KLIKPOSITIF — UPTD Taman Budaya Sumatera Barat menggelar Workshop Tari “Ganggam Tari Kontemporer 4” di Taman Budaya Sumatera Barat pada 11-13 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ruang bagi koreografer muda untuk menggali kembali akar budaya Minangkabau melalui karya tari kontemporer bertema “Pulang ke Akar: Membaca Tradisi, Menulis Tubuh”.
Kepala Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, Syaiful Bahri, mengatakan workshop tersebut bukan sekadar pelatihan seni, tetapi juga ruang perjumpaan gagasan dan perawatan ingatan budaya di tengah arus globalisasi.
“Tradisi bukan sesuatu yang usang untuk ditinggalkan, melainkan sumber energi kreatif yang dapat ditafsirkan ulang secara segar dan relevan,” ujarnya saat membuka kegiatan workshop tari tersebut.
Menurutnya, tubuh penari dapat menjadi medium untuk menuliskan kembali nilai-nilai budaya Minangkabau melalui bahasa gerak yang baru dan lebih kontekstual dengan perkembangan zaman. Ia menilai generasi muda memiliki peran penting menjaga identitas budaya daerah agar tetap hidup dan berkembang.
Syaiful menyebut kegiatan itu juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Dalam hal ini, Taman Budaya Sumatera Barat dinilai memiliki posisi strategis sebagai “Bengkel Seni” sekaligus “Etalase Budaya” bagi perkembangan seni pertunjukan di daerah.
Ia berharap workshop tersebut mampu melahirkan karya-karya tari kontemporer yang tidak tercerabut dari akar budaya lokal, sekaligus mampu tampil di tingkat nasional hingga internasional.
“Kebudayaan Minangkabau harus tetap hidup dan bergerak bersama zamannya,” katanya.
Sementara itu, Kepala UPTD Taman Budaya Sumatera Barat, M. Devid, mengatakan workshop tersebut merupakan bagian dari komitmen Taman Budaya dalam membina sekaligus menjaga kreativitas seniman muda Sumatera Barat.
Menurutnya, program Ganggam Tari Kontemporer 4 dirancang untuk memberikan perlindungan dan pelestarian nilai-nilai tradisi melalui karya tari kontemporer yang digarap koreografer muda Sumbar. Ia menegaskan tradisi Minangkabau memiliki sifat dinamis dan mampu beradaptasi tanpa kehilangan ruh budayanya.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa tidak ada jarak antara seni modern dan seni tradisi. Keduanya harus berjalan beriringan, tradisi memberi akar yang kuat, sementara kontemporer berkembang mengikuti zaman,” ujarnya.
Devid menjelaskan workshop diikuti 25 koreografer muda Sumatera Barat yang dipilih melalui seleksi terbuka. Dari proses tersebut nantinya akan dipilih lima koreografer muda untuk menampilkan karya dalam Pergelaran Ganggam Tari Kontemporer 4 pada September 2026.
Ia menambahkan, para peserta akan mendapatkan pembekalan mengenai metode riset budaya, teknik komposisi tari kontemporer, hingga cara mengolah 10 Objek Pemajuan Kebudayaan menjadi konsep karya pertunjukan.
“Peserta tidak hanya diminta menciptakan gerak tari, tetapi juga melakukan riset budaya di daerah masing-masing agar setiap karya memiliki ciri khas kedaerahan yang kuat,” katanya.

3 hours ago
4


















































