hebat, atau nyeri yang tidak mereda meski sudah minum obat.

Kelompok tertentu perlu lebih waspada, seperti ibu hamil, penderita diabetes, lansia dengan demam, hingga individu yang hanya memiliki satu ginjal atau memiliki riwayat batu ginjal berulang.

Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan

Untuk menekan risiko, Dr. Sarbjit Mohapatra menyarankan pola minum air putih yang cukup dan teratur sepanjang hari. Ia bahkan merinci pembagian waktu konsumsi air, mulai dari pagi hingga malam, agar tubuh tetap terhidrasi optimal.

Selain itu, masyarakat disarankan membatasi asupan garam karena dapat meningkatkan kadar kalsium dalam urine. Konsumsi makanan kemasan, camilan asin, dan makanan cepat saji sebaiknya dikurangi.

Menariknya, ia mengingatkan bahwa pola makan rendah kalsium justru tidak selalu baik. Kekurangan kalsium dapat meningkatkan penyerapan oksalat yang berpotensi membentuk batu ginjal.

Air lemon disebut dapat membantu karena kandungan sitratnya, namun bukan sebagai obat utama. Konsumsi protein hewani seperti daging merah dan jeroan juga perlu dibatasi karena dapat meningkatkan kadar asam urat.

Ia menegaskan pentingnya tidak mengandalkan pengobatan rumahan semata. Jika batu ginjal sudah menyumbat, penanganan medis tetap diperlukan.

“Segera konsultasikan dengan ahli urologi jika gejala berlanjut, kambuh, atau disertai demam, nyeri hebat, darah dalam urine, atau penurunan aliran urine,” tegas Dr. Sarbjit Mohapatra.

Dengan deteksi dini dan pola hidup sehat, risiko batu ginjal dapat ditekan sebelum menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Read Entire Article
Jogja News Jogja Politan Jogja Ball Jogja Otote Klik News Makassar news